Sorotan

Catatan dari Karanggayam

Tentu saja sepak bola tak ada urusan dengan klenik. Kalau ada urusan dengan klenik, seharusnya Indonesia jadi juara dunia sejak dulu, atau tim dari negara-negara Afrika yang terkenal dengan deretan dukun sakti mandraguna. Tapi ada tempat seperti Bootroom di Liverpool dan Wisma Persebaya di Karanggayam Surabaya yang jadi bagian dari mitos magis dalam sepak bola.

Bootroom, dari namanya saja kita tahu, ini tempat menyimpan sepatu di Stadion Anfield. Setiap kali jelang atau setelah pertandingan, para letnan anak buah Bill Shankly seperti Bob Paisley, Ruben Beunett, Joe Fagan, dan Ronnie Moran berkumpul. Kadang hanya untuk bersantai, kadang serius, membahas taktik sepakbola. Ada kalanya manajer tim lawan diundang usai pertandingan untuk sekadar ngobrol sambil minum bir dingin

Banyak yang penasaran ada apa dengan Bootroom. Namanya legendaris, seiring dengan penaklukkan daratan Inggris dan Eropa oleh pasukan merah Liverpool sepanjang era 1970-1990. Dan faktanya setelah Bootroom dirobohkan dan diubah jadi tempat parkir pada era 1990-an, tak ada lagi magis di Liverpool FC. Liverpool pun tak lagi dominan. Nama Bootroom diabadikan jadi nama kafe di stadion. Tapi semua tak lagi sama.

Bootroom merepresentasikan bagaimana magis dalam sebuah klub sepak bola terbentuk oleh sejarah panjang dan capaian-capaian: ada proses yang tak instan dan bukan sekadar menyalakan lilin seperti babi ngepet.

Persebaya memiliki Wisma Persebaya di Jalan Karanggayam Nomor 1, yang sebagaimana Bootroom di Liverpool, menjadi bagian dari catatan perjalanan klub. Wisma ini belakangan berubah nama menjadi Wisma Eri Irianto, disesuaikan dengan nama pemain Persebaya yang meninggal di lapangan saat bertanding.

Terletak bersebelahan dengan Stadion Gelora 10 Nopember di Tambaksari, Wisma Eri Irianto berada dalam satu kompleks dengan Lapangan Persebaya. Lapangan Persebaya menjadi tempat berlatih pemain-pemain Bajul Ijo dan lokasi untuk memutar kompetisi amatir klub internal selama bertahun-tahun. Kompetisi ini yang memasok pemain untuk Persebaya dan membuat Bonek tak pernah kehabisan idola lokal.

Wisma Eri Irianto, sebelum saham mayoritas klub dimiliki Azrul Ananda, digunakan sebagai tempat berlatih dan berkumpul pemain Persebaya, terutama dari luar daerah. Puluhan trofi disimpan dalam lemari kaca: menandakan bagaimana posisi klub ini dalam peta sepak bola nasional.

Dalam masa perlawanan terhadap PSSI yang membekukan dan menduplikasi Persebaya, wisma ini adalah salah satu pertahanan identitas terakhir untuk membedakan dengan klub bikinan PSSI. Setiap hari selalu ada Bonek yang datang dan berjaga di sana, khawatir bangunan itu dikuasai musuh. Wisma Karanggayam berubah menjadi benteng.

Saat Persebaya kembali disahkan untuk berkompetisi, Wisma Eri Irianto dan Lapangan Persebaya justru ditinggalkan. Para pemain yang tak punya rumah di Surabaya diinapkan di apartemen. Latihan digelar di Sidoarjo atau lapangan sepak bola milik kepolisian. Wisma Eri Irianto mendadak menjadi ‘museum’: bersejarah tapi tak diminati.

Perhatian publik kembali tertuju ke sana setelah mendadak Pemerintah Kota Surabaya mengirimkan satuan polisi pamong praja untuk mengosongkan tempat itu, Rabu (15/5/2019). Wali Kota Tri Rismaharini menyatakan pihaknya ingin menyelamatkan aset. Izin penggunaan wisma itu oleh Persebaya sudah berakhir dalam tiga tahun terakhir.

Isu pun bergulir, bahwa Wisma Persebaya akan dialihfungsikan jadi lapangan tembak. Namun Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya Eri Cahyadi menyatakan tak akan ada perubahan fungsi. “Kami pastikan Lapangan Karanggayam ini full untuk sepak bola,” katanya.

Rencananya, wisma itu akan menjadi milik bersama. Tak hanya Persebaya berkantor di sana, tapi juga Dinas Pemuda dan Olahraga Surabaya dan Asosiasi Sepak Bola Kota Surabaya. “Pengembangan sepak bola antara pemkot dan Persebaya akan kami sinergikan,” kata Eri.

Saya belum tahu pasti bagaimana kelak pola kerjasama Persebaya dan Pemkot Surabaya terkait wisma itu. Namun urusan penguasaan atas wisma di Karanggayam menandai betapa rentannya relasi Persebaya dengan pemerintah setelah klub itu beralih status menjadi perseroan terbatas.

Secara historis, Persebaya yang dibentuk oleh klub-klub amatir Surabaya memiliki hubungan politik dengan pemerintah pasca kemerdekaan. Namun relasi ini sejauh ini tak pernah ditandai dengan dokumen hitam di atas putih yang menegaskan bahwa Persebaya adalah milik pemerintah kota. Namun selama bertahun-tahun pula, Persebaya mendapat fasilitas dari Pemkot. Tak hanya pendanaan, namun juga infrastruktur seperti penggunaan stadion dan wisma maupun lapangan di Karanggayam. Jadi praktis, sebagai sebuah entitas, Persebaya tak punya aset dalam arti sesungguhnya kecuali nama klub.

Persebaya bukan fenomena unik, karena hal serupa juga terjadi pada seluruh klub eks perserikatan. Mereka tak punya aset sebagai modal awal saat berubah status menjadi klub profesional yang terlepas sama sekali dari campur tangan negara. Satu-satunya ‘aset’ adalah lisensi berkompetisi, yang sialnya di Indonesia malah diperdagangkan dengan risiko perubahan nama klub.

Saya pernah bertemu dengan salah satu pemilik klub yang menyatakan hendak menjual klubnya. “Rp 300 juta saja,” katanya. Pemilik baru nantinya punya hak untuk memindahkan home baseĀ  dan bahkan mengganti nama klub.

Persebaya terselamatkan dari praktik seperti itu. Alhamdulillah. Tak ada yang berani mengubah namanya maupun memindahkan kandangnya. Namun ada persoalan yang tak kelar seperti masalah aset milik Pemkot yang selama ini ditempati Persebaya. Azrul Ananda, Presiden Persebaya, sudah benar dengan mulai menanggalkan ikatan dengan Pemkot dan mulai membangun institusi profesional dalam arti sesungguhnya.

Namun langkah itu seharusnya bukan berarti memutus sama sekali mata rantai historis dengan masa lalu. Wisma Karanggayam adalah salah satu mata rantai tersebut. Pemkot Surabaya tak salah saat menyatakan ingin menyelamatkan aset daerah. Masalahnya adalah bagaimana kemudian skema untuk mempertahankan relasi historis dengan Persebaya.

Sebuah klub sepak bola seperti Persebaya tak hidup hanya untuk hari ini maupun masa depan. Klub sepak bola adalah bagian dari dinamika masa lalu yang menjejakkan nostalgia dan kenangan bagi warga kota. Tanpa pondasi yang dibangun pada masa lampau, tak ada Persebaya hari ini. Itulah kenapa saat peralihan status menjadi profesional, klub-klub internal yang membangun Persebaya pun dilibatkan (terlepas kemudian ada sejumlah klub amatir yang berpisah jalan dalam proses itu).

Saya mendukung langkah Azrul untuk membangun infrastruktur yang menjadi aset mandiri Persebaya. Problemnya pembangunan infrastruktur seperti lapangan latihan, mess, hingga stadion adalah proyek jangka panjang. Sebelum berhasil mewujudkannya, meminjam atau menyewa adalah skema paling realistis. Dalam konteks menghargai relasi dan mata rantai kesejarahan, sebenarnya tak ada yang keliru jika kemudian Bonek berharap Persebaya tetap memakai Wisma Eri Irianto dan Lapangan Karanggayam daripada menyewa lapangan milik Kepolisian Daerah Jawa Timur atau stadion milik Pemerintah Kabupaten Sidoarjo. Tentu poin-poin kerjasama dengan Pemkot Surabaya seharusnya diperjelas.

Ini membutuhkan kebesaran hati Azrul dan Risma untuk duduk bersama. Ada banyak spekulasi tentu saja kenapa Risma dan Azrul berseberangan, padahal saat pemilihan wali kota, Azrul adalah pendukung Risma. Namun tulisan ini tak hendak mengurai perselisihan itu.

Tulisan ini hanya mengingatkan (mungkin agak naif) bahwa dengan kembali ke Karanggayam, kita berharap kembalinya magis Persebaya sebagai tim besar. Kembali ke Karanggayam mengingatkan para pemain untuk siapa mereka bertanding. Nuansa magis ini yang hilang dari Persebaya di lapangan.

Sejarah panjang klub sepak bola dipahat dengan keberhasilan dan kegagalan, kemenangan dan kekalahan. Dan sebagaimana Bootroom untuk Liverpool, selalu ada tempat bagi Karanggayam dalam proses dan sejarah panjang Persebaya. Para pemain perlu diingatkan soal itu. Atau kita memang berniat memuseumkan Karanggayam sebagaimana menyisakan nama Bootroom hanya sebagai nama kedai kopi. [wir/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar