Iklan Banner Sukun
Sorotan

Deja Vu Persebaya Menuju Degradasi?

Tim persebaya di musim 2022/2023

Bagaimana rasanya menyaksikan klub sepak bola yang anda dukung dipastikan terdegradasi pada hari ulang tahun anda? Pahit sekali tentu saja, dan itu terjadi pada 5 Mei 2002. Hari itu, Persebaya digulung Petrokimia 0-3 di Stadion Petrokimia Gresik. Gol Jainal Ikhwan, Yance Katehokang, dan Agus Indra Kurniawan ke gawang Hendra Prasetya menyempurnakan nasib buruk Persebaya.

Gelagat Persebaya terdegradasi pada musim Liga Indonesia 2022 sudah tercium sejak awal musim. Bertanding di Grup Timur bersama 11 klub, Persebaya hanya menangguk empat angka dari lima pertandingan awal. Catat ini: kalah 0-1 dari Gelora Putra Delta di Surabaya, imbang 1-1 dengan Barito Putra di Surabaya, kalah WO 0-3 dari Pupuk Kaltim di Bontang, menang 3-1 atas Persedikab di Kediri, dan kalah 2-3 dari Persijatim di Solo.

Pada akhir musim, Persebaya berada di peringkat 11 dari 12 klub. Dari 22 pertandingan, Persebaya hanya menang 6 kali, imbang 5 kali, dan kalah 11 kali, dengan agregat gol 24-31, dan memperoleh 20 poin. Bajul Ijo terdegradasi bersama dua klub Jawa Timur lainnya, Persema Malang dan Persedikab Kabupaten Kediri.

Dua dasawarsa kemudian, Persebaya seperti mengalami deja vu, yang diterjemahkan secara harfiah ‘merasakan kembali apa yang pernah dirasakan’ dulu. Dari aspek manajemen, jika pada musim 2002, Persebaya dinakhodai Dahlan Iskan yang menjadi Ketua Harian, kini klub ini berada di tangan anaknya Azrul Ananda. Tim kepelatihan saat ini diisi dua orang yang memperkuat Persebaya pada 2002, yakni Sugiantoro dan Uston Nawawi.

Di lapangan hijau, dari lima pertandingan awal musim 2022-23, Persebaya juga hanya meraup empat angka dari lima pertandingan awal. Persebaya kalah 0-1 dari Persikabo di Bogor, menang 2-0 atas Persita Tangerang di Surabaya, kalah 0-1 dari Bhayangkara FC di Cikarang, imbang 2-2 dengan Madura United di Surabaya, dan kalah 1-2 dari Borneo FC di Samarinda.

Rekor Persebaya ini terburuk selama berpartisipasi di Liga 1 sejak 2018. Musim 2018, dalam lima pertandingan awal Persebaya memperoleh delapan poin, enam poin pada 2019, dan enam poin pada 2021-22.

Apa problem Persebaya? Banyak yang menunjuk persoalan utama pada kualitas pemain yang masih muda belia dan kurang matang. Statsrawon mencatat rata-rata usia tim Persebaya musim ini yang terdiri atas 34 pemain adalah 22,39 tahun. Ini tim termuda Persebaya selama mengikuti Liga 1 sejak 2018.

Bonek juga menuding kebijakan manajemen Persebaya yang tidak membeli pemain berkualitas dan berpengalaman berdampak terhadap performa tim. Curahan hati Bonek di media sosial seperti koor: manajemen Persebaya terlalu hemat dalam berbelanja (catatan: ini eufemisme untuk pelit). “Ono rego, ono rupo,” demikian sering terdengar. Artinya, jika mau pemain berkualitas, sediakan dana yang sepadan.

Namun benarkah pemain muda berdampak terhadap jebloknya performa Persebaya? Jika mengacu pada catatan sejarah Persebaya, kualitas pemain yang baik tak selamanya menjamin klub ini selamat dari degradasi. Sepanjang pergelaran Liga Indonesia sejak 1994, Persebaya sudah mengalami tiga kali degradasi. Namun dua degradasi yakni musim 2005 dan 2009-10 lebih karena dipengaruhi faktor nonteknis.

Musim 2005, PSSI mendegradasi Persebaya ke Divisi I karena menolak bertanding melawan Persija Jakarta di Senayan dalam pertandingan Babak 8 Besar, dengan alasan menjaga keselamatan Bonek. Musim 2009-10, Persebaya terdegradasi setelah serangkaian drama ulangan pertandingan melawan Persik Kediri yang berujung kekalahan WO 0-3. Musim itu Persebaya sebenarnya berpotensi lolos dari degradasi dan bermain di babak playoff, jika bisa mengalahkan Persik. Jadi, degradasi yang dialami Persebaya karena faktor teknis permainan murni terjadi pada musim 2002.

Jika mengacu pada musim 2002, kualitas tim jelas tak bisa dijadikan alasan. Persebaya saat itu dilatih duet Rusdi Bahalawan dan Subodro yang sukses mengantarkan Persebaya menjuarai Liga Indonesia musim 1996-97. Persebaya musim 2002 memang diperkuat beberapa pemain muda seperti Mat Halil (23), Rahel Tuasalamony (19), dan Hendra Prasetya (21).

Namun saat itu sejumlah pemain Persebaya yang memperkuat skuat juara pada 1997 masih bertahan, Anang Maruf, Sugiantoro, Ronald Pieters, Mursyid Effendi, dan Uston Nawawi masih bermain. Selain itu ada kiper senior I Komang Putra yang juga masuk dalam skuat. Usia mereka memasuki masa emas 25-30 tahun.

Dengan kata lain, ada faktor-faktor di luar kualitas pemain yang ikut berpengaruh. Subodro saat itu memilih merahasiakannya. “Saya nggak akan pernah mengungkapkan hal tersebut kepada umum. Itu rahasia tim dan pengurus Persebaya nantinya,” katanya kepada Jawa Pos, edisi 6 Mei 2002.

Hartono Purnomosidi, tokoh sepak bola Surabaya, menyebut Persebaya di Liga Indonesia VIII tak solid. Ketua Harian Persebaya Dahlan Iskan menyebut: ‘Jebloknya Persebaya barusan benar-benar karena internnya yang ruwet, dan keruwetan itu justru terjadi pada detik-detik akhir menjelang Ligina’.

Persebaya musim ini tidak dihadapkan pada masalah internal yang parah sebagaimana 2002. Namun spekulasi adanya masalah internal muncul di kalangan Bonek karena kegagalan manajemen mempertahankan mayoritas pemain yang memperkuat tim pada 2021-22. Kegagalan Persebaya bernegosiasi soal nominal gaji dengan sejumlah pemain inti memantik pertanyaan: benarkah Persebaya cukup bagus secara finansial. Pertanyaan ini tidak terjawab dengan terang.

Apapun itu, kegagalan Persebaya mempertahankan tim musim lalu yang banyak dipuji pengamat sepak bola nasional sebagai tim yang menghibur, berdampak pada urusan teknis di lapangan. Azrul Ananda sangat menjunjung tinggi ‘sustanaibility’ dalam mengelola Persebaya. Namun ‘sustainability’ dalam sepak bola bukan hanya pada aspek bisnis, tapi juga teknis di lapangan. Buruknya hasil yang dituai persebaya pada lima laga awal musim 2022-23 menunjukkan tidak adanya ‘sustainability’ tim.

Pelatih Aji Santoso harus memulai dari nol: mengajarkan filosofi bermainnya pada pemain-pemain baru. Sesuatu yang tak mudah dan butuh waktu. Terlihat dalam pertandingan, aliran bola antarlini di Persebaya tak semulus musim sebelumnya. Kran gol mampet. Jika pada musim lalu Persebaya mencetak delapan gol dalam lima pertandingan awal, kini Alwi Slamet dan kawan-kawan hanya mencetak lima gol.

Di sisi pertahanan, Persebaya sering kebobolan pada menit-menit akhir pertandingan. Iwan Rukmantoro Rachmadi, Bonek dan salah satu sejarawan Persebaya, mencatat Persebaya dari musim lalu sudah kehilangan sembilan angka karena gol pada masa injury time. “Di menit-menit itu semua pemain Persebaya tampak nge-blank, tidak tahu apa yang harus dilakukan,” katanya.

Kebobolan sekali dua kali pada menit krusial masih bisa dimaklumi. Namun kehilangan sembilan angka dari lima pertandingan terakhir karena hal yang sama tentu membutuhkan penjelasan. Ini bukan masalah teknis belaka. Jika benar apa yang disampaikan Iwan soal pemain ‘nge-blank’, maka ada faktor psikologis yang ikut bermain. Bagi tim yang diisi pemain muda, merawat dan menjaga mentalitas lebih penting daripada sekadar persoalan teknis.

Orang melekatkan filosofi ‘Gegenpressing’ pada Jurgen Klopp. Namun Klopp lebih banyak menyebut ‘Mentality Monsters’ dan ‘Intensity’ sebagai filosofinya. Mentalitas yang kuat menjadi kunci bagi sepak bola dengan intensitas tinggi yang diperagakan Liverpool. Mentalitas tak mudah panik ketika kebobolan dan tertinggal, serta tetap berfokus hingga menit akhir.

“There is a mentality installed in the group that they see each coming game as a final,” kata Pep Lijnders, tangan kanan Jurgen Klopp di Liverpool, dalam buku Believe Us – How Jurgen Kloipp Transformed Liverpool Into Title Winnners karya Melissa Reddy.

Saya berharap siapapun yang bertugas di Persebaya bisa mereparasi mental anak-anak muda ini. Hasil buruk dalam rangkaian pertandingan liga tak ubahnya sebuah lubang hitam atau pasir apung yang mengisap siapapun yang terjebak di dalamnya. Semakin kuat melawan, semakin terbenam dan akhirnya tenggelam. Persebaya tak boleh menjadi katak yang direbus dalam air hangat dan terlambat untuk menyadari hingga benar-benar tak bisa lepas dari zona nyaman palsu.

Berkaitan dengan mentalitas, dibutuhkan kejelian untuk menemukan momentum yang bisa membangkitkan semangat anak-anak muda di Persebaya. Alex Ferguson menemukan momentum itu saat Manchester United ditebas Aston Villa 1-3 pada 1995. Alan Hansen, pandit sepak bola BBC, mengatakan: ‘You can’t win anything with kids’. Anda tidak akan menang dengan pemain muda.

Pesan itu didengar oleh kamar ganti United dan Ferguson menggunakannya sebagai momentum untuk membangkitkan etos bertarung Ryan Giggs, Nicky Butt, David Beckham, Gary Neville, dan Paul Scholes. Menyitir lagu Sheila On7, ucapan Hansen ‘memunculkan kesombongan di masa muda yang indah’. Pemain-pemain senior di United seperti Eric Cantona dan Peter Schmeichel juga menjadi penyeimbang tim yang menenangkan para pemain muda.

Persebaya membutuhkan momentum itu dan pemain senior bisa menjadi suri teladan bagi pemain muda untuk melewati situasi ini. Seperti yang dilakukan Ferguson terhadap United. Membutuhkan mentalitas monster seperti yang ditanamkan Klopp kepada Liverpool. [wir]


Apa Reaksi Anda?

Komentar

beritajatim TV

Shin Tae Yong Puji Rumput Lapangan Thor Surabaya

Menjajal Mobil Listrik Wuling Air ev