Sorotan

Gabo, Halberstam, dan Terbitnya Gagasan

Dari mana ide datang? Orang seringkali penasaran dan ingin tahu bagaimana otak para penulis bekerja. Bagaimana Ernest Hemingway bisa menulis novel The Old Man and The Sea yang kemudian membuatnya dianugerahi penghargaan Nobel pada 1954 dan Pulitzer untuk kategori karya fiksi? Bagaimana Gabriel Garcia Marquez bisa memperoleh ilham untuk menulis karakter-karakter dalam 12 cerita pendek Strange Pilgrims?

Tak hanya karya fiksi. Orang juga penasaran bagaimana bisa John Hersey, seorang wartawan dan novelis, menulis reportase panjang tentang kehancuran kota Hiroshima karena dibom atom, dan menjadikannya sebagai karya jurnalisme sastrawi terbaik abad lalu. Bagaimana Gay Talese menulis tentang profil Frank Sinatra tanpa harus mewawancarai Sinatra?

Orang mungkin mengira, ide berasal dari awang-awang, khayali dan imajinasi yang melip. Saya tidak tahu, mungkin mereka melihat figur-figur komik macam Superman, Batman, Spiderman, dan cerita-cerita pahlawan super bertopeng dengan kekuatan adikodrati. Mungkin mereka juga membaca Doraemon, komik kesukaan Presiden Joko Widodo.

Mungkin

Namun Gabo, sapaan akrab Marquez, pernah mengeluh: masalah terbesarnya sebagai penulis adalah kurangnya imajinasi. “Jika hidup tidak memberi saya fakta, saya tidak mampu menciptakan fakta,” katanya dalam sebuah wawancara dengan Harvard Advocate, yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Circa.

Gabo menyatakan, semua karyanya berdasarkan kehidupan nyata. “Saat seorang penulis menulis hal-hal yang benar-benar terjadi pada masyarakat maka manusia seluruh dunia ingin mendengarnya, terlepas dari budaya, rasa, atau bahasa,” katanya.

Proses penulisan Strange Pilgrims memakan waktu 18 tahun berdasarkan pengalaman nyata orang-orang Amerika Latin yang tinggal di Eropa. Dalam pengantarnya, lima dari 12 cerita itu adalah catatan jurnalistik dan naskah drama, serta satu serial televisi.

Sebelumnya, Gabo mengumpulkan 64 ide yang dicatat dengan detail. Ia kemudian memutuskan tidak hendak membuat novel, melainkan kumpulan cerita pendek, yang menurutnya, “based on journalistic facts that would be redeemed from their mortality by the astute devices of poetry.” Ini kombinasi fakta jurnalistik dan seperangkat kelihaian puitis.

Dalam Strange Pilgrims, Gabo mendeskripsikan kota-kota di Eropa berdasarkan kenangannya selama tinggal di sana. Dia kembali pelesir ke Barcelona, Jenewa, Roma, and Paris untuk memverifikasi kenangannya selama 20 tahun. Dia menyebut semua cerita dalam buku itu tersaji, ‘after all its wandering from pillar to post, its struggle to survive the perversities of uncertainty’: setelah melampaui pergulatan ketidakpastian.

Begitu pula Hemingway. Orang sebenarnya tak perlu heran bagaimana dia bisa fasih menulis tentang Santiago, seorang nelayan tua Kuba yang berjuang memancing ikan marlin raksasa jauh di teluk lepas pantai Kuba. Dua puluh tahun sebelum The Old Man and The Sea terbit, ia pernah menerbitkan artikel esai jurnalistik di Majalah Esquire. Tepatnya pada Agustus 1934.

Artikel ini bercerita soal pengalamannya melaut di Kuba, dan ikan marlin memang sudah menarik minatnya. Ia menjelaskan bagaimana ciri-ciri dan kehidupan alam ikan marlin. Artikel ini akan sangat membosankan bagi pembaca yang tak punya minat pada memancing atau ilmu biologi. Namun, dalam The Old Man and The Sea, Hemingway mengubah kisah memancing ikan marlin ini menjadi pelajaran soal hidup.

Ide juga bisa muncul dari kemampuan menangkap peristiwa yang terkesan remeh, seperti yang dilakukan David Halberstam dalam buku The The Teammates: A Portrait of a Friendship. Buku ini bercerita tentang perkawanan empat pemain bisbol Boston Red Sox pada masa tua. Tentang Dominic DiMaggio dan Johnny Pesky yang memutuskan menempuh 1.300 mil perjalanan dengan mobil untuk menjenguk sahabat mereka, Ted Williams, yang sedang sekarat.

Halberstam yang memang mencintai bisbol dan Red Sox membuat karya jurnalisme naratif dahsyat dari sebuah tema yang tak biasa: persahabatan. Dan buku ini membuat kolumnis olahraga koran Boston Globe, Dan Saughnessy, dongkol. Awalnya, pada Oktober 2001, Saughnessy mendengar kabar dari Dick Flavin, seorang pujangga, yang baru saja balik dari perjalanan ke rumah Williams bersama DiMaggio dan Pesky.

Saughnessy menulis untuk kolom pendek di Boston Globe. Halberstam membacanya dan memuji artikel itu. ‘Kamu harus mengubahnya untuk artikel edisi majalah,” katanya kepada Saughnessy yang berusia lebih muda. Ide itu diteruskan oleh Saughnessy dan tidak ada yang merespons di ruang redaksi.

Halberstam mencium ‘daging’ dalam ide cerita itu. Ia menemui editornya dan menyampaikan ide soal persahabatan empat pemain bisbol tersebut untuk buku barunya. “Sekali Anda punya ide, itu mengalir begitu saja,” katanya.

“Ini mungkin nasihat terbaik yang bisa saya tawarkan. Mengambil sebuah gagasan, poin sentralnya, mengejarnya, dan mengubahnya menjadi sebuah cerita yang mengisahkan sesuatu tentang bagaimana hidup yang kita jalani hari ini – atau dalam kasus ini, tentang bagaimana kita biasanya menjalani hidup – adalah esensi jurnalisme naratif… menulis Teammates benar-benar sebuah murni sebuah kesenangan,” katanya.

Sementara itu, John Hersey menunjukkan bagaimana gagasan bisa muncul dari karya penulis lainnya. Saat berangkat ke Hiroshima dengan kapal, ia sama sekali belum punya ide apa yang hendak ditulisnya dan bagaimana menuliskannya. Setahun sebelumnya Hiroshima hancur lebur dihajar bom atom Amerika Serikat. Jepang menyerah.

Ide tentang struktur narasi muncul setelah Hersey membaca The Bridge of San Luis Rey karya Thornton Wilder yang terbit pada 1927. Dia kemudian memilih enam narasumber untuk menggambarkan bagaimana peristiwa pengeboman Hiroshima dan dampaknya berdasarkan pengalaman personal masing-masing.

Seperti kata Gay Talese, seorang jurnalis naratif: ‘jurnalisme naratif adalah cerita tentang orang-orang biasa’. Dan ia melakukannya untuk artikel legendaris di majalah Esquire: ‘Sinatra Has A Cold’. Artikel ini lahir dari kegagalan Talese mewawancarai Sinatra, sementara tenggat penerbitan semakin dekat.

Sinatra enggan diwawancarai. Suasana hatinya sedang mendung. Tak ada jalan lain. Talese memilih mewawancarai sedikitnya seratus orang narasumber, dan kisah sepanjang 15 ribu kata tentang Sinatra yang sedang pilek itu menjadi bagian dari lahirnya jurnalisme baru: sebuah produk jurnalistik yang bergaya sastrawi atau naratif seperti novel dan cerita pendek.

Gagasan muncul ketika kita bersedia berpikir berbeda dengan kebanyakan orang: selalu penasaran dan ingin tahu. Artikel-artikel yang ditulis Malcolm Gladwell dalam buku What The Dog Saw and Other Adventures adalah manifestasi dari dorongan paling dasar manusia: ingin tahu terhadap apa yang dikerjakan orang sehari-hari dan bagaimana mereka melakukannya.

Ide Gladwell sederhana saja: menuliskan apa yang tidak dipikirkan orang lain pada umumnya. Dia bertemu seorang dog whisperer atau semacam penjinak anjing bernama Cesar Millan. Dia bisa menjinakkan hewan yang paling bermasalah hanya dengan sentuhan tangan. Gladwell penasaran: apa yang sebenarnya dipikirkan oleh seekor anjing sehingga tunduk patuh kepada Millan. Apa yang dilihat anjing itu?

Tentu saja Gladwell tidak bisa mewawancarai anjing. Dia bukan Nabi Sulaiman. Namun dari ide itu, ia dapat menyusun struktur narasinya dengan detail. Wawancara dan riset menjadi ujung tombak untuk mencari tahu.

“Saya sering ditanya, dari mana Anda memperoleh ide? Saya tidak pernah bisa menjawabnya dengan baik, kata Gladwell.

Namun Gladwell punya kiat yakni meyakinkan diri sendiri bahwa setiap orang dan setiap hal-ihwal selalu mengandung cerita. Ini tidak mudah, walau terlihat sederhana, karena pada dasarnya setiap orang cenderung berasumsi dikotomis: satu hal menarik dan yang lainnya tidak. Orang jarang berpikir bahwa semua hal menarik, dan oleh karena dikotomi itu, kita melakukan seleksi terhadap banyak hal dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari calon istri hingga memilih roti.

Kiat lain menemukan gagasan adalah membedakan kuasa dan pengatahuan. Sebagian besar narasumber Gladwell dalam buku itu justru orang-orang biasa saja, bukan selebritas atau tokoh besar. “You don’t start at the top if you want to find the story. You start in the middle, because it’s the people in the middle who do the actual work in the world,” katanya.

Narasumber dengan cerita bagus tidak selalu berasal dari mereka yang berada di piramida teratas kehidupan, dari mereka yang punya kuasa. Cerita bisa berasal dari kelompok menengah yang melakukan pekerjaan nyata dan bisa bercerita apa adanya. Orang-orang yang punya kuasa cenderung tidak akan berkata sebenarnya, karena mereka punya posisi dan keistimewaan yang harus dilindungi.

Dari Gabo, Hersey, Halberstam, Hemingway, dan Gladwell kita tahu, bahwa pada akhirnya, hidup menyediakan serangkaian kemungkinan dan pengalaman untuk menjadi gagasan. Pertanyaan berikutnya tentu saja: bagaimana mengeksekusi ide, dan biarlah itu menjadi cerita berikutnya bagi setiap orang. [wir/ted]





Apa Reaksi Anda?

Komentar