Sorotan

Habib Rizieq dan Jokowi Waktunya Akur

Ribut Wijoto.

KEBERADAAN FRONT PEMBELA ISLAM (FPI) terus saja menjadi perbincangan publik. Perbincangan dalam koridor debat, silang pendapat, dan saling klaim pembenaran. Kali ini terkait, benar tidaknya, Imam Besar FPI Habib Rizieq dicekal oleh Pemerintah Indonesia.

Ketua Bantuan Hukum FPI Sugito Atmo Prawiro mengklaim pihaknya telah mengirimkan sejumlah bukti pencekalan terhadap Habib Rizieq Shihab kepada Menko Polhukam Mahfud MD. Ia mengaku telah mengirimkan bukti-bukti pencekalan Rizieq kepada Mahfud melalui lewat pesan WhatsApp.

Dari tanah seberang, melalui video YouTube Front TV, Minggu (10/11/2019), Habib Rizieq membenarkan pengiriman surat-surat pencekalan itu. “Jadi kedua surat ini merupakan bukti-bukti nyata, riil, otentik, kalau saya memang dicekal oleh pemerintah Saudi atas permintaan pemerintah Indonesia,” ujar Habib Rizieq.

Bagaimana tanggapan Mahfud MD?

Ternyata, menurut Mahfud MD, itu bukanlah surat pencekalan dari Pemerintah Indonesia. Tetapi, surat pencekalan dari Pemerintah Arab Saudi.

“Itu bukan surat dari pemerintah (Indonesia, red), itu surat penolakan bahwa yang bersangkutan tidak boleh keluar karena alasan keamanan, gitu aja,” ujar Mahfud di kantor Kemenko Polhukam, Jl Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Kamis (14/11/2019).

Mahfud MD berkesimpulan, Habib Rizieq bermasalah dengan Pemerintah Arab Saudi. Bukan dengan Pemerintah Indonesia.

Bukan kali ini saja FPI dengan Pemerintah Indonesia pimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) terlibat saling silang pendapat. Habib Rizieq kerap melontarkan kritik keras terhadap Pemerintahan Jokowi. Sebaliknya, Habib Rizieq sendiri beberapa kali dibikin repot oleh beberapa laporan yang memaksa dia berhadapan dengan penegak hukum. Misalnya kasus dugaan konten pornografi bersama Firza Husein. Juga kasus dugaan penghinaan Pancasila.

Akhir April 2017, Habib Rizieq pergi ke Arab Saudi untuk ibadah Umrah. Hingga saat ini, Habib Rizieq belum pulang ke Indonesia.

Uniknya, walau posisi di luar negeri, Habib Rizieq berperan besar dalam konstestasi Pemilihan Presiden RI tahun 2019 lalu. Dia turut merancang Ijtimak Ulama yang mendorong dukungan terhadap Calon Presiden Prabowo Subianto.

Dukungan nyata dari FPI terhadap Prabowo Subianto itu tidak bertepuk sebelah tangan. Prabowo bahkan sempat melontarkankan janji akan menjemput Habib Rizieq ke Arab Saudi jika terpilih menjadi Presiden RI.

“Dalam ijtimak yang ke-2 saya sudah mengatakan begitu saya menang saya akan mengembalikan Habib Rizieq Shihab kembali. Saya akan kirim pesawat saya sendiri untuk menjemput beliau,” kata Prabowo, Februari 2019.

Tapi Prabowo ternyata kalah dalam Pilpres 2019. Justru, Prabowo diminta Presiden Jokowi untuk mengemban amanat sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan. Dan, dalam sebuah wawancara di media massa, pembantu Prabowo menyatakan bahwa pemulangan Habib Rizieq ke Indonesia bukanlah tugas Menhankam.

Apakah situasi konflik dan silang pendapat ini membuat posisi FPI terjepit? Tunggu dulu.

Sejak berdiri 21 tahun silam, yakni 17 Agustus 1998, FPI telah kenyang dengan situasi konflik. FPI berulang kali, selama bertahun-tahun, berhadapan dengan kelompok lain di masyarakat karena pertentangan nilai agama. Pokok persoalannya, FPI berusaha menegakkan syariat Islamkadang dengan jalan kekerasan. Di pihak lain, ada yang tidak setuju dengan cara FPI. Konflik pun terjadi.

Sejauh ini, konflik-konflik itu dapat dilalui FPI dengan selamat. Sebaliknya, benturan-benturan justru membuat badan FPI semakin mekar dan kaki-kaki FPI kian kokoh.

FPI adalah organisasi yang telah teruji waktu. Presiden Indonesia boleh berganti-ganti tetapi FPI tetap pada jalur yang telah digariskan. FPI mampu melewati era kepempimpinan Presiden Habibie, Presiden Gus Dur, Presiden Megawati, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan sekarang Presiden Jokowi. Walau presiden Indonesia berganti, pengajian FPI tetap saja bergulir secara ajek (rutin).

Benturan (kadang pemikirankadang sampai fisik)terhadap FPI bukan berasal dari satu ada dua kelompok saja. Selama belasan tahun, FPI tercatat pernah berbenturan dengan kolompok Islam moderat, kelompok Islam liberal, kelompok nasionalis, kelompok gay, kelompok agama selain Islam, kelompok etnis keturunan Cina, dan lain-lain. Toh, bukannya susut, cabang-cabang FPI di daerah semakin banyak.

Melihat beragam benturan itu, kasus satu orang, walaupun itu Imam Besar Habib Rizieq, terlalu kecil untuk bisa menjadi penyebab runtuhnya FPI.

FPI adalah organisasi masyarakat (ormas) besar yang sadar dengan kerapian struktur. Memiliki sistem pemilihan dan kurun kepengurusan yang jelas. Pengurus dibentuk tiap 5 tahun sekali. Jika satu pengurus mundur atau berhalangan tetap, secara otomatis, pengurus di bawahnya bakal mengisi kekosongan posisi. Artinya, organisasi tidak berbasis pada ketokohan tetapi pada struktur dan pembagian bidang kerja.

Lihatlah kerapian Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga dari FPI. Mereka memilahnya seperti halnya struktur organisasi modern. Misalnya kepengurusan di Dewan Tanfidzi DPP FPI;ada posisi ketua umum, wakil ketua umum, sekretaris umum, bendahara umum, ketua bidang dakwah, ketua bidang hisbah, ketua bidang jihad, ketua bidang penegakan khilafah, ketua bidang organisasi. Kerapian struktur juga diterapkan pada organisasi FPI di daerah. Selama ini, fungsi-fungsi struktur tersebut bisa berjalan dengan baik.

Sebagai organisasi modern, FPI paham akan perubahan zaman. Perkembangan teknologi tidak membuat FPI gagap. Sebaliknya, FPI dengan nyaman memanfaatkannya. Di sektor teknologi cyber misalnya, FPI memanfaatkannya dengan membuat website. Jemaah FPI gencar bersuara melalui media sosial twitter, facebook, maupun grup whatsapp.

Pengurus FPI juga tidak alergi media massa. Jika sedang dalam pertikaian dengan kelompok lain, pengurus FPI membuka diri dengan wartawan. Bahkan, pengurus berinisiatif menggelar jumpa pers guna mengungkapkan kronologi peristiwa. Tentu saja kronologi versi FPI.

Mengapa FPI bisa bertahan ditempa zaman? Kerapian organisasi sebenarnya bukanlah jawaban utama. Faktor fundamen dari ketahanan FPI adalah sesuatu yang bersifat transendental. Melampaui batas keduniawian, yakni hubungan manusia dengan tuhannya.

Roda organisasi FPI digerakkan oleh spirit surgawi. Mereka bergerombol jalan kaki teriak-teriak di panas yang terik, mereka memblokir tempat pertemuan kaum gay, berduyun-duyun mendatangi sidang Ahok, mereka keluar masuk swalayan yang berjualan minuman keras, mereka rutin mengajikitab suci Alquran, menggelar acara dakwah; kesemuanya demi kehidupan yang lebih baik di akhirat nanti. Kehidupan seperti yang dijanjikan oleh agama Islam.

Sejak berdiri 21 tahun silam, FPI mengaku akan berjuang untuk ‘Penerapan Syariah Islam dan Penegakan Khilafah melalui jalan da’wah, hisbah dan jihad sesuai dengan Manhaj Nubuwwah’. FPI bermaksud menegakkan amar ma´ruf nahi munkar secara káffah di segenap sektor kehidupan, dengan tujuan menciptakan umat sholihat yang hidup dalam baldah thoyyibah dengan limpahan keberkahan dan keridhoan Allah ´Azza wa Jalla.

Harus diakui, banyak pihak mencibir pola pergerakan FPI. Tidak sedikit yang meragukan spirit transendental visi FPI. Tudingan bahwa FPI digerakkan oleh kepentingan ekonomi dan politik, itu bukanlah berita baru. FPI sudah kenyang dengan tudingan-tudingan. Toh kenyataannya, orang yang bersimpati terhadap FPI bukannya semakin berkurang.

Merujuk pada sejarah, ideologi, dan kiprahnya; FPI sebenarnya adalah potensi SDM (sumber daya manusia) yang luar biasa bagi Bangsa Indonesia.

Toh selama ini, konflik antara FPI dengan Jokowi lebih pada perkara politik. Bahwa, dalam beberapa perhelatan pesta demokrasi, berupa coblosan, pilihan politik Habib Rizieq berbeda dengan Jokowi. Semisal dalam Pilgub DKI Jakarta tahun 2017, FPI mendukung Anies Baswedan sedangkan Jokowi (sebagai kader PDI Perjuangan) berada pada pihak Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Juga dalam 2 kali Pemilihan Presiden, Habib Rizieq selalu mendukung kompetitor Jokowi, yakni Prabowo Subianto.

Maka, bukankah sangat indah apabila Habib Rizieq dan Jokowi akur. Potensi FPI bersama pengikut-pengikutnya bisa diakomodasi untuk memperkuat realisasi visi Presiden Jokowi dalam pembangunan bangsa.

Melihat kerasnya perseteruan politik keduanya, memang, bukan usaha mudah untuk bisa akur. Tetapi ini ranah politik. Dan pada politik, seperti kata banyak orang, tidak ada musuh atau teman abadi. Jokowi dan Prabowo telah membuktikan itu. Bertarung keras dalam 2 kali Pilpres, keduanya kini bahu membahu di Kabinet Indonesia Maju.

Satu hal lagi yang perlu dipertimbangkan oleh Jokowi dan Habib Rizieq. Keduanya adalah tokoh bangsa. Keduanya memiliki bejibun pendukung. Konflik berkepanjangan akan menguras energi bangsa. Sebab melibatkan massa yang sangat luas.

Maka, alangkah indah apabila Habib Rizieq dan Jokowi akur. [but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar