Sorotan

Di Bawah Langit Istanfield

Di bawah langit hitam Anfield, Leonel Messi kembali menjadi ‘manusia’. Tak ada lagi manusia super dari dunia lain, manusia setengah dewa, atau sanjungan penuh puja-puji sebagaimana diperolehnya pada pertandingan pertama di Camp Nou. Selasa malam itu (7/5/2019), Liverpool mengembalikan sepak bola ke ‘khittah’-nya: dimainkan dan dimenangkan dengan kerjasama sebelas orang di lapangan… dan bantuan seorang ball boy!

Liverpool membalikkan semua kemuskilan dan keraguan, setelah kekalahan 0-3 dari Barcelona sepekan sebelumnya. Kemenangan Liverpool di Anfield ibarat seorang manusia melawan gravitasi. Berapa tidak, ini semifinal Liga Champions, ajang sepak bola antarklub paling prestisius di muka bumi, dan mereka menghadapi salah satu klub terkuat di dunia hari ini. The Reds menghadapi Messi yang mencetak gol ke-599 dan 600 bersama Barca ke gawang Alisson Becker.Gol terakhirnya dilakukan dengan istimewa: sebuah tendangan bebas dari luar kotak penalti. Gol yang membuat pelatih Liverpol Jurgen Klopp tersenyum kecut.

Messi dengan perayaan 600 gol dalam 683 pertandingan mendominasi media sosial dan pemberitaan ketimbang kemenangan Barca sendiri. Semua seolah menganggap kemenangan itu adalah hal normal, dan persaingan Messi dengan Cristiano Ronaldo dalam urusan mencetak gol lebih enak dibicarakan. Dengan tumbangnya Manchester City, Bayern Munchen, Real Madrid, atau Juventus, Barcelona berada di posisi teratas bursa taruhan juara Liga Champions 2018-19. Mereka tinggal menunggu penobatan. “Kami melawan salah satu tim terbaik dan terkuat di dunia,” kata Virgil van Dijk, bek tengah Liverpool asal Belanda.

Liverpool menghadapi paket komplet ujian pada bulan Ramadan dalam pertandingan kedua di Anfield: tertinggal tiga gol dari tim terbaik dunia, harus mencetak empat gol tanpa balas, dan tak diperkuat Mohamed Salah dan Roberto Firmino yang dibekap cedera. Mereka juga menghadapi lawan yang lebih bugar, karena Barca memarkir seluruh pemain intinya dalam pertandingan La Liga beberapa hari sebelumnya. Sementara Liverpool harus bertarung mati-matian untuk menang 3-2 di kandang Newcastle United.

Namun sebagaimana kata Arsene Wenger dan Jose Mourinho: ini Anfield. Mengapa Liverpool yang gagal menjuarai liga, tapi selalu memiliki prestasi lebih baik di turnamen Eropa? “Anfield,” kata Wenger.

Para pendukung di Anfield memiliki peran krusial melipatgandakan semangat para pemain Liverpool sekaligus menghancurkan mental pemain lawan. Mourinho sudah merasakannya pada semifinal Piala Champions 2005. Dia tak mengakui gol Luis Garcia hingga saat ini. Itu gol ‘hantu’ yang membuat wasit mengesahkannya karena nyaringnya volume penonton di tribun The Kop yang merayakannya. William Gallas bersumpah telah menyapu bola sebelum melewati garis gawang. Belum ada goal line technology, dan wasit mengesahkan gol untuk Garcia.

Liverpool juga punya Jurgen Klopp, seorang manajer jenius yang dicintai para pemain dan pandai menyuntikkan motivasi. Sebelum pertandingan, ia mengatakan bahwa pertandingan yang akan mereka jalani adalah sesuatu hal yang mustahil. Namun ia yakin kemustahilan itu akan terlewati. “Karena ini yang bermain adalah kalian.”

Orang ingat bagaimana Klopp membangkitkan mental anak-anak asuhnya yang tertinggal 1-2 dari Borussia Dortmund di Anfield pada babak pertama, dan menang 4-3 pada 45 menit berikutnya. “Ciptakan momentum yang akan bisa kalian ceritakan kepada anak cucu kalian,” katanya. Ia menyeret memori tentang sebelas orang berseragam merah yang tertinggal tiga gol dari AC Milan di Istanbul, Turki, pada 2005 yang berhasil membalik keadaan dan menjuarai Piala Champions.

Lalu di bawah langit Anfield, keajaiban Istanbul kembali terulang. Para pemain Liverpool memainkan ‘heavy metal football’ dengan kerancakan yang layak diiringi ilustrasi lagu Metallica. Mereka menyerang habis-habisan, berupaya mencetak gol secepat mungkin untuk menghancurkan mental pemain Barcelona. Hasilnya Divock Origi mencetak gol cepat pada menit ketujuh.

Satu gol belum cukup. Liverpool menekan para pemain Barcelona setiap kali menguasai bola. Mereka tidak membiarkan lawan mengembangkan ‘passing play’. Siulan panjang dan ‘boo’ tanpa jeda terdengar di sekujur tribun Anfield setiap kali pemain Barca menyusun serangan, terutama jika bola dikuasai Luis Suarez dan Phil Coutinho.

