Sorotan

Catatan Komite Sastra

Dewan Kesenian Surabaya Periode Chrisman Hadi

Ribut Wijoto.

TIDAK TERASA KEPENGURUSAN DEWAN KESENIAN SURABAYA (DKS) kepimpinan Chrisman Hadi sudah hampir berakhir. Surat Keputusan Walikota Surabaya yang mengukuhkan Chrisman sebagai Ketua DKS bakal berakhir bulan Desember 2019.

Tulisan ini merupakan catatan tentang beberapa program dan kegiatan yang telah dilaksanakan oleh Komite Sastra, di mana saya termasuk di dalamnya sebagai anggota. Adapun Ketua Komite Sastra dipegang Aming Aminuddin. Sedangkan Rohana Handaningrum menjadi anggota lainnya.

Tidak ada pencapaian fenomenal yang diraih Komite Sastra. Chrisman sebagai Ketua Umum DKS juga tidak terlalu memberi beban berat. Dia setuju Komite Sastra berkerja fokus pada pembinaan generasi muda, menciptakan iklim kondusif terhadap kesusastraan Surabaya dengan sastrawan muda sebagai pilar utama.

Beberapa usulan program dari Komite Sastra langsung didukungnya. Chrisman biasanya hanya memberi arahan-arahan tematis dan merekomendasikan nama-nama sastrawan untuk mengisi acara. Dia juga meminta Komite Sastra realistis terkait kebutuhan anggaran. Program dibiayai dengan dana yang tidak terlalu besar. Itu pun dengan embel-embel, uang diambil dari kantong pribadi dia.

Awal tahun DKS periode Chrisman, Komite Sastra menggelar acara Pertemuan Sastrawan Muda bertajuk Halte Sastra. Mengundang lima penyair muda. Aam Kamil (mahasiswa Unipa yang sekaligus pendiri komunitas Kopi Aksara), Ebi Langkung (mahasiswa jurusan Sosiologi Fisip UIN Sunan Ampel Surabaya dan anggota komunitas Tikar Merah), Uul R Hasanah (mahasiswa Universitas Negeri Surabaya), Laila (mahasiswa Unair dan anggota Teater Gapus), dan Rio Teguh Prakoso (mahasiswa Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya). Karya kelima penyair muda itu dibukukukan dengan judul ‘Berteduh’. Buku dibagikan gratis saat acara berlangsung.

Berikutnya Komite Sastra DKS mengundang Rojil Buffon (dosen Unesa) dan Suryadi Kusniawan (dosen Unipa) untuk membedah buku kumpulan cerpen ‘Ladang Pembantaian’ karya penulis muda Surabaya, Eko Darmoko. Diskusi dipandu oleh Wildansyah Bastomi (anggota Teater Gapus Unair) dan diselingi musik oleh Arul Lamandau.

Bekerja sama dengan Bengkel Muda Surabaya (BMS), pada tahun 2015, Komite Sastra mengadakan program Sekolah Menulis Puisi. Program pengajaran dan pelatihan menulis puisi ini berlangsung 5 pertemuan. Diasuh oleh Hanif Nashrullah dan saya sendiri.

Komite Sastra DKS juga memfasilitasi kegiatan lomba pembacaan puisi tingkat SLTP di Surabaya. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia.

Komitmen DKS terhadap sastrawan muda semakin diperjelas dengan digulirkannya program Majelis Sastra Urban. Program ini digagas dan dilaksanakan oleh sebuah tim kreatif yang didominasi oleh kaum muda. Mereka berasal dari kantong-kantong sastra di Surabaya. Semisal anggota komunitas sastra di Unesa, Unipa, Unair, STKW, Uinsa, Untag, ITS. Ditambah dengan beberapa personal seperti Dadang Ari Murtono, Arul Lamandau, Mahamuni Paksi, Mahrus Hadi, Mahdi Betjak, Uyung Milaakbar, dan Hanif Nashrullah.

Walau sama-sama mencintai sastra, anggota tim kreatif Majelis Sastra Urban DKS berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Ada dari mereka yang berstatus mahasiswa antropologi, ada mahasiswa sastra Indonesia, lulusan psikologi, dan lulusan akuntansi. Ada dari mereka yang berprofesi guru les musik, ada yang sehari-hari bekerja mengayuh becak, sopir, ada pula wartawan.

