Sorotan

Liga 1 Pekan 28

Drama Persebaya, Mentalitas Monster

doc

Saya selalu menantikan momentum itu di Persebaya. Pertandingan menyisakan 10 detik menjelang peluit akhir. Menit 91 detik 50. Waktu tambahan untuk menit-menit yang terbuang. Lalu bagaikan slow motion dalam sebuah film Hollywood: Alwi Slamat mencungkit bola ke arah David da Silva. Pemain Brasil itu di sisi kanan dalam kotak penalti, tak terkawal, dan menghajar bola ke sudut kanan gawang kiper Persipura Dede Sulaiman.

Lalu semua menemukan kemurnian gairah dalam sepak bola. Pelatih Persebaya Aji Santoso mengepalkan dua tangan: meloncat. Para pemain Persebaya berlari ke arah Da Silva. Memeluknya dengan penuh kelegaan. Ini dua kemenangan beruntun musim ini. Sesuatu yang sepertinya sulit terjadi jika melihat performa Persebaya sepanjang musim. Namun Aji yang menggantikan Wolfgang Pikal di pertengahan musim menunjukkan bahwa Persebaya belum habis, dan dia memimpin pasukannya tak terkalahkan dalam tiga pertandingan.

Pertandingan tandang melawan Persipura di Stadion Aji Imbut Tenggarong adalah pertandingan pekan 28. Setelah kemenangan 1-0 atas Persipura ini, Persebaya menduduki peringkat 10 klasemen sementara dengan nilai 38. Persebaya terpaut 11 angka lebih banyak dari Perseru Badak Lampung yang berada di peringkat 16 (peringkat tertinggi untuk zona degradasi) dan terpaut 19 angka lebih sedikit dari pemuncak klasemen Bali United.

Tersisa enam pertandingan lagi. Persebaya tidak mungkin menjadi juara musim ini. Namun mereka masih harus mengejar angka 45 yang menjadi titik aman dari lubang degradasi sekaligus menembus papan tengah. Bonek makin percaya diri Persebaya akan semakin membaik hingga Liga 1 musim 2019 berakhir, jika melihat performa tim dalam tiga pertandingan di bawah racikan Aji.

Aji mengembalikan mentalitas pantang menyerah atau (meminjam perkataan pelatih Liverpool Jurgen Klopp: mentalitas monster). Mentalitas ini menjanjikan drama sepak bola dalam arti sebenar-benarnya: drama Persebaya. Drama yang tidak dipentaskan dengan perang pernyataan dan curhat di luar lapangan, namun drama yang dihasilkan dari sebuah pertandingan sepak bola yang solid. Aksi penggagalan tendangan penalti saat melawan PS Tira dan PSM dan gol tunggal Da Silva adalah drama yang menegangkan yang sebenarnya tak sehat buat jantung penggemar Persebaya. Namun melalui tiga drama itu, Persebaya menunjukkan kepada para penggemarnya bahwa apapun bisa terjadi dan kemenangan layak diperjuangkan hingga detik terakhir.

Pertandingan melawan Persipura menunjukkan kepiawaian Aji sebagai pelatih untuk mengeluarkan kemampuan terbaik anak-anak asuhnya. Ia memberikan kepercayaan kepada Misbakus Solikin, Alwi Slamat, Elisa Yahya Basna yang sempat tenggelam di bangku cadangan. Elisa menjadi pemain yang merepotkan lini belakang Persipura yang dikomandani Ricardo Salampessy. Elisa punya kecepatan dan keberanian berduel menerabas lini pertahanan tim yang berjuluk Mutiara Hitam itu.

Lini belakang Persebaya juga bermain taktis dan disiplin. Duet bek tengah Hansamu Yama dan Mokhamad Syaifuddin berhasil membendung pergerakan lini depan Persipura: Boaz Salossa, Samassa Mahamadou, dan Titus Bonai. Catatan Statoskop Jawa Pos menunjukkan, Persipura hanya sukses melesakkan satu tembakan tepat sasaran dari delapan kali upaya. Ini berbanding jauh dengan Persebaya yang sukses melakukan tujuh kali tembakan akurat dari 12 kali percobaan.

Berbeda dengan Persipura yang memainkan bola-bola langsung ke lini belakang lawan, Persebaya justru bisa memainkan bola dengan operan pendek dari kaki ke kaki yang dikombinasikan dengan umpan daerah ke David da Silva. Babak pertama, upaya Persebaya tak begitu terlihat. Hanya ada dua tembakan ke gawang Persipura, dan hanya satu yang tepat sasaran. Namun secara keseluruhan, pertandingan babak pertama secara keseluruhan memang cenderung membosankan. Serangan dua tim tak mematikan. Persipura bahkan hanya mencatatkan satu tembakan dan itu pun tak tepat sasaran.

Babak kedua, Aji memasukkan Rendi Irwan menggantikan Fandi Eko Utomo pada menit 56. Rendi memiliki kelebihan pada kecepatan dan kemampuannya membaca permainan. Dia tak hanya pandai memberikan umpan-umpan, namun bisa membuka ruang untuk dirinya sendiri melakukan tembakan ke gawang lawan. Namun staminanya hanya bertahan hingga menit 70 (karena pada menit itu dia biasanya digantikan).

Aji memilih memasukkan Rendi di pertengahan babak kedua, saat pemain-pemain lawan kelelahan. Hasilnya: serangan Persebaya lebih dinamis. Menit 62, Rendi menembakkan bola operan David da Silva dari luar kota penalti. Keras. Namun kiper Dede Sulaiman berhasil mementahkannya.

Menit 88, Rendi terlibat dalam skema serangan Persebaya yang menghasilkan peluang emas bagi Diogo Campos. Ia mengalirkan bola kepada Ruben Sanadi yang kemudian mengirimkannya kepada Diogo yang berada di mulut gawang Persipura. Namun tendangan Diogo berhasil ditepis oleh Dede Sulaiman.

Persebaya layak memenangkan pertandingan ini. Da Silva berhasil mencegah penobatan Dede Sulaiman menjadi pahlawan dalam pertandingan itu. Namun Persebaya di tangan Aji menunjukkan bahwa mental yang sempat terkoyak itu telah kembali. [wir/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar