Sorotan

Berebut Ceruk Pemilih NU, Meruntuhkan Mitos Pilkada Jember

Nahdaltul Ulama (NU)

Sejarah pemilihan kepala daerah di Kabupaten Jember dipenuhi narasi kekalahan politik Nadhlatul Ulama sebagai organisasi. NU memang bukan organisasi politik dan tidak diperkenankan terlibat politik praktis. Namun bukan rahasia lagi jika setiap kali momentum politik elektoral tiba, tokoh-tokoh pengurus NU seringkali terlibat dukung-mendukung kandidat dengan mengatasnamakan personal.

Tidak jelas memang bagaimana membedakan pilihan personal sebagai tokoh dan pengurus dengan preferensi politik organisasi. Toh pada akhirnya memang NU secara organisasi memang tak pernah repot-repot membantah atau mengonfirmasi isu tersebut terang-terangan. Semua dibiarkan cair di lapangan dan ditafsirkan terbuka.

Namun dalam banyak hal, preferensi politik untuk mendukung salah satu calon merupakan kesepakatan tak tertulis di antara pengurus tanfidz dan syuriah di tingkat cabang, yang kemudian dikomunikasikan kepada akar rumput melalui pengurus-pengurus tingkat kecamatan dan desa serta badan otonom.

Komunikasi mengenai preferensi politik ini semakin mudah, karena mendapat dukungan dari Partai Kebangkitan Bangsa yang merupakan ‘anak kandung’ NU. Dalam konteks inilah kita membaca relasi sejarah pilkada dengan politik kaum nadhliyyin di Jember sejak pasca Reformasi 1998.

Pemilihan kepala daerah demokratis pertama di Jember digelar pada 2000. Saat itu PKB menguasai 17 dari total 45 kursi di DPRD Jember. Di atas kertas, tak sulit untuk mendudukkan KH Yusuf Muhammad menjadi bupati. Dia adalah keturunan Bani Shiddiq, salah satu keluarga ulama terpandang di NU. Jadi tak heran jika dukungan warga nahdliyyin diarahkan kepadanya.

Lawan Gus Yus, sapaan akrab Yusuf Muhammad, adalah Samsul Hadi Siswoyo, mantan wali kota administratif Jember. Saat itu, pemerintahan daerah di Jember memang terbagi dua: kabupaten yang membawahi 28 kecamatan dan kota administratif yang membawahi tiga kecamatan.

Namun kalkulasi di atas kertas tak pernah terwujud. Samsul Hadi Siswoyo terpilih menjadi bupati bersama Wakil Bupati Bagong Sutrisnadi untuk memimpin Jember pada periode 2000-2005. Samsul kemudian dengan piawai merangkul PCNU Jember dan Kencong, agar luka akibat pilkada segera mengering.

Kedekatan dengan NU menjadi modal politik Samsul untuk maju lagi dalam pemilihan kepala daerah langsung pada 2005. Kali ini, Samsul mendapat dukungan dari PCNU Jember. Berkat dukungan dari PCNU ini, Samsul bisa memperoleh restu dan rekomendasi dari KH Abdurrahman Wahid yang saat itu menjadi Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa. Samsul maju dalam pertarungan pilkada berpasangan dengan Ketua Dewan Pimpinan Cabang Partai Persatuan Pembangunan Baharuddin Nur.

Namun, Dewan Pimpinan Cabang PKB yang diketuai Madini Farouq justru berkoalisi dengan PDI Perjuangan untuk mendukung duet MZA Djalal dan Kusen Andalas. Samsul akhirnya kalah, Djalal-Kusen memimpin Jember hingga 2010.

Pilkada 2010, Ketua Tanfidz Pengurus Cabang NU Jember Abdullah Syamsul Arifin maju menjadi calon wakil bupati mendampingi calon bupati Guntur Ariyadi. Lagi-lagi kandidat yang didukung NU dan PKB ini kalah dari kandidat petahanan Djalal-Kusen.

Lima tahun berikutnya, PKB mendukung duet Sugiarto-Dwi Koryanto. Sebenarnya, calon wakil bupati pendamping Faida adalah seorang ulama, KH Abdul Muqiet Arief. Namun dalam pilkada kali ini, dia lebih diidentifikasi sebagai kader PDI Perjuangan ketimbang pengurus struktural NU. Apalagi, pria berkacamata itu menjabat ketua organisasi sayap keagamaan PDIP di Jember, Baitul Muslimin Indonesia.