Fabinho bermain luar biasa sebagai gelandang bertahan yang menghancurkan lini tengah Barca. Sementara, dari dua sisi sayap, Trent Alexander-Arnold dan Andrew Robertson membombardir pertahanan Barca dan mengirimkan bola-bola silang maupun datar untuk Origi. Sementara itu, Henderson, Shaqiri, dan Mane memenuhi lini tengah dan memaksa para pemain Barca mundur lebih dalam ke daerah pertahanan.

Dua gelandang pekerja keras Liverpool, Henderson dan Milner, berhasil menguras perhatian dan stamina Vidal dan Coutinho. Pressing duet Inggris itu membuat kedua pemain Barca asal Amerika Latin itu keteteran dan kesulitan membantu serangan. Kesibukan Vidal dan Cou membuat Trent dan Robertson bisa dengan leluasa naik menyerang dari sayap, membantu Sadio Mane dan Xerdan Shaqiri menyesaki pertahanan Barca. Mereka mengepung Barca dengan memanfaatkan lebar lapangan. Sementara itu di sektor pertahanan, Joel Matip dan Van Dijk bermain cemerlang dengan menghadang Suarez dan Messi yang bekerja tanpa suplai bola memadai dari Vidal dan Cou.

Suarez menjadi salah satu tokoh protagonis dalam pertandingan ini. Jika pada pertandingan pertama, pemain asal Uruguay ini mencetak gol perdana untu Barca, maka pertandingan kedua, dia menjadi biang dua gol Liverpool. Terpancing emosi, Suarez mencederai bek kiri Robertson hingga harus keluar dari lapangan.

Normalnya, keluarnya Robertson akan mengurangi kekuatan Liverpool dari sayap. Namun Jurgen Klopp kembali menunjukkan kepiawaian penguasaan ‘art of subs’. Mantan pelatih Borussia Dortmund ini memasukkan Gini Wijnaldum untuk memperkuat lini tengah, dan menarik James Milner ke posisi bek kiri menggantikan Robertson.

Wijnaldum ofensif dan membuat lini pertahanan Barca semakin sesak oleh pemain-pemain yang punya penetrasi dan determinasi. Dia bergerak bersama Henderson ke depan dan Fabinho tetap menjadi gelandang bertahan tunggal.

Hasilnya: Wijnaldum mencetak dua gol instan pada menit 54 dan 56. Memori fans Liverpool mendadak dipenuhi memori Keajaiban Istanbul. Dua gol Gerrard dan Smicer juga terjadi pada menit yang sama.

Gol terakhir Liverpool pada menit 79, dicetak Divock Origi karena kejeniusan Trent Alexander Arnold dan kecekatan seorang ball boy alias anak gawang bernama Oakley Cannonier. Sebenarnya bola kembali ke dalam lapangan, setelah sempat keluar dan memantul terkena papan reklame. Namun para pemain Liverpool memilih membuangnya ke luar lapangan, dan Oakley segera memberikan bola baru kepada Trent saat pemain Barcelona masih sibuk berdebat dan menata barisan pertahanan.

Trent memainkan trik ala pesepakbola akademi pemula. Dia bergerak sebentar seperti meninggalkan bola di sudut lapangan seolah-olah memberikan kesempatan kepada Shaqiri yang berjalan menuju ke sana. Namun bola kemudian langsung ditendang mendatar ke arah Origi, yang kemudian langsung membenamkannya ke gawang Ter Stegen.

Itulah keajaiban Anfield. Sekali lagi. Namun keliru jika menganggap keajaiban Anfield adalah sebuah momentum kebetulan atau sebuah keberuntungan yang dilahirkan karena inspirasi Istanbul semata. Barcelona dan fans sepak bola umumnya terjebak pada skor akhir yang telak pada pertandingan pertama. Skor ahir seperti menutupi fakta bahwa dalam pertandingan itu Liverpool lebih mendominasi dan mengekspos sejumlah kelemahan Barca, terutama di sisi sayap. Coutinho tidak bisa menahan laju Robertson dan Mane.

Statistik di Camp Nou menunjukkan bagaimana Liverpool menguasai 52,4 persen arah bola dan melepaskan empat tembakan tepat sasaran dari 15 total tembakan. Hanya terpaut satu tembakan tepat sasaran lebih sedikit dibanding tuan rumah. Liverpool melepaskan operan lebih banyak (547 berbanding 510 operan) dan membuat Barca melakukan 32 sapuan (lebih banyak empat kali lipat dibanding Liverpool). Liverpool menghasilkan lima kali tendangan penjuru, lebih banyak dibandingkan Barca yang hanya tiga kali. Dengan kata lain: Liverpool berhasil memaksa bola lebih banyak berada di area Barca.

Klopp tahu jika anak-anak asuhnya bermain sangat bagus, terutama di babak kedua. Dua gol dari Messi seperti anugerah dari Tuhan untuk Barcelona, dan Klopp sudah tahu: Liverpool tak akan mengulangi kesalahan di Anfield. Mereka akan memenangkan ini bersama-sama.

Hasil akhir: Liverpool 4, Barcelona 0. Mereka lolos ke final Liga Champions untuk kali kedua berturut-turut. “Ini sangat berarti banyak bagi kami semua. Ada lebih banyak hal penting di dunia ini. Namun menciptakan atmosfer emosional nersama sangatlah istimewa. Saya tidak yain apakah ini akan terjadi lagi. Saat saya melihat para pemain setelah pertandingan dan air mata berlinang di mata mereka, itulah sepak bola,” kata Klopp. [wir/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar