Sorotan

Doa Politik dan Doa Suporter Sepak Bola

Orang-orang ribut soal doa KH Maimoen Zubair, pengasuh Pondok Pesantren Al Anwar, Rembang, Jawa Tengah. Sebuah video Mbah Moen membacakan doa untuk Prabowo Subianto saat duduk di samping Joko Widodo menjadi viral di media sosial, termasuk saat kemudian Mbah Moen meralat doa itu setelah dibisiki Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan Romahurmuziy.

Orang ramai: bagaimana doa bisa diralat dan berdebat tentang doa siapa yang paling makbul. Lalu mendadak saya jadi teringat suporter klub sepak bola Liverpool dan Manchester United. “Saya mendadak menjadi lebih relijius, saat Manchester United bertanding,” kata salah seorang kawan.

Begitu juga kawan lain yang mendukung Liverpool. Dia punya prinsip tak berdoa jelek. Saat Manchester United bertanding melawan klub lain, maka doanya bukan berisi lantunan harapan agar United kalah, melainkan agar klub lawan United yang menang. Objek sasaran doa diubah agar tak ada aura negatif, karena katanya: ‘agama melarang kita mendoakan jelek sesama’.

Tentu saja, di atas semua itu, fans Liverpool dan United sama-sama berdoa agar klub masing-masing yang menang dan menjadi juara Liga Inggris. Pertanyaannya: Tuhan akan mengabulkan doa siapa. Belum lagi pendukung 18 klub Liga Inggris lainnya juga mengalamatkan doa yang sama ke langit.

Orang-orang berdebat tentang doa dan melupakan hakikatnya: tak ada yang tahu dan bisa menyetir kehendak Tuhan. Saya tidak tahu, apakah dengan doa mereka merasa sudah bisa memastikan takdir. Doa ditafsirkan untuk mengoreksi takdir, bukan lagi untuk melengkapi ikhtiar dan daya upaya untuk mengetuk langit penuh pengharapan.

Orang-orang ateis ketawa mendengar doa: meminta dari yang tak terlihat. Namun bagi mereka yang meyakini eksistensi ilahiah, doa adalah senjata terakhir orang-orang yang lemah. Kunci doa adalah keikhlasan, menyerahkan nasib pada kehendak Tuhan sepenuhnya. Tanpa reserve. Dan itu diam-diam. Tak ada yang memamerkan keikhlasan, karena ini wilayah privat dan keimanan yang fundamental.

Maka ketika doa diperebutkan dalam sebuah arena kampanye dan menjadi tontonan, kita pun menjadi tahu: doa perlu ditunjukkan karena ini manifestasi dukungan. Orang tak lagi peduli dengan isinya, karena yang terpenting adalah sosok sang pendoa dan kemasyhurannya. Ada efek elektoral, dan oleh karenanya doa diubah menjadi tindakan politik. Doa adalah urusan keberpihakan. Ketika kamera menyorotnya, kita mengamini, dan dalam waktu pendek, doa menjadi pesan untuk dikirimkan ke pihak lawan: tokoh ini berpihak kepada kami.

Mereka yang merasa tak didoakan lantas balik melontarkan pasemon dengan bikin puisi. Orang marah, dan politik elektoral kita akhirnya hanya meributkan hal-hal yang seringkali kita sendiri tak bisa pahami maunya. Sama halnya kita tak akan pernah bisa memahami, ke mana Tuhan akan mengarahkan takdirnya pada 17 April 2019.

Lamat-lamat saya teringat nasihat guru ngaji saya: doa yang menembus langit adalah doa orang-orang teraniaya. Saya tak tahu bagaimana memastikan seseorang teraniaya atau justru menganiaya. Namun citra diri sebagai pihak teraniaya selalu menjadi dagangan laris setiap kali pemilu untuk menarik simpati khalayak. Di negeri yang sebagian besar rakyatnya menonton sinetron televisi dengan alur yang kadang melawan nalar, ini senjata ampuh. Namun saya tak pernah mendengar mereka yang mencitrakan diri teraniaya cukup percaya diri untuk mendoakan diri sediri dengan disaksikan banyak orang.

Jangan-jangan mereka sadar bahwa kondisi mereka tak cukup teraniaya untuk mengetuk pintu langit sendirian. Dan kita lebih suka meneladani teman saya yang pendukung Manchester United itu: menjadi relijius selama dua kali empat puluh lima menit. Relijiusitas datang dan pergi. [wir/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar