Iklan Banner Sukun
Sorotan

Cerita Pak J Suatu Hari

Ilustrasi anak panah [pexels.com]

Pak J datang dengan membawa cerita pada suatu hari. Tentang tetangganya, kenalannya. “Kita orangtua harus bijak ketika berkata-kata pada anak,” katanya kepada orang yang duduk di sebelahnya.

Ada apa gerangan? Pak J berkisah tentang tetangganya yang berkali-kali masuk dan keluar rumah sakit pada masa kanak-kanak. Tubuhnya memang ringkih. Orangtuanya habis-habisan membiyai pengobatannya yang tak murah, kata Pak J.

Orang bilang: itu ujian dari Tuhan. Seperti dulu Nabi Ayyub yang diuji kesabarannya dengan penyakit kulit yang tak juga sembuh. Nabi Ayyub diasingkan bahkan oleh keluarganya sendiri, karena bau anyir nanah yang muncul dari bisul yang meletus. Nabi Ayyub harus menanggung derita ini selama 18 tahun. Tapi ujungnya bahagia: sang nabi mengucapkan hal-hal baik dan didengar Tuhan. Ia sembuh.

Namun tetangga Pak J bukan Nabi Ayyub. Mendekati pun tidak. Dalam kejenuhan terhadap nasib dan derita tak tertanggungkan, orangtua si anak mengucapkan pernyataan semacam sumpah. “Pokok kamu sembuh dan sehat, Nak, kamu boleh nakal, dan senakal apapun, kami tak akan marah.”

Kalau saja ini kisah sinetron, saya membayangkan, begitu ucapan itu terlontar, petir menyambar, Geluduk terdengar. Tapi Pak J tidak berkata apapun soal geluduk dan petir. Dia bahkan tak mengatakan apakah hari itu hujan turun. Ia hanya berkata: ucapan itu mandi. Mandi, diterjemahkan dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia, artinya manjur, ampuh.

Hari-hari berikutnya seperti ada keajaiban. Si anak sembuh. Kondisinya membaik dan tak pernah keluar masuk rumah sakit lagi. Namun kenakalannya tak terperi. Kini dia masuk dan keluar penjara berkali-kali. Kejahatannya beragam, dan tak ada tanda-tanda dia bakal insyaf.

Seberapa ampuh ucapan orangtua? Seorang bocah perempuan berkali-kali dicubit oleh ibunya karena enggan belajar. “Duh, mudah-mudahan kamu jadi dokter beneran,” kata sang ibu sambil mencubit paha sang anak. Sang anak tentu saja menangis. Dia masih duduk di bangku sekolah dasar. Menjadi dokter tak terbayangkan di benaknya. Puluhan tahun kemudian, dia yang merawat ayahnya di rumah sakit yang dipimpinnya.

Struktur narasi kultur masyarakat Indonesia memberikan tempat terhormat bagi keramatnya ucapan orangtua, terutama ibu. Kisah Malin Kundang yang tak mengakui si ibu dan akhirnya dikutuk menjadi batu merupakan salah satu kisah paling populer di kalangan anak-anak. Didongengkan menjelang tidur, dikisahkan di sekolah, dicatat di buku-buku. Mungkin hanya kisah kancil mencuri mentimun yang bisa menandinginya.

Mungkin yang paling bagus adalah bagaimana Goenawan Mohamad menggunakan kisah Malin Kundang ini untuk membuka esainya berjudul Potret Penyair Muda sebagai Si Malin Kundang yang ditulis pada 1972.

Malin Kundang telah terkutuk, dan tak seorang pun mencoba memahaminya. Perahunya kandas di depan pantai, dan dalam legenda disebutkan, bahwa pemuda durhaka itu kemudian menjadi batu. Ibunya telah mengucapkan kutuk atas dirinya. Perempuan tua yang miskin itu kecewa dan sakit hati: anak tunggalnya tak mau mengenalnya lagi, ketika ia singgah sebentar di desa kelahirannya sebagai seorang kaya setelah mengembara bertahun-tahun. Dan kisah turun-temurun ini pun berkata, bahwa dewa-dewa telah memihak sang ibu. Ini berarti bahwa semua soal berakhir dengan beres: bagaimana pun, setiap pendurhakaan harus celaka. Tak seorang pun patut memaafkan Si Malin Kundang. Kita tak pernah merasa perlu memahami perasaan-perasaannya.

Goenawan menilis esai itu untuk menceritakan dirinya sendiri. Semacam esai biografis saya kira. Namun saya selalu tertarik bagaimana ia menempatkan Malin Kundang tak melulu sebagai pihak yang harus menanggung sendiri kesalahannya sehingga menjadi batu.

Kita tak pernah merasa perlu memahami perasaan-perasaan Malin Kundang, kata Goenawan. Memang tak pernah ada yang bertanya kepada Malin Kundang (cerita legenda bukan berita yang butuh verifikasi tentu saja), mengapa dia berlaku seolah-olah tak mengenal sang emak. Adakah perbuatan atau ucapan samg emak pada masa kecil yang membuatnya trauma dan memilih untuk lupa? Adakah doa jelek dalam ucapan si emak pada masa di Malin kanak-kanak?

Tak ada yang bisa menjawab pasti. Narasi masyarakat kita menempatkan orangtua pada posisi lebih tinggi, dan posisi anak tak lebih dari subordinat. Namun dari Pak J, kita tahu, bahkan setiap narasi hubungan orangtua dan anak selalu menghadirkan banyak kemungkinan. Seorang pencuri tak mendadak tumbuh menjadi pencuri tanpa melewati banyak fase hidup. Tak ada yang menebak apa yang dirasakan seseorang pada masa anak-anak dan bagaimana orangtua berucap.

Itulah kenapa kita akan selalu mengingat sajak Kahlil Gibran.

Kaulah busur,
Dan anak–anakmulah anak panah yang meluncur.
Sang Pemanah Maha Tahu sasaran bidikan keabadian.
Dia menantangmu dengan kekuasaan-Nya,
hingga anak panah itu meleset,
jauh serta cepat.

Mungkinkah tetangga Pak J, juga Malin Kundang, adalah anak panah yang meleset? Entahlah. Dalam hening, lamat-lamat mungkin ada baiknya kita mengingat apa yang pernah kita ucapkan kepada anak-anak kita: dengan hati-hati dan penuh rasa syukur, atau dengan serampangan dan penuh amarah.

Anak adalah kehidupan,
Mereka sekedar lahir melaluimu tetapi bukan berasal darimu. [wir/but]

 


Apa Reaksi Anda?

Komentar