Sorotan

Liga 1 Pekan 21

Djanur Terlatih Patah Hati, Persebaya Terlatih Gagal Lagi

Djajang Nurjaman alias Djanur

Seharusnya panitia pelaksana di Stadion Demang Lehman, Martapura, menyetel lagu ‘Terlatih Patah Hati’ milik The Rain begitu wasit meniupkan peluit panjang. Barito Putera akhirnya menekuk Persebaya 1-0 dan mempertahankan rekor tak pernah kalah dari Bajul Ijo selama dua musim Liga 1 berturut-turut.

Djajang Nurjaman kembali berhasil menunjukkan bahwa para mantan adalah butiran debu. Setelah berkali-kali menghantam Persib Bandung saat melatih Persebaya, kini dia mempermalukan Persebaya saat melatih Barito.

Konsistensi menjadi persoalan krusial bagi Persebaya pada pekan 21 ini. Ruben Sanadi dan kawan-kawan masih mempertontonkan filosofi sepak bola ngeyel alias beroktan tinggi. Dengan formasi 4-4-2 yang menandemkan Diogo Campos dan David da Silva, Persebaya berkali-kali menggedor benteng pertahanan Barito. Statoskop mencatat, anak asuhan Wolfang Pikal dan Sugiantoro ini melepaskan 11 kali tembakan. Lebih banyak daripada tuan rumah yang hanya enam tembakan. Namun akurasi tembakan pemain Persebaya lemah: hanya satu yang tepat sasaran.

Skema serangan Persebaya sebenarnya simpel. Alirkan bola secepatnya ke arah Diogo dan Da Silva. Kali ini sektor sayap kanan menjadi tumpuan serangan Persebaya. Oktafianus Fernando menjalankan tugasnya dengan baik dengan menyuplai bola via umpan silang. Kinerja spartan Oktafianus membuat Abu Rizal Maulana bisa tenang menjaga sektor bek kanan.

Sedikitnya tiga kali Oktafianus memberikan suplai bola matang yang gagal dieksekusi kawan-kawannya. Menit 38, Oktafianus memberikan umpan horisontal kepada Irfan Jaya yang berujung pada bola terobosan kepada Da Silva. Namun bola yang dioperkan lagi di depan gawang gagal dimanfaatkan Diogo. Dia terlambat beberapa langkah untuk menyambut bola yang seharusnya tinggal diceploskan ke gawang yang sudah kosong.

Dua menit berselang, Oktafianus memberikan bola lambung ke depan gawang Barito. Diogo berhasil menendangnya. Namun bola hanya lewat saja di depan gawang Muhammad Riyandi.

Menit 60, Oktafianus justru memperoleh peluang untuk mencetak gol setelah mendapat bola terobosan dari Aryn Williams. Diapit dua pemain Barito, ia masih bisa melepasan tembakan yang menggelinding begitu saja di depan gawang lawan.

Babak kedua, Barito justru berkembang. Mereka mengepung pertahanan Persebaya. Serangan cepat dan pressing tinggi pada babak pertama memunculkan dua persoalan: menguras stamina dan memantik frustrasi karena kegagalan demi kegagalan mencetak gol. “Dua pertandingan ini banyak peluang terbuang sia-sia,” kata Sugiantoro, usai laga.

Dalam tempo hanya tiga menit, Barito mendapatkan tiga peluang emas beruntun yang salah satunya berujung gol. Menit 63, Rafael Silva mendapat bola terobosan dalam sebuah skema serangan balik dan menusuk kotak penalti Persebaya. Hanya Otavio Dutra yang menempel ketat. Sementara di dalam kotak penalti hanya ada Ruben Sanadi dan Da Silva. Pemain lainnya terlambat mundur, tidak ada yang menghalangi Sousa saat menerima bola dari Rafael dan berduel langsung dengan kiper Miswa Saputra. Untunglah bola masih bisa ditepis dengan kaki Miswar.

Gol kemenangan Barito justru diawali dari sektor kiri yang biasanya banyak membantu serangan. Ruben Sanadi gagal mengalirkan bola ke depan, karena diintersep oleh bek Cassio F. de Jesus. Bola memantul dan jatuh di kaki Rizky Pora. Rizky memilih mengirimkan bola silang ke depan gawang Persebaya yang berhasil diesekusi dengan kepala oleh Rafael Silfa pada menit 67.

Setelah tertinggal, kebiasaan pemain Persebaya membuang peluang masih muncul. Menit 75, bola umpan silang Abu Rizal berhasil ditanduk Da Silva yang tepat berada di depan gawang Barito. Namun bola bergerak melebar.

Sugantoro menjanjikan evaluasi dan perbaikan terhadap penyelesaian akhir. Persebaya sebenarnya beruntung memiliki dua pemain depan impor yang memiliki naluri bagus dalam menyerang, Diogo dan Da Silva, yang ditopang pemain-pemain berkecepatan tinggi seperti Irfan Jaya. Mereka juga memiliki pemain-pemain yang mau bekerja keras melakukan pressing yang ditunjukkan dari banyaknya tekel sukses malam itu (24 kali) yang menghancurkan serangan lawan maupun memulihkan serangan ke pertahanan Barito.

Namun filosofi sepakbola yang diambil Persebaya adalah filosofi berisiko. Persebaya mengambil pilihan ‘to be or not to be’. Menyerang adalah segalanya dengan risiko terkena serangan balik lawan sebagaimana ditunjukkan Barito malam ini. Namun sepakbola berisiko akan menyisakan frustrasi dan kepanikan jika bola tidak segera bersarang di gawang lawan.

Sepakbola beroktan tinggi yang berisiko oleh Persebaya membutuhkan keunggulan lebih dulu untuk menjaga mental bertanding. Tanpa mental terjaga, siap-siap saja Bonek mulai berlatih menyanyikan lagu ‘Terlatih Patah Hati’ dengan judul yang dipelesetkan menjadi ‘Terlatih Gagal Lagi’ dalam pertandingan-pertandingan mendatang. [wir]





Apa Reaksi Anda?

Komentar