Sorotan

Pekan 17 Liga 1

Da Silva, Osvaldo, dan Rian dalam Rumah Persebaya

Saya percaya dalam sepak bola, ada takdir yang mempertautkan pemain dan klub, dan David da Silva menemukan rumah bernama Persebaya untuk memenuhi takdirnya. Setelah sempat pergi setengah musim untuk bermain di Liga Korea, pemain asal Brasil itu kembali ke Surabaya. “I feel happy. I feel like home. When you come back to home, everything is good when we were happy,” katanya dalam kanal resmi Persebaya di Youtube.

Bagi Persebaya, Da Silva adalah anak yang pergi merantau dan kembali dengan sambutan antusias sebagai pembawa harapan. Tagar #Arekemoleh menandakan bagaimana pemain berusia 29 tahun itu dipandang sebagai bagian dari mesin tim yang selama ini dirindukan.

Dengan catatan 20 gol dan tiga umpan matang pada Liga 1 2018, Da Silva adalah pemain yang paling banyak terlibat dalam total gol yang diciptakan Persebaya (38,33 persen). Saya pernah menulis, salah satu penyebab kegagalan skema permainan Djajang Nurjaman selama melatih Persebaya pada Liga 1 2019 adalah tidak adanya Da Silva. Kehilangan da Silva bagi Persebaya tak ubahnya kehilangan Suarez bagi Liverpool atau Cristiano Ronaldo bagi Real Madrid. Taktik yang dikembangkan Djanur pada paruh kedua Liga 1 2018 sangat bergantung pada sosok Da Silva.

Dengan filosofi permainan Bejo Sugiantoro yang ofensif seperti Djajang, mengandalkan sayap yang agresif dan permainan dari kaki ke kaki, kehadiran Da Silva tentu saja mengembalikan apa yang hilang dari Persebaya: opsi serangan yang lebih direct dan variatif. Kehadiran Da Silva mengembalikan kegamangan pemain bertahan lawan menghadapi lini depan Persebaya. Dia juga menghadirkan opsi.

Ini terlihat saat Persebaya bertandang menghadapi Bhayangkara FC di Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi, Sabtu (31/8/2019). Da Silva langsung memberikan dampak dalam pertandingan pertamanya: satu gol dan satu umpan matang (assist) untuk Oktafianus Fernando. Kehadirannya membuat lini depan Persebaya lebih percaya diri.

Menit 33, Da Silva bisa membaca pergerakan Oktafianus yang mendadak berlari dari belakang dan memberikan bola datar. Oktafianus berhasil menaklukkan dua pemain Bhayangkara yang mengepungnya, sebelum melepaskan tembakan keras mendatar ke sudut kanan gawang Wahyu Tri Nugroho.

Da Silva beberapa kali menciptakan peluang untuk mencetak gol perdana dalam pertandingan perdana, sebagaimana dilakukannya saat melawan Persela Lamongan pada Liga 1 2018. Menit 45 + 1, dia berhasil membawa bola melewati pemain Bhayangkara memasuki kotak penalti. Wahyu yang maju menghadang berhasil dilewati. Namun tendangan Da Silva ke gawang yang melompong terlalu lemah.

Menit 57, serangan balik cepat yang dibangun Persebaya membuka peluang bagi Da Silva untuk menjebol gawang Bhayangkara, Namun bola operan Osvaldo Haay justru ditendang melambung terlalu tinggi.

Selain Da Silva, Osvaldo dan Rachmat Irianto layak dicatat sebagai pemain yang mempengaruhi pertandingan ini. Saat semua perhatian tersedot kepada Da Silva, Osvaldo sesungguhnya adalah pemain yang paling bersinar di lapangan. The unsung hero. Pahlawan yang tidak disanjung-sanjung. Pergerakannya merangsek di sayap kiri menutupi minimnya agresivitas Rachmat Irianto yang dipasang di bek kiri menggantikan Ruben Sanadi yang absen karena panggilan tim nasional.

Osvaldo adalah pemain yang paling memiliki perkembangan pesat di Persebaya. Usianya baru 21 tahun, dan mencetak sembilan gol dan tiga assist pada Liga 1 2018. Musim ini, dia sudah mencetak dua gol dan dua assist. Osvaldo dididik oleh Persipura. Namun pemain bernomor punggung 20 ini menemukan rumahnya di Persebaya.

Osvaldo berjasa membuka rekening gol Da Silva pada menit 79. Ia berlari kencang mengiris sisi kanan pertahanan Bhayangkara. Aksi individunya mengecoh dua pemain Bhayangkara dan melepaskan tembakan sekaligus memunculkan kemelut di depan gawang Wahyu. Bola muntah dari kemelut itu berhasil dimanfaatkan Da Silva yang tak terjaga.

Gol perdana. “Saya pikir kita harus berjuang setiap pertandingan,” kata Da Silva.

Da Silva benar, dan Rachmat Irianto itu adalah salah satu pejuang yang teguh dalam pertandingan tersebut. Setelah kemunculan Andik Vermansah dan Evan Dimas dari rahim pembinaan internal Persebaya di Karanggayam, Rian, sapaan akrab Irianto, boleh jadi adalah talenta terbaik yang dimiliki klub ini. Dia memiliki semua persyaratan untuk menjadi legenda klub. Persebaya seperti ditakdiran untuknya: lahir dari seorang legenda Bejo Sugiantoro dan memiliki kemampuan bermain di lima posisi. Rian adalah seorang pemain serba bisa sejati.

Sebelum mengisi posisi bek kiri, Rian pernah menempati posisi bek kanan, sayap, bek tengah, dan gelandang bertahan bersama Persebaya dan Frenz United. Dia seorang pemain yang langka dan berani bertarung mati-matian di lapangan. Menit 67, sebuah kemelut di daerah pertahanan Persebaya menumbangkannya dan membuatnya mengalami cedera kepala. Rian harus dilarikan ke rumah sakit. Belakangan Bejo bersyukur. “Tak ada yang serius,” katanya.

Persebaya akhirnya mengakhiri putaran pertama Liga 1 2019 dengan manis. Dan Bonek boleh bersyukur, sore itu tak ubahnya penahbisan Persebaya menjadi rumah bagi Osvaldo, Rian, dan Da Silva. Tinggal trofi yang bisa membaiat mereka menjadi legenda: cepat atau lambat. [wir]

Apa Reaksi Anda?

Komentar