Sorotan

Biar Saja Jokowi dan Prabowo Saling Klaim

Ribut Wijoto.

BIAR SAJA KUBU CALON PRESIDEN nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi) – Ma’ruf Amin dan kubu calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto – Sandiaga Uno saling klaim memenangkan ajang demokrasi tertinggi di Indonesia, Pemilihan Presiden 2019. Kami warga negara cukup menyaksikan saja.

Biar saja kubu Jokowi merasa menang karena didukung oleh seabrek lembaga survei yang secara gencar menempatkan lelaki asal Solo itu menang 56 persen suara sah. Biar saja kubu Prabowo merasa menang karena survei internal menunjukkan mereka unggul telak dengan perolehan 62 persen suara sah. Kami warga negara tidak ikut-ikutan melontarkan klaim.

Biar saja aktor-aktor intelektual kubu Jokowi dan kubu Prabowo tiap hari berdebat di media massa. Saling merasa benar di depan layar televisi, saling tuding di portal berita, saling kecam melalui siaran live di radio, dan mengapling lembaran-lembaran koran. Kami kalau butuh informasi kuliner lezat untuk santapan sahur, gampang saja, cukup ganti channel.

Biar saja kubu Jokowi dan kubu Prabowo saling keras kepala. Saling beradu argumentasi yang sebenarnya bukan argumentasi namun sebatas apologi alias pembenaran belaka. Kami warga negara menjalani bulan suci Ramadan dengan banyak-banyak berzikir dan tekun beribadah.

Biar saja kubu Jokowi dan kubu Prabowo saling berbalas main presiden-presidenan. Saling mengolok seakan mereka masih kanak-kanak. Kami warga negara melempar senyum karena itu sebenarnya hiburan gratis.

Tidak ada manfaatnya bagi kami warga negara biasa untuk ikut-ikutan saling kecam. Ikut-ikutan saling melontarkan klaim kemenangan. Ikut-ikutan bersitegang.

Toh seperti tahun-tahun sebelumnya, kubu Jokowi dan kubu Prabowo, orang-orang elit politik itu –jika masanya telah tiba- akan saling bersalaman. Saling berbagi kekuasaan. Sedangkan kami warga negara biasa, kami tidak kebagian apa-apa.

Bagi kami warga negara, tugas kami dalam ajang demokrasi Pemilihan Presiden dan Pemilihan Legislatif, tugas kami telah usai. Kami warga negara telah berbondong-bondong mendatangi Tempat Pemungutan Suara (TPS) pada hari Rabu (17 April 2019) lalu. Kami mencatatkan tingkat partisipasi melebihi angka 80 persen. Sebuah pencapaian tertinggi sejak Pemilu pertama kali digelar tahun 1955.

Kami warga negara merasa capek terus-terusan dikompori oleh mulut-mulut elit politik yang merasa benar sendiri. Kami jenuh setiap hari dipaksa mendengarkan suara-suara sumbang mereka. Kami bosan diperalat.

Kami warga negara tahu bahwa baik kubu Jokowi maupun kubu Prabowo memiliki tim media sosial. Buzzer. Tim kreatif yang secara canggih, rapi, dan terukur mengemas isu-isu di facebook, twitter, youtube, instagram, dan beragam media lain. Sehingga trending topik hampir selalu dijejali manuver politik. Kami warga negara –terus terang- merasa terganggu dengan keberadaan para buzzer.

Kami warga negara ingin demokrasi berjalan sesui dengan rel yang telah dibangun oleh undang-undang. Bahwa, masa kampanye telah usai, masa pencoblosan telah kelar. Kami tinggal menunggu Komisi Pemilihan Umum menetapkan, apakah Jokowi atau Prabowo, yang memenangkan Pilpres. Kalau salah satu kubu ada yang merasa tidak puas, mekanismenya adalah melayangkan gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK). Di ruang sidang MK, kedua kubu bebas menghamparkan data-data, berkas-berkas, saksi-saki sebagai bukti pendukung.

Ada sebuah lelucon cerdas. Baik yang jadi presiden Jokowi maupun Prabowo, kami warga negara tetaplah harus bekerja. Lelucon itu benar adanya.

Kami warga negara bukan apatis terhadap Pemilu Legislatif dan Pilpres. Komitmen kami terhadap demokrasi telah teruji. Yaitu, kami mencoblos dan tingkat partisipasinya di atas 80 persen. Persoalannya adalah, kalau terus menerus digelibati oleh hal ihwal politik, kapan kami mengurus kepentingan kami sendiri?

Jika kami seorang siswa, kami butuh tekun belajar. Jika kami seorang ayah, kami butuh mencari nafkah untuk memenuhi biaya hidup anggota keluarga. Jika kami seorang emak-emak, kami harus mengurus anak dan suami tercinta. Jika kami seorang sales produk, kami dituntut memenuhi batas target yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Jika kami pedagang pepaya, kami harus segera bertransaksi dengan pembeli sebelum buah-buah itu keburu membusuk. Kami perlu fokus mengurusi kehidupan kami sendiri.

Sebab kami bukan calon presiden, bukan pimpinan partai, bukan elit politik. Sedangkan orang-orang yang setiap hari saling kecam di media massa itu, mereka memang pekerjaannya di bidang politik. Orang-orang di lingkaran kekuasaan. Pundi-pundi rezekinya berasal dari kerja politik.

Lihat saja mereka satu per satu. Ada dari mereka yang telah 4 periode menduduki kursi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Ada yang sejak Orde Baru –Presiden Soeharto- telah menjabat ketua umum partai politik. Ada yang keluar masuk kabinet.

Sedangkan kami warga negara telah paham watak sebagian besar elit politik. Mereka biasa datang merayu saat masa kampanye tiba. Datang tanpa diundang. Memajang baliho-baliho di sepanjang jalan. Ketika kekuasan telah direngkuh, mereka kerap kali lupa dengan nasib kami.

Maka, kalian kubu Jokowi dan kubu Prabowo, kalian para elit politik; silakan kalian saling klaim menang Pilpres 2019. Maaf saja, kami tidak ikut-ikutan. Tidak ada gunanya bagi kami. Lebih baik energi dan perhatian kami, yang sebetulnya terbatas, kami pergunakan untuk mengurusi kebutuhan kami sendiri. [but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar