Iklan Banner Sukun
Sorotan

Buku, Ekosistem Literasi, dan Bonek Writers Forum

Bagaimana sebuah komunitas suporter berupaya menghidupkan literasi tentang sepak bola? Mungkin kita bisa menengok Bonek Writers Forum (BWF) yang dibentuk pada 6 Desember 2017. Komunitas ini, karena disebut forum, memiliki bentuk yang lebih cair. Tidak ada pemimpin formal dan setiap orang memiliki hak yang sama dalam memberikan ide, terlepas apakah ide itu brilian atau tidak, karena setiap gagasan adalah berharga.

Bentuk forum pula yang membuat komunitas ini tidak bisa mengikat semua anggotanya dalam kewajiban formal. Semua aktivitas didasari kerelaan. Mereka disatukan oleh passion: gairah yang sama terhadap Persebaya, sepak bola, dan dunia literasi. Itu membuat semua anggota komunitas ini harus menjaga agar, sebagaimana api, gairah itu tak padam. Nyalanya sekecil apapun harus tetap dirawat.

Anggota BWF memiliki latar belakang yang beragam: wartawan, penulis media sosial, penulis buku, guru sekolah, dosen, sejarawan, aktivis perempuan, manajer klub sepak bola, pegawai negeri sipil, sampai pengusaha. Mungkin karena itu ide-ide yang muncul beragam. Setiap orang punya perspektif terhadap dunia literasi dan sepak bola.

Tak ada yang membantah, sepak bola adalah olahraga paling populer di Indonesia. Anthony Sutton, penulis buku ‘Sepak Bola Indonesia: Way of Life’, mengagumi kemurnian antusiasme dalam sepak bola Indonesia. Rivalitas antarklub dan suporter tajam. Stadion dipenuhi penonton yang fanatik. Bahkan di sejumlah kota, pertandingan sepak bola diperlakukan seperti perhelatan politik nasional yang membutuhkan pengamanan ketat.

Namun, antusiasme di stadion tak berbanding lurus dengan situasi di dunia literasi. Mulai banyak kelompok suporter yang membuat media sendiri, terutama dengan bentuk dalam jaringan (daring). Namun tak banyak buku sepak bola yang terbit dan ditulis dari kalangan suporter. Tak banyak suporter yang menulis tentang diri mereka sendiri dan klub yang mereka dukung, atau topik-topik lain yang berkaitan dengan sepak bola lokal dan nasional.

Ini berbeda jauh dengan situasi di Inggris. ‘Booming’ buku memoar atau biografi yang ditulis fans sepak bola di Inggris diawali Nick Hornby yang menulis Fever Pitch. Ini buku memoar seorang fans biasa. Bukan tokoh kelompok suporter. Bukan begundal yang suka berkelahi. Ia hanya mengikuti pertandingan-pertandingan Arsenal sejak 1968 hingga 1992. Tidak ada ketegangan dan drama dalam buku itu, kecuali tumpahan kekecewaan dan kebahagiaan Hornby saat menonton Arsenal.

Hidup bagi Hornby sederhana. Bahagia melihat Arsenal menang. Menderita bagai pariah saat melihat klub asal London itu dirundung kekalahan. Boring boring Arsenal. Arsenal yang membosankan. Apa lagi yang bisa diharapkan. “Fever Pitch adalah tentang menjadi seorang penggemar,” tulis Hornby di pengantar buku yang kemudian dialihbahasakan untuk pembaca Indonesia oleh novelis Mahfud Ikhwan.

Setelah Hornby, bermunculan buku-buku memoar fans dari berbagai klub. Tidak hanya nemoar fans klub besar macam fans Liverpool, Neil Dunkin, yang menulis Anfield of Dreams: A Kopite’s Odyssey From The Second Division to Sublime Istanbul. Buku ini masuk dalam nominasi British Sports Book Awards.

Ada juga fans klub kelas kampung seperti Dave Roberts yang menulis memoarnya berjudul The Bromley Boys: The True Story of Supporting the Worst Football Team in Britain, yang bercerita soal klub bernama Bromley (saya tidak yakin Anda pernah mendengar nama klub ini). Semua penggemar klub Liga 3 di Indonesia seperti Persid Jember dan PSSS Situbondo dipastikan akan merasa baik-baik saja setelah membaca buku ini, karena mereka bukan yang tersial di dunia.

Memulai apa yang telah dimulai di Inggris membutuhkan pemantik. Indonesia memerlukan ekosistem yang baik untuk memunculkan minat literasi sepak bola lebih serius. Indonesia tak kehabisan bakat penulis sepak bola tentu saja. Namun sulit mendapatkan penulis buku-buku sepak bola yang serius, karena untuk membangun reputasi agar bisa dipercaya menulis buku yang laku di pasaran juga butuh waktu.

BWF hadir untuk membangun ekosistem tersebut dan berikhtiar menumbuhkan reputasi bersama. Dari reputasi bersama ini, reputasi individu dibangun dan besar untuk kemudian menjadi embrio bagi komunitas serupa di tempat lain. Ekosistem terbangun oleh jaringan. Sederhana, walau untuk menuju ke sana tak sesederhana itu tentu saja.

Dalam perjalanannya menjelang usia tahun kelima, BWF sudah menerbitkan satu buku daring, tiga buku cetak, dan sebuah koran digital. Semua berformat bunga rampai. Make Persebaya Great Again: Catatan dari Pinggir Lapangan (2019), Tolak Bala Sepak Bola: Kumpulan Esai tentang Bencana dalam Sejarah Sepak Bola (2020), Sepak Bola dan Kelas Pekerja (2021), dan Stadion: Kuil Sepak Bola (2022).

Sementara untuk penulisan artikel-artikel pendek mengenai Persebaya dan Bonek, BWF membangun media dalam jaringan Sejarahpersebaya.com dan mengaktifkan akun di sejumlah platform media sosial. Situs itu terilhami situs lfchistory.net milik fans Liverpool yang dibangun secara swadaya dan menjadi acuan bagi penulis-penulis di dunia yang ingin menulis tentang Liverpool.

Jadi ikhtiar ini memang membutuhkan waktu panjang untuk menuai hasil. Namun sebagaimana menulis, setiap keadaan dibangun dari sebuah gagasan, dan semua gagasan membutuhkan kaki yang siap berjalan jauh. [wir/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar