Sorotan

Bulan Nopember 1979 di Masjidil Haram Mekkah (3)

Ainur Rohim, Penanggung Jawab beritajatim.com dan Ketua PWI Jatim

Nama Abdul Aziz Bin Baz (Ibn Baz) adalah ulama ternama dan tersohor di Arab Saudi di era 1970-an, ketika terjadi pengepungan dan penyerangan Masjidil Haram pada Selasa pagi, 20 Nopember 1979.

Ibn Baz sangat dihormati ulama aliran Wahabi lainnya di Saudi, termasuk keluarga besar Ibnu Saud yang memegang politik pemerintahan di negara tersebut. Dia ditempatkan sebagai penjaga ortodoksi Wahabi yang konsisten, dengan bekal pengetahuan keagamaan yang mumpuni, mendalam, dan paripurna.

Fatwa dan pandangan keagamaan Ibn Baz seringkali dijadikan pegangan, referensi, dan rujukan bagi ulama Wahabi lain dan warga Saudi secara mayoritas. Secara fisik Ibn Baz tunanetra. Tapi pengetahuan dan wawasan ilmu keagamaan Islam, khususnya Ilmu Hadits, sangat mendalam, mumpuni, dan komprehensif.

Relasi antara politik dan teologi (Islam) yang erat dan kuat di lanskap politik praktis Saudi, menempatkan Ibn Baz diperhatikan rezim politik dari keluarga al-Saud, sejak Raja Abdul Aziz hingga anaknya, Raja Khalid Bin Abdul Aziz.

Sekali pun seringkali bersuara lantas, melontarkan kritikan keras dan pedas, positioning Ibn Baz dalam struktur pemerintahan Kerajaan Saudi selalu diindahkan dan tak pernah diabaikan.

Ibn Baz pernah menduduki satu jabatan penting di Universitas Madinah: sebuah lembaga pendidikan tinggi keagamaan dan ilmu pengetahuan yang memiliki reputasi dan kredibilitas baik. Setelah itu, dia dipindahkan ke Ibukota Riyadh untuk menerima amanat dari negara menangani Departemen Penelitian dan Pengarahan Ilmu Pengetahuan.

Sosok ulama bersuara vokal ini mengemban amanat dan wewenang begitu besar di departemen tersebut. Sebab, departemen yang ditangani Ibn Baz mendapat tugas dan tanggung jawab untuk menginterpretasikan hukum Islam, satu-satunya hukum positif di dalam negeri Saudi yang sah.

Sekaligus mengeluarkan fatwa-fatwa, serangkaian pendapat keagamaan mengenai semua aspek kehidupan kerajaan secara komprehensif.

“Di Arab Saudi, di mana legitimasi politik rezim semuanya didasarkan pada perintah Islam, posisi baru Ibn Baz sebagai ketua departemen tersebut menempatkan dirinya layaknya seorang menteri senior. Sejak saat itu, setiap minggu, ulama tunanetra ini tampil di televisi, duduk dengan khidmat di samping raja dan mendiskusikan persoalan-persoalan negara dalam sebuah ruang istana yang megah,” Yaroslav Trofimov (2017) dalam bukunya berjudul: Kudeta Mekkah, Sejarah yang Tak Terkuak.

“Hal itu membuktikan bahwa Ibn Baz yang dikenal memiliki keyakinan akan kebenaran sejati ini menguasai posisi strategis di samping keluarga al-Saud,” tambah Yaroslav.

Sebagai penjaga dan pengawal ortodoksi Wahabi yang konsisten, Ibn Baz tak sungkan-sungkan menyampaikan pandangan dan kritikan bernada tajam dalam menjaga tradisi dan purifikasi ajaran Wahabi.

Misalnya, Ibn Baz menyerang praktek pemerintah yang menempatkan potret atau foto raja di dinding-dinding perkantoran. “Tidak diperbolehkan menggantung gambar-gambar di dinding….dan menjadi keharusan mencabut gambar-gambar tersebut. Menggantung sebuah gambar bakal membuat orang mengagumi dan menyembahnya, terutama jika gambar itu adalah seorang raja,” perintah Ibn Baz dalam sebuah pernyataannya.

Begitu pun dengan rokok. Tak tanggung-tanggung, Ibn Baz berpendapat bahwa rokok itu sama haramnya dengan daging babi dan alkohol. Padahal, rokok dijual secara legal di wilayah Kerajaan Saudi.

