Sorotan

Bulan Nopember 1979 di Masjidil Haram Mekkah (1)

Ainur Rohim, Penanggung Jawab beritajatim.com dan Ketua PWI Jatim

Di tahun 1979, ada dua peristiwa politik penting di kawasan Middle East and North Africa (MENA). Kedua peristiwa bernilai politik sangat tinggi adalah: Pertama, revolusi Islam Iran di bawah pimpinan Ayatullah Rohullah Khomeini (Imam Khomeini) pada Februari 1979.

Revolusi yang digerakkan dengan berlandaskan nilai-nilai spiritualitas-religiusitas Islam yang kuat, terutama Islam Syiah, yang menjadi kekuatan teologi mainstream di Iran.

Revolusi Islam Iran mengubah platform politik negara ini, dari ideologi politik sekuler dan ke-Barat-baratan berubah ke haluan yang menempatkan Islam sebagai landasan ideologi politik kenegaraan dan kebangsaan secara paripurna.

Peristiwa kedua, pengepungan dan penyerbuan ke Masjidil Haram pada hari Selasa pagi, 20 Nopember 1979. Penyerbuan tempat suci bagi umat Islam sedunia itu dilakukan seorang pengkhutbah kharismatik keturunan Badui berusia 40 tahun bernama Juhayman al-Utaybi. Penyerbuan Masjidil Haram tersebut berlangsung sekitar 20 hari setelah puncak ibadah haji.

Pengepungan Masjidil Haram tahun 1979 telah mengubah sejarah Arab Saudi, baik dalam perspektif politik, ekonomi, sosiologis, dan kultural. Setelah peristiwa tersebut, peta sosiologis, kultural, dan teologis Arab Saudi kembali bergerak ke arah konservatif. Aksi Juhayman menghentikan semua modernisasi yang dilakukan negara itu di bawah pimpinan Raja Khalid Bin Abdulaziz.

Salah satu contoh sederhana adalah penghapusan presenter perempuan dari televise (TV). Setelah insiden Masjidil Haram, tak ada presenter perempuan muncul di TV lagi di Saudi. Poin itu salah satu yang diminta kelompok Juhayman dari pemerintah Saudi.

Sehingga Arab Saudi tetap berada di jalur ultra-konservatif selama hampir empat dekade. Dan baru-baru ini ada tanda-tanda mulai mencair dan terjadi perubahan kultural dan sosiologis Saudi sejak Mohammed Bin Salman (MBS) dikukuhkan sebagai putra mahkota Kerajaan Saudi.

Ketika peristiwa pengepungan Masjidil Haram 1979 berlangsung, Saudi di bawah kepemimpinan Raja Khalid Bin Abdulaziz. Dia menggantikan Raja Faisal Bin Abdulaziz yang meninggal dunia karena dibunuh kerabat keluarga kerajaan Saudi sendiri.

Putra mahkota kerajaan dipangku Fahd Bin Abdulaziz dan Pangeran Abdullah Bin Abdulaziz menjabat Komandan Garda Nasional Saudi. Fahd kemudian menjadi raja Saudi menggantikan Raja Khalid, sedang Abdullah naik tahta ke singgasana kekuasaan Saudi sepeninggal Raja Fahd. Sepeninggal Raja Abdullah, posisinya digantikan Raja Salman Bin Abdulaziz, raja Saudi hingga sekarang .

“Kebanyakan orang Timur Tengah tahu bahwa peristiwa bersejarah telah terjadi di Mekkah di tahun 1979. Tapi, tak banyak yang tahu kejadian persisnya seperti apa,” kata Yaroslav Trofimov (2017), penulis buku Kudeta Mekkah, Sejarah yang Tak Terkuak.

Sebelum menulis buku tentang masalah ini, Yaroslav telah melakukan kajian lebih dari 10 tahun. Banyak narasumber yang dihubungi, baik yang berada di Saudi, Perancis, Amerika Serikat, dan sejumlah negara lain. Katanya, pergolakan selama dua minggu di Masjidil Haram tersebut menjadi catatan penting dalam sejarah modern Saudi.

“Pengambilalihan Mekkah sesungguhnya merupakan latar dari segala pemahaman kita tentang al –Qaeda. Akar peristiwa yang mendorong kita sanggup memahami kejadian saat ini di Irak, Afghanistan, dan banyak negara lain,” kata Yaroslav.

Kepercayaan Juhayman akan Imam Mahdi mungkin telah membedakannya bahwa dia adalah bagian dari gerakan konservatisme sosial dan agama yang bereaksi terhadap modernitas, di mana ulama garis keras memperoleh kendali atas kendali keluarga kerajaan Saudi.

Yang diketahui bersama bahwa salah satu orang yang bersaksi peristiwa pengepungan Masjidil Haram adalah Osama Bin Laden, tokoh asal Saudi yang di kemudian hari berjuang bersama pejuang Mujahidin berperang dan membebaskan Afghanistan dari Uni Sovyet dan menjadi tokoh sentral al-Qaeda.

Dalam salah satu pamfletnya terhadap keluarga kerajaan Saudi, mengutip laporan BBC, Osama mengatakan bahwa mereka (penguasa Saudi) telah “menodai Haram, ketika krisis ini bisa diselesaikan secara damai”. Osama melanjutkan: “Saya masih ingat sampai hari ini jejak-jejak mereka di lantai Haram.” (BBC, 28 Desember 2019).

Peristiwa bersejarah pada Selasa pagi itu, setelah salah Subuh yang dipimpin Imam Muhammad Bin Subail, Juhayman bersama komplotannya mengambil alih kendali Masjidil Haram, setelah sebelumnya telah menyelundupkan sejumlah peti ke masjid tersebut.

Ternyata peti itu berisi beragam senapan laras panjang, seperti senapan serbu Kalashnikov (AK) bikinan Uni Sovyet, senjata FN-FAL buatan Belgia, sabuk peluru, dan berbagai macam pistol. “Orang-orang itu (kelompok Juhayman) telah menyelundupkan senjata dengan misi ambisius, yakni membalik sejarah dunia, mengobarkan perang global, yang pada akhirnya sanggup membawa Islam pada kemenangan global, sekaligus menghancurkan kesombongan kaum Kristen dan Yahudi,” tulis Yaroslav.

Lebih jauh Yaroslav menulis, “Bahwa kebanyakan kaum muslim Saudi dan sekitarnya, termasuk Osama Bin Laden muda, sangat menolak penggunaan kekerasan di Masjidil Haram ketika diserang kelompok Juhayman, yang kemudian meruntuhkan loyalitas (politik) mereka kepada keluarga kerajaan Saudi. Pada tahun-tahun berikutnya, mereka melakukan penyimpangan dan membuka oposisi politik terhadap Istana Saud dan penyokong Amerikanya.”

“Ideologi berapi-api yang diinspirasikan oleh orang-orang Juhayman, membunuh dan menganiaya di dalam tempat tersuci umat Islam tersebut, sekarang berubah menjadi kekerasan yang semakin nyata dan keras, yang puncaknya ada dalam kelompok bunuh diri al-Qaeda,” kata Yaroslav. [air/bersambung]



Apa Reaksi Anda?

Komentar