Sorotan

Bulan November 1979 di Masjidil Haram Mekkah (2)

Ainur Rohim (Penanggung jawab beritajatim.com)

Siapakah Juhayman al-Utaybi, seorang tokoh Islam Ultra-Konservatif yang memimpin penyerbuan dan pengepungan Masjidil Haram pada Selasa pagi, 20 November 1979? Dia seorang Arab keturunan Badui yang pernah masuk dan menjadi anggota Garda Nasional Saudi, dengan pangkat terakhir tak sampai kopral.

Karir militernya tak tuntas. Pada 1973, Juhayman mengundurkan diri dari Garda Nasional Saudi yang dipimpin Pangeran Abdullah, kelak menjadi raja Saudi menggantikan Raja Fahd.

Walaupun struktur, uniform, dan perangkat keras Garda Nasional Saudi didesain serta dilengkapi dengan peralatan militer modern, namun kekuatan militer ini cenderung memilih keprajuritan dengan model milisi suku, serta sangat sedikit tingkat kepedulian terhadap disiplin militer secara rigid dan taat asas.

“Dalam pasukan itu, kelompok-kelompok milisi diorganisir berdasarkan model pasukan kesukuan dan melakukan latihan sembarangan ketika waktunya tiba. Kebanyakan para anggota Garda itu, yang terdiri dari para remaja sampai orang-orang tua beruban, tidak pernah merasa susah sewaktu dipanggil untuk latihan,” tulis Yaroslav Trofimov (2017) dalam bukunya berjudul: Kudeta Mekkah, Sejarah yang Tak Terkuak.

Lepas dari dinas militer Saudi, yang dilakukan Juhayman kemudian adalah memperdalam ilmu-ilmu agama Islam, khususnya aliran Islam Wahabi, yang menjadi kekuatan mainstream di Saudi. Juhayman tinggal di sebuah rumah kecil di kawasan miskin Madinah, di mana dia memperoleh kuliah dari ulama berpengaruh Saudi, Ibn Baz, yang isi ceramah dan pidatonya memukau banyak warga Saudi, terutama kalangan pelajar, mahasiswa, dan aktivis Islam.

Selain itu, sebelum lepas dari dinasmiliter Garda Nasional Saudi, Juhayman yang memiliki banyak waktu luang di sela-sela tugasnya sebagai anggota Garda Nasional Saudi, seringkali mengikuti kuliah-kuliah Islam di Mekkah, bersama dengan para ulama tersohor di sana, seperti Syekh Muhammad Bin Subail, Imam Masjidil Haram, yang menjadi sebagai salah satu tutornya.

Layaknya sebagai pengikut aliran Wahabi Ortodoks, Juhayman tidak merokok, karena menilai mengonsumsi tembakau sebagai sebuah dosa. Tapi rasa muaknya terhadap negara Saudi, rezim penguasa politik, dan hukum-hukum positif yang diterapkan di negara tersebut lebih besar dari kebenciannya kepada rokok dan tembakau.

Yang menarik, kendati tidak merokok, sebagai tambahan pendapatan dari profesinya di Garda Nasional Saudi, Juhayman melakukan perdagangan menguntungkan melalui penyelundupan rokok-rokok murah dari Kuwait.

“Selama 18 tahun karirnya di Garda Nasional Saudi, Juhayman belum pernah naik sampai pangkat kopral, dan kebanyakan tugas dan tanggung jawab yang diberikan kepadanya adalah sebagai sopir truk air. Namun demikian, Juhayman memiliki keahlian dalam menembak. Dia juga selalu menjaga hubungan dengan sepupu, sanak famili, dan sahabat-sahabat yang dikeluarkan dari pasukan serta lembaga keamanan Saudi lainnya,” tambah Yaroslav.

Abdul Aziz Bin Baz (Ibn Baz) di era itu adalah ulama dan syekh populer dengan jutaan pengikut di Saudi. Sebagai ulama Islam Wahabi yang sangat dihormati, kendati matanya buta, dia menjadi salah satu ulama dari sekian banyak syekh yang menentang kehadiran dan dominasi pengaruh Amerika Serikat dan negara-negara Barat di Saudi. Juhayman merupakan salah satu pengagum dan pengikut Ibn Baz.

Yaroslav menulis, dalam sebuah fatwa yang berapi-api di tahun 1940-an dan kemudian mendapat pujian dari kaum ikhwan yang masih hidup, Ibn Baz menguraikan penolakannya terhadap kehadiran Barat di Saudi, sama seperti yang diserukan militant al-Qaeda saat ini.

Ibn Baz dikagumi dan dihormati lantaran pengetahuannya yang mendalam tentang ilmu Hadits, sebagai sumber pokok hukum Islam setelah Al Qur’an. Al Hadits, menurut Ibn Baz, menegaskan larangan tradisional akan kehadiran orang-orang kafir di Mekkah dan Madinah hingga ke seluruh wilayah jazirah Arab. Adalah haram mempekerjakan pegawai nonmuslim, baik laki-laki maupun wanita di Teluk Arab, karena Nabi…memerintahkan semua orang Yahudi dan Kristen untuk keluar dan yang tersisa hanya orang-orang muslim, tulis Ibn Baz.

Perspektif geopolitik kawasan Timur Tengah sebelum kejadian pengepungan Masjidil Haram di bulan Nopember 1979, Raja Faisal, penguasa Saudi sebelum Raja Khalid, yang dikenal istiqomah, sederhana, bertaqwa, dan memiliki spirit politik pembelaan yang kuat terhadap Palestina, mengundang ribuan anggota Ikhwanul Muslimin ke Saudi.

Langkah ini merupakan dari spirit Pan-Islamisme yang didengungkan raja ketiga Kerajaan Arab Saudi. Ikhwanul Muslimin merupakan organisasi yang didirikan Hasan Al Banna, yang memiliki networking sosial dan politik yang kuat di kalangan masyarakat Mesir.

Didirikan di Iskandariyah Mesir, Ikhwanul Muslimin saat itu dimusuhi rezim politik Mesir yang dipimpin Jenderal Gamal Abdul Nasser. Pasukan rahasia Ikhwanul Muslimin pernah mencoba melakukan pembunuhan terhadap Janderal Nasser, namun gagal.

Setelah itu, organisasi ini dicabut perlindungan hukumnya di Mesir. Para pemimpin dan anggotanya mengalami banyak penyiksaan di Mesir dan Suriah.

Di negara Suriah rezim yang memerintah adalah Presiden Hafidz Al Asad dengan Partai Baath, partai berhaluan sosialisme, yang dipimpinnya. Bahkan, pemimpin ideologi Ikhwanul Muslimin, Sayyid Qutb, seorang yang masih dipuja di dunia Islam radikal, telah dihukum gantung di Kairo, ibukota Mesir.

“Saudara laki-laki Qutb bernama Muhammad disambut dengan cara militer di Arab Saudi. Dia bersama pelarian Ikhwanul Muslimin lainnya diberi kepercayaan mengajar di universitas-universitas baru milik kerajaan. Di antara mahasiswa-mahasiswa mereka itulah banyak terdapat cikal bakal pengikut Juhayman, termasuk salah satu anak Muhammad Bin Laden yang masih muda: Osama Bin Laden,” tulis Yaroslav.

Reputasi internasional Raja Faisal, raja yang memerintah sebelum Raja Khalid, sebagai pembela Islam yang konsisten terutama terkait masalah Palestina, memberinya legitimasi untuk menghilangkan pola pikir sempit paham Wahabi di dalam negeri yang bertentangan dengan perkembangan zaman, yang enggan mengikuti, dan kebanyakan orang-orang Arab Saudi buta huruf, menutup diri terhadap modernitas. Dalam konteks ini, Raja Faisal mencoba berusaha mengabaikan para penjaga ortodoksi Wahabi yang tekstual, konservatif, dan rigid. [air/bersambung]



Apa Reaksi Anda?

Komentar