“Bahkan, bertepuk tangan juga adalah perilaku yang dilarang menurut  Ibn Baz. Sebab, bertepuk tangan itu berusaha meniru perilaku orang Barat. Pandangan tentang prinsip perempuan Arab adalah hal lain yang ditentang keras Ibn Baz, misalnya aktifitas wanita di luar rumah dan guru wanita yang diperbolehkan untuk mengajar di sekolah yang muridnya laki-laki,” tulis Yaroslav.

“Usulan itu diinspirasi setan dan pembantu-pembantunya…Dan hal itu membuat senang musuh-musuh kita dan musuh-musuh Islam. Ini karena, ketika seorang bocah laki-laki mencapai usia 10 tahun, dia dianggap sudah remaja. Maka secara alamiah, ia punya kecenderungan terhadap perempuan. Orang seperti dia bahkan bisa menikah serta bisa melakukan apa yang orang-orang lakukan,” kata Ibn Baz.

Tak semua pandangan dan masukan Ibn Baz direspon positif secara keseluruhan  pemerintah Kerajaan Saudi. Tak jarang, penguasa menutup telinga dan mengabaikan nasihat Ibn Baz. Tak jarang pandangan yang diajarkan Ibn Baz bertentangan dengan policy Kerajaan Saudi.

Sebagai penjaga ortodoksi Wahabi yang pengaruhnya luas dan sangat dihormati, Ibn Baz kemudian mengembangkan gerakan dakwah baru yang bertujuan menyebarkan kembali kesetiaan dan ketaatan terhadap ajaran dan ortodoksi Wahabi secara konsisten dan paripurna.

“Gerakan yang diiniasi Ibn Baz itu bernama Dakwah Salafiyah al-Muhtasiba,” tulis Yaroslav. Artinya, gerakan Islam yang mengikuti cara hidup para sahabat, dan yang dilakukan dengan cara-cara yang mulia.

Yang menarik, kebanyakan dari anggota gerakan ini adalah mereka yang mendapat gaji dari negara, termasuk Juhayman al-Utaybi dalam kapasitas dan posisinya sebagai anggota Garda Nasional Saudi dengan pangkat rendah. Jaringan dakwah ini dalam tempo cepat segera meluas di banyak wilayah di Saudi.

Ada banyak teknik dakwah yang diajarkan Ibn Baz dan ulama-ulama senior Wahabi lainnya. Satu di antaranya adalah menawarkan kepada anak-anak muda padang pasir yang miskin sebuah acara di akhir pekan.

Selama dua hari, peserta akan mendengarkan kuliah agama di sebuah tempat yang panas dan membuat peluh keringat bercucuran. Mereka hanya diberikan konsumsi berupa roti kering yang dibumbui dengan air cuka.

“Dan Juhayman dengan latar belakang padang pasirnya menerima indoktrinasi alami seperti itu. Tak lama kemudian, Juhayman mencapai posisi yang terus menanjak dalam hirarki Dakwah al-Muhtasiba, yakni menjadi koordinator utama untuk gerakan keluar, sekaligus perjalanan dalam rangka rekruitmen pengikut melampaui negeri tersebut. Pada musim haji 1976, Juhayman sudah menjadi seorang yang mempunyai kewenangan cukup mapan, mengawasi kamp para tokoh Dakwah al-Muhtasiba yang tengah melaksanakan ibadah haji di Masjidil Haram,” tulis Yaroslav.

Relasi antara Ibn Baz dan ulama senior aliran Wahabi lainnya terhadap keluarga al-Saud yang memerintah Kerajaan Saudi terbangun kuat dan lama. Dalam memberikan perlindungan agama terhadap keluarga penguasa, Ibn Baz dan ulama-ulama berpengaruh aliran Wahabi lainnya, membubuhkan kontradiksi yang terus-menerus meledak di Saudi.

“Berkaca pada inti pelajaran yang diberikan Raja Abdul Aziz pada Ibn Baz sebelum tahun 1940-an, ulama senior ini meyakini bahwa teori dan praktek adalah sesuatu yang berdiri sendiri: penolakannya terhadap gaya hidup modern tidak berarti harus berdiri pada garis oposisi terhadap keluarga kerajaan. Adalah sah untuk mengkritik usulan reformasi, tapi bukan pada pemerintahan yang mapan.  Melawan pemerintah, menurut ulama Wahabi, adalah dosa besar,” urai Yaroslav. [air/bersambung]



Apa Reaksi Anda?

Komentar