Sorotan

Corona dan Teori Konspirasi

Ilustrasi virus corona

Awalnya adalah Wuhan, China. Lalu kita tahu, korban bertumbangan. Daftar penderita semakin panjang karena Coronavirus Disease-19 (Covid-19) menyeberang cepat ke banyak negara, melintasi benua.

Tingginya tingkat migrasi dan mobilisasi manusia mempercepat penyebaran virus. Sejumlah negara terkaget-kaget. Sebagian segera bertindak mengambil kebijakan darurat. Sebagian justru pejabatnya melemparkan gurauan soal virus ini ke publik: kedaruratan dihadapi dengan tawa.

Di sejumlah negara, warganya menunjukkan dukungan dan kepatuhan terhadap protokol yang ditetapkan pemerintah. Di sebagian lainnya justru memanfaatkan momentum ini untuk kepentingan politik, menyerang pihak yang berseberangan.

Kemanusiaan kita diuji oleh virus ini. Virus ini menghadirkan dua hal sekaligus: kecemasan yang memunculkan solidaritas dan kepanikan yang memantik egoisme. Sebagian memilih menunjukkan dukungan untuk korban dan tenaga medis, sebagian memborong bahan makanan dan masker serta hand sanitizer.

Ini virus politik. Ekonomi terancam kolaps, dan virus ini lagi-lagi merepresentasikan pertarungan politik global saat pemerintah China menyemburkan teori konspirasi. Juru bicara kementerian luar negeri (Kemenlu) China Zhao Lijian mengklaim bahwa militer Amerika Serikat membawa virus korona atau Covid-19 ke Kota Wuhan.

Pemerintah AS tak merespons tuduhan itu. Namun mendadak dunia jadi seolah seperti panggung film Mission Impossible, di mana agen rahasia Ethan Hunt berlarian menghindari pelor, memburu Kaki Kelinci (sebutan untuk botol berisi cairan virus yang hendak dijadikan senjata biologi).

Bagaimana membuktikan tuduhan itu? Tidak bisa. Tepatnya belum bisa. Namun memang teori konspirasi paling sedap untuk mencari kambing hitam jika diperlukan.

Saya tak mengabaikan fakta bahwa konspirasi politik bukanlah hal yang mustahil. Toh semua negara di dunia punya agensi rahasia atau biro intelijen untuk melakukan ‘perang dalam kabut’. Desepsi adalah salah satunya. Deklasifikasi fail-fail CIA menunjukkan bagaimana operasi intelijen Amerika Serikat terjadi di sekujur dunia. Deklasifikasi juga menunjukkan fakta bahwa negara-negara lawan Amerika juga melakukan praktik intelijen yang sama.

Namun hari ini, teori konspirasi adalah hal terakhir yang dibutuhkan umat manusi untuk menghadapi corona. Teori konspirasi hanya menambah tensi ketegangan dan kecurigaan saat umat manusia membutuhkan kebersamaan. (wir/kun)





Apa Reaksi Anda?

Komentar