Sorotan

Corona di 10 Negara Berpenduduk Terpadat di Dunia

Ainur Rohim

Hingga Kamis (2/4/2020), jumlah warga positif terpapar virus corona (Covid-19) terbanyak di seluruh dunia adalah di Amerika Serikat (AS). Sebanyak 216.322 warga AS dilaporkan positif terkena virus corona, dengan jumlah korban meninggal dunia sebanyak 5.123 jiwa.

Virus corona dengan jumlah korban meninggal dunia terbanyak berada di Benua Eropa, wilayah yang dipandang dengan tingkat kualitas kesejahteraan sosial ekonomi sangat baik dan teknologi kesehatan sangat memadai. Italia menjadi negara dengan jumlah penduduk meninggal dunia akibat corona terbanyak, yakni sebanyak 13.155 jiwa (per 2 April 2020) dan warganya positif terpapar virus corona sebanyak 110.574 warga.

Posisi kedua Spanyol dengan 104.118 warganya dipastikan terpapar virus corona dan sebanyak 9.387 warga  dilaporkan meninggal dunia akibat virus mematikan ini.

Walaupun virus ini pertama kali terdeteksi di Provinsi Hubei, beribu kota Wuhan, Republik Rakyat China, ternyata China yang memiliki populasi penduduk terbesar di dunia dengan jumlah 1,39 miliar jiwa, fakta obyektif menunjukkan jumlah warganya yang positif terpapar virus corona sebanyak 82.394 warga, dengan jumlah korban meninggal dunia sebanyak 3.316 orang.

Bagaimana dengan India? Negara yang sekarang dipimpin Perdana Menteri Narendra Modi itu, per 2 April 2020 dilaporkan, warganya yang positif terpapar corona sebanyak 1.998 warga, dengan jumlah korban  meninggal dunia sebanyak 58 orang. Jumlah korban mati di India jauh lebih kecil dibanding dengan di Indonesia, yang pada 2 April 2020, dilaporkan korban meninggal dunia di Indonesia sebanyak 170 orang. Padahal, jumlah penduduk India lebih 3 kali lipat
penduduk Indonesia. Data terakhir menyebutkan, jumlah penduduk India sebesar 1,34 miliar jiwa, sedang Indonesia berjumlah 268 juta jiwa.

Baik RRC maupun India adalah dua negara yang menerapkan kebijakan lockdown untuk menangkal dan menghentikan penyebaran wabah virus corona. RRC memutuskan kebijakan lockdown berlaku selama 2 bulan lebih, sedang India selama 3 minggu. Kontens kebijakan ini sangat keras, karena melarang warga beraktifitas di luar rumah.

Bagi RRC, kebijakan lockdown bukan hal mengejutkan, karena sistem politik negara ini totaliter. Di sana hanya ada satu partai tunggal: Partai Komunis China (PKC). Warga RRC sudah
terbiasa  tak berdebat dan sifat organisasi nonpolitik adalah corporatisme. Maksudnya, organisasi lain yang bersifat nonpolitik hakikatnya adalah kepanjangan kepentingan negara dan di bawah kontrol 100 persen negara di sektor kehidupan tertentu. Iklim zero perbedaan pendapat itu salah satu poin penting di balik keberhasilan China menerapkan kebijakan lockdown, yang berujung pada tuntasnya penanganan wabah virus corona di negara tersebut.

India lain lagi. Negeri tempat lahirnya agama Hindu ini merupakan negara demokrasi terbesar di dunia. Sekali pun India memiliki heterogenitas kultur dan nilai-nilai sinkretisme sangat kental, negara ini sudah terdidik dan terlembaga dengan demokrasi sejak kelahirannya. Setelah merdeka dari Inggris pada akhir 1940-an, India menerapkan sistem multipartai.

Bahkan, sistem multipartai di negara ini bercorak ekstrim, karena partai yang eksisting dan
berpartisipasi di setiap pemilu lebih dari 10 partai. Baik itu partai di tingkat nasional maupun partai lokal.

Iklim perbedaan pendapat adalah fenomena lazim dalam kultur politik India. Tak seperti RRC yang mengharamkan perbedaan pendapat. Dalam konteks menghadapi virus corona, India dan RRC, yang menganut sistem politik berbeda, menerapkan kebijakan administratif serupa melawan virus corona: Lockdown.

Catatan hingga 2 April 2020 menunjukkan, baik RRC maupun India, berhasil menekan jumlah warga meninggal dunia akibat virus mematikan ini.

Sekali pun kedua negara ini  memiliki tingkat populasi penduduk sangat besar. Dan India implementasi kebijakan lockdown berekses terjadinya tragedi kemanusiaan, karena ratusan ribu dan bahkan jutaan warga India berjalan kaki ratusan kilometer untuk pulang ke kampung halamannya, mengingat terbatasnya sarana transportasi dan cupetnya keuangan warga India yang hidupnya pas-pasan.

Yang mengejutkan dari fenomena mewabahnya virus corona di dunia adalah Amerika Serikat. Negara dengan jumlah penduduk sebanyak 328 juta jiwa ini mencatatkan angka signifikan warganya yang terpapar maupun meninggal dunia akibat virus ini. Data 2 April 2020 menunjukkan, sebanyak 216.322 warga Amerika Serikat dilaporkan positif terpapar virus corona dengan jumlah korban meninggal sebanyak 5.123 orang.

Amerika Serikat adalah negara maju dalam segala hal. Tingkat cadangan devisanya lebih dari USD 41 triliun, satu besaran angka cadangan devisa terbesar dibanding semua negara di dunia. Tingkat pendidikan dan kesejahteraan sosial warga AS nomor wahid di dunia. Di samping itu, negara ini menjadi pusat semua perkembangan teknologi, termasuk teknologi kedokteran.

Anehnya, Amerika Serikat agak kerepotan mengatasi serangan virus corona. Yang penting pula dicatat, Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump tak menerapkan kebijakan lockdown seperti RRC dan India. Otoritas politik Amerika Serikat lebih sreg mengambil kebijakan social distancing, seperti Indonesia, Swedia, Prancis, dan banyak negara lain.

Amerika Serikat yang seringkali dilihat sebagai pendekar demokrasi, tetap memberikan ruang kebebasan yang cukup lebar kepada warganya untuk beraktifitas, kendati virus corona menyerang sendi-sendi warga Amerika Serikat.

Indonesia adalah negara dengan jumlah populasi penduduk terbesar keempat di dunia di bawah Amerika Serikat. Negara ini kini menghadapi serangan virus corona dengan kebijakan non-lockdown. Ada kebijakan social distancing, kebijakan physical distancing, dan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Bahkan, tak menutup kemungkinan Indonesia menerapkan kebijakan darurat sipil untuk melawan virus corona.

Hingga Kamis (2/4/2010), jumlah warga Indonesia yang positif terpapar virus corona sebanyak Dari 1.790 orang. Dari jumlah tersebut, 112 orang yang dinyatakan telah sembuh, sementara mereka yang meninggal dunia mencapai 170 orang.

Dalam konteks ini, formula kebijakan yang diambil rezim politik Indonesia memiliki kemiripan dengan policy di Amerika Serikat, Korea Selatan, dan sejumlah negara lainnya. Di antara negara tersebut memiliki sejumlah kemiripan, seperti sama-sama menganut demokrasi sebagai panduan sistem politiknya.

Namun demikian, banyak hal yang jadi titik perbedaan, seperti besaran income per kapita, kapasitas cadangan devisa, karakter sosial masyarakat, level kemajuan ekonomi dan sosial negara, dan lainnya. Sangat besar kemungkinan social and physical distancing policy berhasil diterapkan
di Korsel, tapi tak ada jaminan efektif dan optimal keberhasilannya di negara lain ketika diimplementasikan.

Di bawah Indonesia, Brasil yang berada di Benua Amerika adalah negara dengan tingkat populasi terbesar kelima di dunia. Negeri Samba ini memiliki penduduk 210 juta jiwa dan hingga 2 April 2020 dilaporkan, jumlah penduduk Brasil yang positif terpapar virus corona sebanyak 6.931 warga dengan jumlah korban meninggal dunia sebanyak 244 orang. Brasil juga tak menerapkan kebijakan lockdown dalam menangani wabah virus corona ini.

Pakistan dengan jumlah penduduk  203 juta jiwa, dilaporkan warganya yang positif terpapar virus corona sebanyak 2.118 warga dan korban meninggal dunia sebanyak 27 orang. Negara Nigeria di Benua Afrika memiliki jumlah penduduk  193 juta jiwa, dengan jumlah warga yang positif terpapar virus corona 174 warga dan 2 orang meninggal dunia.

Bangladesh berpenduduk 166 juta jiwa, dilaporkan warga Bangladesh yang positif terpapar virus corona 54 warga dan korban meninggal dunia 6 orang.

Rusia  dengan jumlah penduduk 146 juta jiwa, hingga 2 April 2020 dilaporkan yang positif terpapar virus corona sebanyak 2.777 warga dengan jumlah korban meninggal dunia 24 orang.

Dan terakhir Meksiko yang berpenduduk  126 juta jiwa, dilaporkan yang positif terpapar virus corona 1.378 warga dan meninggal dunia 37 orang.  [air]

Apa Reaksi Anda?

Komentar