Majelis Sastra Urban DKS edisi perdana menampilkan cerpenis milenial, Aris Rahman Putra. Aris mengejawantahkan cara baru dalam penulisan cerpen. Strategi penceritaan yang mencoba mengabaikan plot (alur). Dia mengadopsi teknik scene film untuk mengikat narasi dan menciptakan suspense (ketegangan). Kumpulan cerpen Aris bertitel ‘Tafsir Beberapa Mimpi yang Mesti Kamu Alami Sebelum Menjadi Nabi’, selain untuk kebutuhan diskusi, juga disebar melalui media sosial dalam format pdf (portable document format).

Majelis Sastra Urban DKS edisi kedua menampilkan Mahdi Omdewo. Seorang penyair yang sehari-hari bekerja sebagai tukang becak. Mahdi lebih sering menjalani profesi itu dari jam 12 malam hingga pagi hari, saat kota Surabaya cukup lengang. Mengapa malam? Menurutnya, malam hari dia tidak perlu bersaing dengan becak motor, ojek, bemo, maupun moda transportasi umum lain. Selain itu, pada malam hari, Mahdi bisa melihat kota Surabaya dengan lebih kontemplatif.

Edisi ketiga, Majelis Sastra Urban DKS berkerja sama dengan Balai Bahasa Jawa Timur mengundang dua cerpenis senior: Raudal Tanjung Banua dan Mashuri Alhamdulillah. Diskusi dipandu oleh kritikus Heru Susanto. Kedua narasumber banyak memaparkan tentang cara membahasakan kota dalam bentuk prosa.

Menggandeng komunitas Pelangi Sastra Malang, Majelis Sastra Urban DKS edisi keempat menampilkan dua penyair senior Surabaya: Tengsoe Tjahjono dan Indra Tjahyadi. Keduanya mengupas puisi-puisi Wahyu Prasetyo. Tengsoe lebih banyak menuturkan proses kreatif Wahyu sedangkan Indra intens menyingkap strategi tekstual puisinya.

Majelis Sastra Urban DKS edisi kelima diisi dua penyair muda Surabaya: Rizki Amir dan Intan Jihane. Rizki mengungkap ketertarikannya terhadap tema-tema wayang sedangkan Intan lebih suka dengan imaji-imaji liar. Karya kedua penyair diterbitkan dalam bentuk antologi berjudul ‘Juru Demung’. Sebanyak 50 eksemplar buku tersebut dibagikan saat acara berlangsung.

Pada edisi keenam, Majelis Sastra Urban DKS mengundang budayawan Riadi Ngasiran. Ketua Lesbumi NU Surabaya itu melakukan kajian atas sosok Nabi Muhammad SAW dalam sajak. Riadi menemukan fakta, walau mayoritas muslim, Rasullulah tidak terlalu banyak muncul dalam khazanah puisi modern Indonesia.

Edisi ketujuh nanti, Majelis Sastra Urban DKS menampilkan penyair W Haryanto. Kepada audien, W Haryanto bakal mendedahkan gagasan kepenyairannya. Ada juga pembagian gratis 50 eksemplar buku pada acara ini.

Satu-satunya kegiatan Komite Sastra yang memiliki gaung lumayan besar adalah Malam Sastra Surabaya 10 (Malsasa X). Kegiatan yang gawangi langsung oleh Aming Aminuddin ini menampilkan banyak penyair senior. Semisal Akhudiat, R Giryadi, Bagus Putu Parto, Herry Lamongan, Hidayat Raharja, Anas Yusuf, Beni Setia, Leres Budi Santoso, Rusdi Zaki, Sabrot D Malioboro, Saiful Hadjar, dan lain-lain.

Menjelang akhir masa jabatannya, bulan November 2019 nanti, Chrisman Hadi setuju Komite Sastra membuat kegiatan yang bertaraf nasional. Sebuah lomba penulisan cerpen. Hadiah disiapkan bernilai jutaan rupiah. Karya para pemenang lomba juga akan dibukukan. Dengan iming-iming hadiah yang besar, Chrisman berharap lomba bisa menarik minat sastrawan-sastrawan handal di Indonesia.

Begitulah, masa lima tahun, bukanlah waktu yang pendek. Bulan Desember nanti, kepengurusan DKS akan berakhir. Chrisman belum tentu maju atau terpilih lagi. Saya juga belum tentu dipercaya kembali menjadi bagian dari Komite Sastra. [but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar