Iklan Banner Sukun
Sorotan

Bagian (1)

Catatan Kecil Merawat Ibu Saya Saat Jalani Isolasi Mandiri Covid-19

Pasien Covid 19

Pengantar Redaksi:
Kami di beritajatim.com dibiasakan untuk menuliskan pengalaman apapun selama masa pandemi dan dibagikan kepada pembaca untuk membangkitkan empati dan optimisme. Jika ada kematian, maka dengan cerita, kita mengenang mereka yang pergi. Jika ada kesembuhan, maka dengan cerita, kita menguatkan mereka yang masih sakit. Berikut catatan Wahyu Hestiningdyah wartawan beritajatim.com yang merawat ibunya.

 

Surabaya (beritajatim.com) – Semua bermula dari batuk kecil yang berujung menjadi covid 19 menimpa ibu saya. Dua hari dalam pantauan akhirnya memutuskan untuk membawanya ke Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Islam Wonokromo untuk melakukan swab antigen, cek thorak dan penanganan infus serta konsultasi pada dokter. Setelah tahu hasilnya positiv beruntung bisa isolasi mandiri, namun tak semudah itu.

MEYAKINKAN ORANG TUA
Tindakan utama untuk segera mebawa ke rumah sakit adalah meyakinkan dia untuk menyembuhkan penyakitnya, berbincang dari hari ke hati untuk bisa menguatkan berdamai dengan dirinya sendiri ketika tahu jika hasilnya positive covid-19.Lakukan pendekatan secara care dengan pasien yang terkena covid-19 supaya lebih tenang dan tidak panik menghadapi virus ini. Lakukan pendampingan ketat di rumah jika dokter yang menangani sudah memberikan lampu hijau melakukan isolasi mandiri di rumah.Satu hal lagi siapkan mental, psikis dan jangan panik,pikirkan secara tepat ketika salah satu keluarga ada yang terpapar covud 19. Karena jika kondisi kita yang merawat panik, gelisah tentu membuat si pasien mengikuti pola buatlah segembira mungkin dengan ajak berkomunikasi atau bersenda gurau meskipun dengan jarak 2 meter di rumah.

AMATI GEJALA TUBUH
Saat itu batuk yang diderita masih tergolong ringan di hari pertama terkena batuk tapi sore menjelang malam tiba- tiba demam, dan beri obat penurun panas untuk antisipasi lalu biarkan istirahat dan lakukan pengamatan selama dua hari.

Jika batuk belum reda, langsung bawa ke rumah sakit. Saat itu yang ada dipikiran saya adalah mendapat penanganan dulu minimal mendapat infus dan melakukan tes lengkap perkara mendapat bed atau kamar dipikir nanti karena kondisi memang masih bisa

BEKERJA SAMALAH DENGAN DOKTER
Pendaftaran di UGD saya lakukan, pemeriksaan tensi darah, saturasi oksigen dilakukan awal sebelum dokter memberikan penanganan. Beruntung saat itu ibu mendapat bed untuk beristirahat sambil menunggu dokter.

Berkomunikasi dengan dokter untuk mengambil tindakan yang terbaik, saat itu dokter menyarankan untuk swab antigen dan thorax baik saya lakukan sesuai intruksi. Hasil keluar positiv, pihak keluarga di panggil dan berkonsultasi untuk di rawat di rumah sakit atau dirumah namun saat itu kondisinya jika harus dirawat di rumah sakit harus menunggu 20 pasien lagi.

Namun setelah melihat hasil Thoraq dalam keadaan baik-baik dokter memberikan rekomendasi obat, dan melakukan isoman dirumah namun tetap dalam pantauan keluarga dan menjaga protokol kesehatan.

Peralatan yang harus punya saat isolasi mandiri dirumah
Selain obat generik yang diberikan oleh dokter rumah sakit berdasar resep, pasien juga masih ada suplay obat pendamping salah satunya vitamin dan probiotik.

Namun bukan hanya itu yang lebih penting adalah memiliki tensi darah dirumah, termometer, oxymeter dan tabung oksigen jika benar-benar di butuhkan. Karena dalam masa isolasi pasien harus terus di pantai 3x dalam sehari untuk cek tensi darah, detak jantung, oksigen dalam tubuh dan berapa suhu tubuhnya.

LAPORKAN KE PUSKESMAS
Di kampungku sangat pasif, padahal sudah laporan ke kader kampung namun ternyata hingga hari ke tiga satgas kampung tidak merespos dan akhirnya saya melakukan tindakan sendiri dengan melaporkan jika warga ada yang positiv ke puskesmas.

Beruntung puskesmas setempat tanggap dan memberikan pelayanan pcr kepada ibu saya. Maka antisipasi paling awal ketika satgas kampung tidak dengan sigap melakukan pendataan segeralah berkomunikasi dengan pihak puskesmas untuk tindakan dan arahan selanjutnya.

SEMUA HARUS DIBEDAKAN
Kebetulan saya hanya tinggal berdua dengan ibu, otomatis butuh energi ekstra untuk merawat supaya tidak tertular, apa yang saya lakukan pertama pisahkan kamar mandi. Ini adalah pekerjaan rumah terberat karena rumah kami hanya memiliki satu kamar mandi tapi itu tidak menjadi satu masalah saya menyulap tempat cucian di samping rumah untuk dijadikan tempat mandi jadi benar- benar terpisah.

Setiap hari setelah selesai ibu mandi saya bergegas untuk membersihkan kamar mandi dengan sabun detol, menyeprot ruangan terutama pintu,kran, wc, gayung,tempat sabun, tempat sikat gigi.

Wajib berjemur di luar rumah ya maksimal 1 jam, disaat berjemur saya membersihkan seluruh rumah setiap hari nyapu, ngepel seluruh ruangan, menyemprot rumah dengan disinfektan dan menyemprot peralatan terutama di tempat tidur ibu.

Memisah peralatan makan, itu penting piring, gelas, mangkuk meski kita satu masakan namun setelah memasak pisahkan dan beri asupan makanan yang sehat.

Pisahkan cucian piring dan pisahkan bak pakaian kotor jika mencuci sebelum mencuci usahakan di siram dulu menggunakan air hangat untuk menghilangkan bakteri dan virus. [way/ted]


Apa Reaksi Anda?

Komentar