Kekalahan kembali menghampiri kandidat yang didukung PKB. Faida-Muqiet menang dan memimpin Jember hingga Februari 2021. Kekalahan kali ini menunjukkan betapa tidak solidnya kalangan nahdliyyin. Kemenangan Faida diakui sejumlah kalangan sebagai kemenangan Muqiet Arief, yang dengan pengaruhnya sebagai ulama dan mustasyar Ikatan Alumni Pondok Pesantren Annuqoyah di Jember bisa menjadi lumbung suara. Dengan kata lain, suara kaum nahdliyyin terbelah tanpa ada figur yang menyatukan.

Tahun ini, pilkada kembali bergulir di Jember. Jauh-jauh hari Ketua Pengurus Cabang NU Jember Abdullah Syamsul Arifin sudah menyerukan agar warga nahdliyyin solid memenangi pilkada. “Mitos ini harus diruntuhkan dulu,” katanya, kepada beritajatim.com, Jumat (17/5/2019).

Abdullah mencontohkan semua kepala daerah di Banyuwangi, Lumajang, Probolinggo, Pasuruan, dan beberapa daerah yang dijabat pengurus maupun aktivis NU. “Tinggal di Jember ini tidak tahu bagaimana riwayatnya, sampai sekarang ini (belum ada kader dan pengurus NU yang yang jadi bupati). Apa ada kutukan? Kok NU belum berhasil mengusung kadernya di Jember,” katanya saat itu.

Kiai dan Santri
Namun harapan yang diusung Abdullah masih harus diperjuangkan, dan ceruk pemilih dari kalangan NU bakal tetap menjadi rebutan tiga pasangan calon bupati dan wakil bupati. Kali ini dari enam kandidat bupati dan wakil bupati, ada dua orang yang memiliki latar belakang NU kental: Muhammad Balya Firjaun Barlaman dan Ifan Ariadna Wijaya.

Firjaun mendampingi kandidat bupati Hendy Siswanto dan Ifan mendampingi calon bupati Abdus Salam Alamsyah. Mereka memiliki latar belakang sejarah yang sama, yakni dari Pondok Pesantren Ash-Shiddiqi Putra. Firjaun yang saat ini menjabat mustasyar Pengurus Cabang NU Jember adalah pengasuhnya, dan Ifan adalah santri di sana.

Firjaun dan Ifan juga relatif paling akhir masuk ke arena pertarungan. Jika kandidat lain berkampanye jauh-jauh hari, Ifan praktis baru mendeklarasikan pencalonannya di hadapan media massa pada 4 Februari 2020. “Saya mendapat tugas dari elite-elite dari beberapa partai di pusat untuk turun berkompetisi di sini. Mereka yang akan menyelesaikan apa yang jadi modal saya turun bersaing di Jember ini,” kata anak muda asal Kecamatan Bangsalsari ini waktu itu.

Bahkan Ifan sempat mohon restu kepada Firjaun yang saat itu belum mencalonkan diri menjadi pendamping Hendy Siswanto. “Saya sendiri baru tahu kalau Ifan pernah mondok di sana (Ash-Shiddiqi Putra), karena saya sudah lama di Kediri,” katanya.

Firjaun sempat menyarankan Ifan agar ikut pilkada lima tahun lagi, karena petahana terlalu kuat. Namun Ifan menegaskan ingin maju terus. “Tentunya murid yang baik manut sama gurunya. Tapi dalam politik, guru yang baik adalah guru yang memberikan kesempatan muridnya untuk berprestasi, bukan mengajak bertarung. Ya sudah namanya politik, sah-sah saja. Tidak apa-apa,” kata Firjaun.

Firjaun sendiri semula sama sekali tak tertarik ikut kontestasi pilkada. “Saya berkali-kali diminta tapi tidak mau. Saya sudah lama di politik. Di politik terlalu banyak intrik dan distorsi. Kadang teman bisa jadi lawan karena perbedaan pandangan. Itu yang membuat saya tidak tertarik untuk terlibat dalam pilkada,” katanya.

Namanya baru muncul pada pertengahan Juli 2020. Firjaun berubah sikap setelah ada perintah dari masyayikh NU atau tokoh-tokoh NU yang dihormati agar mencalonkan diri. “Saya sami’na wa athokna (mendengarkan dan patuh, red) sebagai santri. Konsekuensi dari itu, saya berusaha. Perkara berhasil atau tidak, itu apa kata Gusti Pengeran. Saya santai saja,” katanya tanpa menyebut tokoh-tokoh NU yang mendorongnya mencalonkan diri.

“Saya melihat ini emergency. Saya ini dibutuhkan menurut pandangan para kiai. Andai tidak ada dawuh (perintah) dari para kiai, saya tidak akan maju,” kata Firjaun.

Hendy sebenarnya berharap kehadiran Firjaun kala itu bisa menarik dukungan semua partai politik. “Komunitas saya adalah komunitas NU. Kami berharap seluruh potensi NU menyatu. Tentu kami akan merangkul semua, karena persoalan Jember bukan hanya persoalan NU, tapi semuanya,” kata Firjaun kepada wartawan, di sela-sela pendaftaran di kantor Komisi Pemilihan Umum Jember, Jumat (4/9/2020).

Namun, Ifan sudah bergerak lebih cepat daripada Firjaun untuk mendekati Partai Kebangkitan Bangsa dan kepengurusan NU Jember maupun Kencong. Statusnya sebagai santri membuatnya mudah bergerak. Apalagi saat itu, sebelum Firjaun mendeklarasikan diri, praktis Ifan menjadi kandidat yang paling berwarna nahdliyyin dibandingkan nama-nama lain yang muncul.

Ifan melakukan sosialisasi dan konsolidasi dengan ditemani Ketua Gerakan Pemuda Ansor yang juga Sekretaris Dewan Pimpinan Cabang PKB Jember Ayub Junaidi. Dia mendapat restu dari Dewan Pimpinan Pusat PKB untuk menggalang dukungan dari partai lain sebagai kandidat bupati Jember.

Ifan sendiri muncul bukannya tanpa modal politik. Dua kursi parlemen milik Golkar sudah digenggamnya. Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Golkar Jatim Sarmuji mengatakan, nama Ifan langsung disebutkan sendiri oleh Airlangga Hartarto, ketua umum partai itu. “Kami serahkan pada Ifan, mau jadi calon bupati atau wakil bupati,” kata Sarmuji.

Elite PKB dan PDI Perjuangan kemudian bertemu dan sepakat membentuk koalisi merah-hijau atau abang-ijo. Delapan kursi PKB dan tujuh kursi PDIP sudah cukup untuk mengusung pasangan calon sendiri. Apalagi ditambah dua kursi Golkar. Syarat jumlah kursi minimal partai atau koalisi partai untuk mengusung calon bupati dan wakil bupati sendiri adalah 10 kursi DPRD Jember.

Namun PDIP menyodorkan nama Abdus Salam Alamsyah, seorang pengusaha muda, menjadi calon bupati. Akhirnya disepakati calon bupati dan wakil bupati ditentukan berdasarkan hasil survei terbaru. Hasilnya, elektabilitas Salam lebih bagus daripada Ifan, sehingga dipilih menjadi kandidat P1. Belakangan, koalisi Salam-Ifan ini berhasil menarik dukungan dari Partai Berkarya (1 kursi), Partai Amanat Nasional (2 kursi), dan Perindo (2 kursi).

Sementara itu, partai berwarna NU lainnya, Partai Persatuan Pembangunan justru berharap bisa mencalonkan sang ketua cabang Madini Farouq menjadi wakil bupati. Gus Mamak, sapaan akrab Madini, diharapkan bisa mendampingi Djoko Susanto. Belakangan Dewan Pimpinan Pusat PPP akhirnya memilih untuk mendukung Hendy-Firjaun, bersama Partai Nasdem, Partai Gerindra, Partai Demokrat, dan Partai Keadilan Sejahtera.

Bagaimana dengan kandidat petahana? Faida yang mencalonkan diri kembali melalui jalur perseorangan tidak lagi didampingi Abdul Muqiet Arief. Calon wakil bupatinya adalah Dwi Arya Nugraha Oktavianto, seorang pengusaha muda yang tak punya latar belakang nahdliyyin yang kuat. Dia lebih dikenal sebagai pengusaha biasa yang tak berurusan dengan masalah politik maupun keagamaan.

Sadar jika sekondannya tak punya cukup daya tarik bagi warga NU, Faida selalu mengatakan bahwa pencalonan Vian, panggilan akrab Oktavianto, tak lepas dari andil Muqiet. “Keputusan memilih Mas Vian sebagai calon wakil bupati adalah keputusan bersama berunding dengan Kiai Muqiet,” katanya.

Faida juga memberikan dua lembar kartu identitas penanda tim pasangan calon bagi Muqiet dan istrinya agar bisa masuk dan mendampingi dalam ruang pendaftaran di kantor Komisi Pemilihan Umum Jember, Minggu (6/9/2020). Faida menyebut Muqiet hadir dalam kapasitas saudara dan keluarga.

Namun kehadiran Muqiet saat pendaftaran Faida-Vian di KPU Jember direspons negatif Ikatan Alumni Annuqoyah Eks Karesidenan Besuki. Ketua IAA Besuki Muhammad Muslim menegaskan, organisasinya tak ada kaitan dengan kehadiran Muqiet dalam pendaftaran Faida-Vian di KPU Jember. “Itu hak pribadi Kiai Muqiet sendiri,” katanya.

IAA bahkan mengirimkan pesan jelas. “Insya Allah mayoritas dari alumni mengharapkan ada perubahan di Jember. Kami berharap ada pemimpin yang lebih baik,” kata Muslim.

Peta Politik NU di Jember
Minggu (30/8/2020). Ratusan orang memenuhi lingkungan Yayasan Pendidikan Islam Bustanul Ulum, Kecamatan Pakusari. Firjaun dan Ifan untuk pertama kali bertemu dalam acara resmi musyawarah kerja Pengurus Cabang NU Jember. Firjaun adalah mustasyar PCNU Jember, dan Ifan diundang oleh tuan rumah acara.

Hari itu, Ifan dengan takzim mencium punggung tangan Firjaun layaknya santri terhadap kiai. Ifan tetap menganggap Firjaun sebagai guru, dan perbedaan urusan politik tak menganulir posisi tersebut. Dia tahu bagaimana adab seorang santri.

Pertanyaannya: ke mana warga NU akan berlabuh? Sebelumnya perlu diketahui, ada dua kepengurusan cabang NU di Kabupaten Jember, yakni NU Jember dan NU Kencong. Kencong sebenarnya adalah nama kecamatan. Namun Pengurus Besar NU memberikan keistimewaan kepada NU Kencong untuk memiliki kepengurusan tingkat cabang tersendiri karena faktor sejarah. NU Kencong berdiri pada 21 September 1937, jauh lebih tua daripada Pengurus Cabang NU Jember.

Wilayah kewenangan organisasi PCNU Kencong meliputi Kencong, Gumukmas, Puger, Umbulsari, dan Jombang. Tidak ada bani atau keluarga besar ulama ternama di kawasan ini. Namun ada dua pondok pesantren besar di sana, yakni Pondok Assuniyah Kencong dan Pondok Bustanul Ulum Mlokorejo Puger.

Sementara itu, PCNU Jember meliputi 26 kecamatan. Berbeda dengan di Kencong, ada sejumlah pondok pesantren besar dan keluarga besar ulama di Jember. Jika disederhanakan ada empat faksi yang berpengaruh secara sosial politik di kalangan nahdliyyin Jember, yakni Keluarga Talangsari atau Bani Shiddiq, Ponpes Alqodiri yang diasuh KH Muzakki Syah, Bani Itsbat, dan Pengurus Cabang NU Jember sendiri.

Keluarga Talangsari atau Bani Shiddiq adalah keluarga besar keturunan KH Shiddiq, salah satu ulama ternama NU. KH Achmad Shiddiq, putra KH Shiddiq, adalah Rois Aam Pengurus Besar NU pada era kepemimpinan KH Abdurrahman Wahid, yang dikenal sebagai tokoh yang berjasa ‘mendamaikan ketegangan tafsir ideologis’ antara Islam dan Pancasila. Talangsari adalah nama kawasan pusat kota Jember, tempat pondok pesantren Bani Shiddiq berada.

Firjaun adalah putra KH Achmad Shiddiq kelahiran 12 Februari 1968. “Firjaun itu bermakna ‘sikat’. Sikatnya kuda, pembersih kaki kuda. Barlaman artinya parlemen. Dulu waktu saya lahir ada pembersihan parlemen dari oknum komunis,” katanya.

Nama adalah doa. Firjaun yang selama bertahun-tahun lebih banyak tinggal di Kediri daripada di Jember, pernah menadi anggota DPRD Kabupaten Kediri 1999-2004. Dia kemudian anggota DPRD Jatim 2004-2009.

Pengaruh keluarga Talangsari lebih banyak di kalangan NU perkotaan atau nahdliyyin urban. Keluarga ini sangat dihormati di Jember dan memiliki jejaring politik yang kuat. Ketua Dewan Pimpinan Cabang PPP Jember, Madini Farouq, adalah keponakan Firjaun.

Keberhasilan PPP meraih lima kursi DPRD Jember pada pemilu 2019 setelah sebelumnya hanya memiliki tiga kursi, menunjukkan kepiawaian politik Madini. Mesin politik PPP yang terbukti sukses dalam pemilu 2019 inilah yang akan kembali dihidupkan Madini untuk pemenangan sang paman.

Faksi berpengaruh berikutnya adalah Pondok Pesantren Alqodiri yang diasuh KH Muzakki Syah. Sebagaimana pesantren Bani Shiddiq, Alqodiri juga berada di kawasan pusat kota, yakni Kelurahan Gebang, Kecamatan Patrang. Putra Muzakki, Fadil, adalah pendukung awal Hendy Siswanto dan legislator DPR RI dari Fraksi Nasdem untuk Daerah Pemilihan Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso.

KH Muzakki Syah memiliki banyak pengikut dan dikenal dekat dengan kalangan elite politik pemerintahan republik ini. Sejumlah tokoh seperti Susilo Bambang Yudhoyono, Jusuf Kalla, Prabowo Subianto, dan banyak nama lain menemuinya setiap kali berkunjung ke Jember.

Acara pengajian manakib yang digelar setiap bulan oleh Muzakki juga menyedot massa ribuan orang. Sebagian berasal dari luar Kabupaten Jember, bahkan dari luar negeri.

Selain Fadil, jejaring politik Alqodiri dibangun oleh salah satu santri yang kemudian mendirikan pondok pesantren sendiri, Muhammad Fawait. Politisi Partai Gerindra ini berhasil mendulang dukungan 185.938 suara di Jember dalam pemilu tahun lalu, sehingga bisa melenggang masuk gedung DPRD Jawa Timur. Jumlah pemilih Fawait untuk DPRD Jatim lebih besar daripada tanda gambar Gerindra yang dicoblos 68.792 orang.

Jejaring Alqodiri ini bergerak untuk pemenangan pasangan Hendy-Firjaun. Fawait kini bisa leluasa, karena Gerindra sudah satu gerbong dengan Alqodiri setelah sebelumnya sempat mendukung calon bupati Djoko Susanto.

Faksi ketiga adalah Bani Itsbat, yakni kalangan pondok pesantren yang berafiliasi dengan keturunan Kiai Itsbat di Madura. Kendati berlatarbelakang nahdliyyin, Bani Istbat dikenal sebagai kelompok NU yang dekat dengan kalangan Majelis Syuro Muslimin Indonesia.

Beberapa nama ulama dari kalangan Bani Itsbat adalah Kiai Abduh di Kecamatan Tempurejo, KH Baidowi Said, pengasuh Pondok Pesantren Bustanul Ulum, Gading, Kecamatan Bangsalsari, KH Lutfi Ahmad di Cangkring, Kecamatan Jenggawah, Ra Ali di Suger, dan KH Thoyib Syarif di Kemuning. Tokoh-tokoh Bani Itsbat dekat dan sangat dihormati oleh MZA Djalal, bupati Jember periode 2005-2010 dan 2010-2015.

Faksi terakhir adalah faksi struktural Pengurus Cabang NU Jember. Saat ini, Tanfidz PCNU Jember diketuai KH Abdullah Syamsul Arifin dan pada posisi syuriah diketuai KH Muhyiddin Abdussomad.

Abdullah mengatakan, NU secara organisasi tak bisa terlibat politik praktis secara langsung. “Tapi pribadi-pribadi warga dan pengurus NU kan juga punya hak politik yang harus disalurkan. Juga ada tanggung jawab pengurus untuk memberikan arahan kepada warga yang membutuhkan dan belum mampu pada kapasitas memilih secara mandiri. Ada arahan-arahan untuk kepentingan jam’iyyah yang lebih luas,” katanya.

“Saya kira tidak usah dipolemikkan lagi,” kata Abdullah. Menurutnya, jika jamaah NU hingga level paling bawah tidak dikonsolidasikan dan justru bergerak parsial, maka tidak akan ada kontribusi nyata untuk kepentingan jam’iyyah.

NU Jember selama ini memiliki peran politik strategis selama pemilu dan bergandeng mesra dengan Partai Kebangkitan Bangsa. Hubungan mesra ini juga ditunjukkan dalam pilkada Jember tahun ini. Dewan Pimpinan Cabang PKB Jember sudah menyatakan akan berkonsultasi dengan PCNU terkait pengambilan keputusan mendukung kandidat bupati, termasuk dukungan terhadap Ifan.

“PCNU juga mendapat amanah, ada pembagian tugas. Komunikasi dengan calon diserahkan kepada NU untuk terlibat. Kemudian komunikasi dengan partai-partai lain diserahkan kepada DPC PKB. Kita berikhtiar bersama-sama, mencari yang terbaik dan ketemu benang merahnya dengan NU,” kata Abdullah.

Dalam beberapa kali kesempatan, Ifan mengikuti kegiatan PCNU, dan Abdullah memperkenalkannya kepada jemaat. Salah satunya saat acara silaturahim pengurus cabang dan pengurus Majelis Wakil Cabang Kecamatan Patrang, Sumbersari, Kaliwates, di Universitas Islam Jember, Rabu (6/5/2020) petang.

“Yang serius bersama-sama turun, minta doa restu kiai dan seluruh lapisan warga NU adalah orang di samping kiri saya ini. Ini yang akan diikhtiarkan. Kami berharap kita semua bertekad bersama-sama memperjuangkan apa yang akan diputuskan oleh Dewan Pimpinan Cabang PKB melalui rekom yang turun dari Dewan Pimpinan Pusat,” kata Abdullah saat itu menunjuk Ifan yang duduk di sebelahnya.

Abdullah melihat respons pengurus dan kader NU Jember terhadap Ifan cukup positif. “Mereka menganggap Mas Ifan bagian dari keluarga sendiri yang tidak ada jarak dalam komunikasi dengan seluruh jajaran PCNU,” katanya, Minggu (17/5/2020). Kuatnya intensitas kegiatan Ifan mendekati PCNU menjadi dasar pertimbangan untuk mendukung rekomendasi PKB bagi pengusaha muda itu.

Ifan tak hanya mendekati PCNU Jember, tapi juga PCNU Kencong dan badan otonomi di sana. “Mas Ifan sebelum ada pandemi corona ini sudah bersilaturahim dengan beberapa kiai di Jember selatan. Kami akan bersinergi dengan PCNU Jember. Nanti akan ada rapat lanjutan para kiai di PCNU Kencong dan Jember untuk merumuskan bagaimana nanti siapa kandidat bupati yang akan diusung,” kata Ketua PCNU Kencong Zainil Ghulam.

Saat itu, Ghulam menilai, Ifan adalah kandidat bupati dari kalangan santri. “Sanad keilmuannya sudah jelas, yaitu alumni Pondok Pesantren Ash Shiddiqi Putra. Secara sanad keilmuan, dia sudah terhubung dengan para kiai di NU,” katanya.

Kuatnya dukungan untuk Ifan dari PCNU Jember dan Kencong ini dibenarkan pengurus Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) Nahdlatul Ulama Jember, Muhammad Khozin. Dukungan itu tidak bergeser, bahkan saat Ifan resmi berposisi sebagai calon wakil bupati mendampingi Abdus Salam.

“Gus Firjaun adalah mustasyar Pengurus Cabang NU Jember. Tapi mayoritas pengurus ikut syuriah dan tanfidziyah yang mendukung Ifan Ariadna,” katanya, sebagaimana dilansir beritajatim.com, Kamis (27/8/2020).

Bahkan Ifan berhasil menciptakan sejarah. “Baru pertama kali ini PCNU Jember dan PCNU Kencong satu sikap dalam urusan pilkada,” kata Khozin.

Khozin menangkap ada semangat di kalangan nahdliyyin untuk berpaling pada anak muda, dan Salam-Ifan adalah representasi kaum muda. Keduanya lahir di Jember: Salam pada 10 Mei 1983, dan Ifan pada 25 Oktober 1979. “Ini tawaran fresh bagi pemilih. Preferensi pilihan terhadap pasangan muda cukup kuat,” katanya.

Ghulam sudah beberapa kali bertemu dan bicara dengan Salam-Ifan, dan menilai mereka adalah pasangan muda yang bersemangat untuk berkontribusi nyata bagi Kabupaten Jember. “Saya melihat kesungguhan komitmen, khususnya dalam hal kemasyarakatan dan kebangsaan. Secara pribadi, kami ada kedekatan pertemanan,” katanya.

Pendaftaran pasangan Salam dan Ifan ke KPU Jember, Sabtu (5/9/2020), menjadi momentum penanda dukungan. Abdullah dan Ghulam ikut melepas keberangkatan mereka dari kantor Gerakan Pemuda Ansor yang satu kompleks dengan kantor Dewan Pimpinan Cabang PKB Jember.

Abdullah, memimpin doa bersama petinggi tingkat kabupaten dari enam partai politik sebelum berangkat. Usai pendaftaran, Ghulam juga mendatangi Rumah Makan Lestari, tempat Salam dan Ifan makan bersama tim.

Abdullah mengatakan, jauh-jauh hari Ifan sudah sudah berkoordinasi dengan PKB dan jaringan NU hingga tingkat ranting. Bahkan komitmen antara kedua belah pihak sudah terbentuk dengan Ifan. Komitmen ini tak berubah, ketika Ifan bergandengan dengan Salam sebagai calon wakil bupati.

Aktivitas PCNU Jember dan Kencong ini rupanya menarik perhatian Pengurus Wilayah NU Jawa Timur. Sebuah surat tertanggal 19 September 2020 berisi teguran resmi pertama kepada PCNU Jember dan PCNU Kencong meluncur.

Tidak dijelaskan dengan benderang pelanggaran apa yang dilakukan PCNU Jember dan Kencong. Surat itu hanya menyebutkan, bahwa PWNU Jatim menerima laporan tentang kegiatan bersama resmi organisasi PCNU Jember dan Kencong yang ‘menghadirkan pemangku kepentingan politik praktis yang berkepentingan dengan pemilukada setempat’.

Surat itu ditanggapi tenang oleh Abdullah dan Ghulam. “Terima kasih sudah diingatkan,” kata Ghulam.

Di luar empat faksi besar itu, ada kelompok-kelompok lain di kalangan NU Jember yang diikat oleh hubungan emosional dan kesejarahan pondok pesantren, seperti Ikatan Alumni Pondok Pesantren Annuqoyah (IAA) Madura.

Anggota IAA di Eks Karesidenan Besuki berjumlah lima ribu orang, tiga ribu orang di antaranya berada di Jember. Sebagian dari mereka sudah mendirikan 33 pesantren dan madrasah sendiri. IAA sudah terbukti menjadi mesin pemenangan yang efektif bagi pasangan Faida-Abdul Muqiet Arief saat pilkada lima tahun sebelumnya.

Kali ini mereka menunggu keputusan pengasuh Pondok Pesantren Annuqoyah untuk menentukan pilihan politik dalam pilkada Jember. “Karena Jember kota santri, saya berharap ada pemimpin yang peduli terhadap pondok pesantren,” kata Ketua IAA Karesidenan Besuki Muhammad Muslim.

Komitmen Politik
Majunya Ifan dan Firjaun sebagai representasi kultural NU dalam pemilihan kepala daerah tentunya bukan tanpa konsekuensi. NU tak ingin hanya bekerja keras mendorong mobil tapi kemudian ditinggalkan begitu saja. Apalagi kaum nahdliyyin punya pengalaman bagaimana seorang ulama seperti Abdul Muqiet Arief tidak difungsikan maksimal sebagai wakil bupati selama masa pemerintahan Bupati Faida.

Muqiet hanya tampil dalam acara seremonial. Namun dalam beberapa momentum krusial, seperti pemberian jawaban terhadap hak interpelasi maupun angket DPRD Jember, Bupati Faida tidak memberikan mandat kepada Muqiet untuk hadir mewakilinya.

Dalam interpelasi pertama pada Januari 2017, Faida justru memerintahkan Asisten III Pemerintah Kabupaten Jember Joko Santoso untuk membacakan jawaban tertulisnya dalam sidang paripurna interpelasi di gedung parlemen. Hal ini memantik kekecewaan pendukung Faida sendiri.

“Kenapa bukan wakil bupati (yang mewakili)? Toh ada wakil bupati. Sedangkan di saat yang sama kami tahu wakil bupati makan sate bersama Kapolres. Itu bentuk pelecehan terhadap wakil rakyat, dan kami tidak terima sebetulnya,” kata Kustiono Musri, salah satu pendukung Faida-Muqiet dalam aksi unjuk rasa, Kamis (2/2/2017).

Firjaun memahami betul posisinya jika nanti terpilih menjadi wakil bupati mendampingi Hendy. “Ada satu kiai yang memberikan gambaran, ibarat awak bus, saya ini kondekturnya. Justru kondektur ini yang menentukan berhenti dan berjalannya bus. Anda bisa membayangkan sendiri bagaimana bus itu. Kalau sopir tidak manut dengan kondektur, bagaimana?”

Firjaun berjanji akan benar-benar memposisikan diri sebagai kondektur dalam bus Pemerintahan Kabupaten Jember. “Kalau nanti misalnya saya tidak difungsikan atau sopir ini tidak sesuai tujuan, ibarat mau ke Surabaya tapi malah belok ke Malang, saya akan ingatkan. Kalau mau ya kita jalan bersama. Kalau tidak mau, saya akan turun dari bus,” katanya.

Sementara itu, Salam dan Ifan sudah menandatangani kontrak jam’iyyah dengan PKB. “Isi kontrak politik dengan PKB itu untuk kepentingan nahdliyyin dan nahdliyyat,” kata Abdullah

Kontrak politik ini disaksikan banyak kiai. “Ada sekitar 200 kiai yang ikut menandatangani saksi di kontrak itu. Isinya antara lain terkait dengan garis perjuangan ahlussunnah wal jamaah dan kelancaran garis dakwah NU.” kata Gus Aab.

Salam ingin menciptakan kerekatan hubungan antara NU dengan pemerintah daerah. “Kita tahu Jember adalah tempat lahirnya para alim ulama. Dengan bersatunya NU dan eksekutif, Pemerintah Kabupaten Jember akan dikawal para tokoh kiai sehingga aman, sejahtera, dan barokah,” katanya.

Salam ingin pemerintahan daerah ke depan diwarnai ideologi nasionalis relijius. “Komitmen tertulis sudah ada, bahwa kami akan membesarkan NU. Kami berfokus membesarkan pendidikan dan ingin membesarkan pesantren-pesantren,” katanya.

Salah satu program yang dicanangkan adalah BOS (Bantuan Operasional Santri) daerah yang diperuntukkan para santri dan guru mengaji tanpa ada diskriminasi. “Kami ingin kesejahteraan pengajar di pesantren dan infrastruktur di pesantren menjadi prioritas dalam program kerja kami. Bagaimana pun kami lahir dari bawah, ingin memberikan kontribusi terbaik bagi Jember. Kami ingin menjadikan Jember sebagai pusat pendidikan pesantren unggul,” kata Salam.

Ifan menambahkan, pihaknya merangkul semua kekuatan NU di Jember, termasuk pengurus struktural dan badan otonom Pengurus Cabang NU Jember dan Kencong. “Kami ingin bermanfaat bagi kemajuan warga Jember dan warga NU khususnya,” katanya.

Salam dan Ifan berjanji melaksanakan nasihat Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur Marzuqi Mustamar, saat acara bertema Penguatan Aswaja dan Ke-NU-an, di Lembaga Pendidikan Perjuangan IBU (Islam Bustanul Ulum), Kecamatan Pakusari, Kabupaten Jember, Kamis (17/9/2020).

Dalam kesempatan itu, Mustamar meminta kepada Salam dan Ifan agar serius membesarkan NU. “Ber-NU ini bukan main-main. Apalagi mempermainkan NU. Tidak apa-apa kita kehilangan apapun demi membesarkan NU. Tidak apa-apa kita menghabiskan dana berapapun untuk membesarkan NU,” katanya.

Akhirnya, siapakah yang akan lebih dipilih warga NU? Tak ada yang bisa memastikan. Ghulam menyerukan kepada warga NU agar berperan aktif dalam menyukseskan pilkada tahun ini. Apalagi ada Firjaun dan Ifan yang sama-sama berlatarbelakang NU. “Gunakan hak suara demi kemaslahatan Jember,” katanya.

Ghulam yakin, dua kandidat yang berlatar belakang NU sudah memahami fatsun politik, khususnya fatsun yang berlaku di kalangan nahdliyin. “Kedewasaan dan kebijaksanaan dalam menggunakan hak berpolitik mesti dikedepankan, demi kepentingan publik di Jember,” pesannya.

Dengan kata lain, pesan Mustamar bagi siapapun yang bertarung dan terpilih dalam pilkada Jember layak dijadikan panduan. “Tidak memperalat NU untuk kepentingan politik, tapi memperalat jabatan politik untuk menjaga hikmah kepada Nahdlatul Ulama.” [wir]





Apa Reaksi Anda?

Komentar