Sorotan

Dekesda Art Center

Pameran seni rupa Srikandi Bertaut di Dekesda Art Center (Foto dokumentasi Dekesda)

Hingga saat sekarang, meski PAD (Pendapatan Asli Daerah) terhitung tinggi di Jatim, Kabupaten Sidoarjo belum punya gedung kesenian berstandar. Padahal, bagi seniman, gedung kesenian penting untuk mendorong daya kreativitas. Gedung kesenian juga simbol eksistensi Sidoarjo sebagai sebuah kota metropolitan.

Dewan Kesenian Sidoarjo (Dekesda) memikirkan situasi itu. Maka, sesuai rekomendasi Rapat Kerja (Raker), Oktober 2020, Dekesda mengusulkan agar Pemkab Sidoarto turut memikirkan gedung kesenian.

Usulan itu, mungkin, sudah dipertimbangkan Pemkab. Mungkin juga belum.

Tetapi, setidaknya, Dekesda masih beruntung. Ada kompleks bekas sekolah dasar terbengkalai di Sidoarjo. Bekas SDN Celep 2. Pemkab berbaik hati membolehkan gedung SD itu untuk aktivitas kesenian.

Dekesda Art Center. Dekesda bermimpi, kompleks bekas sekolahan itu kelak bakal jadi pusat kesenian di Sidoarjo. Mirip kompleks Balai Pemuda Surabaya, mirip Taman Ismail Marzuki Jakarta. Mimpi yang berlebihan, tentu saja.

Kondisi awal Dekesda Art Center. (Foto dokumentasi Dekesda)

Ketika pengurus Dekesda pertama kali datang ke kompleks bekas siswa-siswa menyimak pelajaran dari guru itu, kondisi sungguh bikin kaget. Alang-alang setinggi gedung, cat tembok kusam mengelupas, sampah di mana-mana. Perjuangan dalam arti tubuh bercucur keringat pun dimulai.

Tumbuhan liar dibabat. Tembok dicat ulang. Dua dinding dijebol sehingga tiga ruang kelas menyatu jadi aula yang luas. Sebuah panggung permanen didirikan di ujung halaman. Bulan November 2020, aktivitas kesenian di Dekesda Art Center resmi digelar. Festival Virtual Gunungan Bandeng Asap.

Bandeng asap adalah kuliner khas Sidoarjo. Melalui even pembuka, Dekesda seakan mengirim sinyal verbal. Kinerja kesenian yang bersumber dari potensi lokal. Mengeksplorasi lokalitas Sidoarjo ke dalam beragam wujud estetik. Tari Banjar Kemuning, seni reog, ritual pesta panen bandeng. Pada puncaknya, orang-orang pun berebut gunungan yang disusun dari ikan-ikan bandeng asap.

Kondisi awal Dekesda Art Center. (Foto dokumentasi Dekesda)

Sebulan berikutnya, Dekesda menggelar pameran seni instalasi. Isyarat lain dilontarkan. Para seniman di pameran ini seakan mengingatkan kembali perihal motivasi berkesenian. Bahwa, karya seni rupa tidak selalu mesti bernilai jual alias barang dagangan. Karya seni rupa bisa berdiri sendiri sebagai karya estetik. Tanpa harus direcoki oleh pasar alias gemerincing rupiah.

Dukungan datang dari Dewan Kesenian Jawa Timur (DK Jatim). Jatim Art Forum. Program berskala regional ini digelar di Dekesda Art Center. Selain sajian utama dari M Faizi Sumenep, tampilan dari Sidoarjo sendiri cukup menyita perhatian. Techno Poem atawa Puisi Elektronik. Tampilan ini memadukan lantunan tembang dengan kebisingan DJ (disk jockey) memainkan musik techno. Soundscape bersumber dari alam tambak menambah kuat warna pertunjukan.

Menutup tahun 2020, Dekesda mengundang tokoh dari seluruh bidang seni. Ada tokoh tari, film, musik, sastra, teater, seni tradisi, dan seni rupa. Kesemua tokoh diminta membeberkan pandangan-pandangannya tentang potensi dan kendala pemajuan seni di Sidoarjo. Pengurus Dekesda bertindak sebatas pendengar dan pencatat.

Membuka tahun 2021, bekerja sama dengan penerbit Tan Kali Sidoarjo, Dekesda menggelar diskusi puisi. Diskusi membedah karya penyair dr Hendro Siswanggono. Banyak pegiat seni dan pecinta sastra hadir untuk memberi hormat sekaligus belajar dari karya penyair paling senior ini.

Foto dokumentasi Dekesda.

Bulan Februari, Dekesda menunjukkan komitmen berbeda. Jika Januari menaruh hormat pada senior, kali ini, Dekesda memberi ruang luas kepada para penyair muda. Semacam pembinaan. Yaitu melalui Sayembara Penulisan Puisi ‘5 Penyair Muda Terbaik Sidoarjo’. Karya kelima pemenang pun dibukukan. Diterbitkan pula buku puisi ’30 Penyair Muda Sidoarjo’.

Di Maret yang penuh guyuran hujan, imbas dari pandemi Covid, Dekesda Art Center meminimalkan aktivitas kesenian. Tetapi bukan berarti diam. Dekesda beralih ke ruang digital. Sebuah program digelar selama sebulan penuh. Festival Sastra Sidoarjo. Sekitar 150 video pembacaan karya sastra tersaji pada festival ini.

Dekesda Art Center kembali bergerak. Para perupa wanita Sidoarjo, dalam wadah Sekar Delta Art Sidoarjo, menggelar pameran bertitel Srikandi Bertaut. Hj Sa’adah Ahmad Muhdlor, istri Bupati Sidoarjo, saat membuka pameran ini dengan riang. Ternyata dia sebenarnya juga pegiat seni. Dia pernah penggeluti dunia musik, tari, model, juga seni rupa.

Di tengah-tengah pameran, digelar diskusi film dan pergelaran seni fotografi. Tokoh dan pecinta sinema di Sidoarjo kumpul berbagi pengalaman.

Lantas Jayati Seni ing Tlatah Jenggala. Dekesda mengundang para tokoh sastra Jawa dan tokoh seni tradisi untuk tampil. Juga para pelajar yang giat semangat belajar karawitan. Seketika Dekesda Art Center berubah menjadi ruang eksplorasi seni tradisi.

Bukan sekadar ruang pertunjukan. Dekesda Art Center juga jadi ajang kumpul komunitas sekaligus ruang belajar. Di tempat ini Paguyuban Pambiwara Sidoarjo saling tukar ilmu, para muda latihan teater, Komunitas Yuk Nulis Sidoarjo menularkan tradisi penulisan. Seniman-seniman datang hilir mudik, kadang memang ada urusan, kadang sebatas silaturahmi.

Begitulah Dekesda Art Center terus bergerak. Mimpi dengan mata terbuka. [but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar