Sorotan

Belajar dari Pribadi Gus Sholah

Pendiri beritajatim.com Ainur Rohim (baju putih) saat wawancara dengan Gus Sholah di Tebuireng, 23 April 2019. [Foto/Yusuf Wibisono]

Belum genap setahun. Saya datang bersama Yusuf Wibisono, wartawan beritajatim.com yang ditempatkan di Kabupaten Jombang, secara bersama-sama pada tanggal 23 April 2019 di rumah pribadi KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah). Rumah bercat coklat itu berada di dalam komplek Pondok Tebuireng di Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang.

Kami berdua datang sore hari sesuai janji kami beberapa hari sebelumnya dengan Gus Solah via Whatsapp. Saya perlu bertemu dan wawancara langsung dengan Gus Solah terkait tugas akhir saya sebagai mahasiswa program S2 Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UA) Surabaya.

“Wawancara dengan Gus Solah itu penting, karena beliau tokoh sentral dalam pencalonan Ibu Khofifah Indar Parawansa dan Emil E Dardak di Pilgub Jatim 2018,” kata Dr Siti Aminah, MA dan Prof Kacung Marijan, MA, P.hD, dua dosen pembimbing saya dalam penulisan tesis untuk program Magister (S2) Ilmu Politik FISIP UA.

Untuk memenuhi syarat gelar Magister Ilmu Politik (M.IP) FISIP UA, saya harus menyelesaikan penelitian lapangan dan penulisan tesis. Saya menulis tesis tentang Pilgub Jatim 2018 yang mempertemukan dua kader terbaik NU: Khofifah Indar Parawansa dan Saifullah Yusuf (Gus Ipul) sebagai kandidat gubernur Jatim.

Judul tesis yang saya tulis: Pembelahan Dukungan Jaringan Politik Kiai NU di Pilgub Jatim 2018. Rumusan masalah yang saya angkat: Bagaimana pembelahan jaringan politik kiai NU di Pilgub Jatim 2018 ditinjau dari perspektif teori jaringan politik?

Perangkat teori politik yang saya pakai sebagai pisau analisa adalah teori jaringan politik, terutama teori jaringan politik yang ditulis David Knoke (1994), yang ditulis dalam bukunya berjudul: Political Network The Structural Perspektive, yang diterbitkan Cambridge University Press.

Menurut saya, fenomena Pilgub Jatim 2018 yang mengkontestasikan dua kader terbaik NU sebagai cagub menarik untuk dikaji dan diangkat sebagai materi penulisan tesis. Sebab, bertemuanya Khofifah dan Gus Ipul di kontestasi Pilgub Jatim pada 2018 merupakan kali ketiga.

Sebelumnya, Khofifah dan Gus Ipul telah berkompetisi di Pilgub Jatim 2008 dan 2013, kendati Gus Ipul berposisi sebagai cawagub yang berpasangan dengan Soekarwo (Pakde Karwo) sebagai cagub. Temuan penting dari penelitian ini adalah terjadinya pengkutuban politik di kalangan kiai dan tokoh NU di Pilgub Jatim 2018 didasarkan untuk menunjukkan eksistensi kutub satu terhadap kutub lainnya. Pertarungan politik di Pilgub Jatim 2018 memiliki relasi politik dan sosial dengan muktamar NU 2015 di Kabupaten Jombang.

Selain Gus Solah, narasumber lain dalam penelitian saya adalah KH Anwar Iskandar (Pondok Pesantren Al Amin di Kelurahan Ngasinan, Kota Kediri), Dr KH Fahrur Rozi (Pondok Pesantren An Nur Bululawang, Kabupaten Malang), KH Jakfar Yusuf (Pondok Darul Ulum di Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang), Gus Abdullah Kautsar (anak KH Nurul Jazuli dari Pondok Al Falah di Kecamatan Ploso, Kabupaten Kediri).

Kemudian KH Salahuddin Wahid atau Gus Solah (Pondok Pesantren Tebuireng Jombang), KH Robbach Ma’shoem (Pondok Pesantren Ihyaul Ulum di Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik yang juga mantan Bupati Gresik), KH Zahrul Azhar As’ad Umar (Pondok Darul Ulum di Kecamatan Rejoso, Kabupaten Jombang), dan H Choirul Anam (mantan Ketua DPW PKB Jatim dan GP Ansor Jatim di Kota Surabaya).

Bersarung putih dengan garis-garis hijau di bagian belakang (tumpal) dan bawah, serta bersongkok hitam, dengan mengenakan kemeja batik coklat muda, Gus Sholah menerima saya dengan nada bersahabat, menyenangkan, dan terbuka. Sambil mencicipi minuman teh manis hangat yang dihidangkan santri Pondok Tebuireng di rumah Gus Sholah, wawancara tatap muka saya dengan dengan Gus Sholah berlangsung mengalir lancar, dengan nada terukur dan tenang.

Gus Sholah bersedia melayani melayani sekitar 20 pernyataan terbuka yang saya ajukan. Jumlah pertanyaan itu dipastikan mengembang dan bertambah banyak, karena saya tak jarang mengembangkan pertanyaan baru merujuk konten pernyataan yang dijelaskan Gus Solah sebelumnya.

Wawancara itu berlangsung tak sebagaimana layaknya wawancara konvensional. Yang terjadi adalah sharing dan dialog antara guru dengan murid, dosen dengan mahasiswa, atau kiai dengan santrinya. Saya merekam dan mendengarkan secara cermat dan seksama pernyataan demi pernyataan yang disampaikan Gus Sholah.

Nyaris tak ada pernyataan no comment yang diucapkan Gus Solah selama sekitar 2 jam wawancara itu berlangsung. Tak ada kalimat bernada meninggi ketika Gus Sholah menerima pengajuan bernada kritis. Tutur bahasanya datar, lembut, tak menyentak, tak meninggi, cermat, kontekstual, dan fokus untuk menjawab pertanyaan yang saya ajukan. Walau sekali-kali saya harus mengajukan pertanyaan bernada kritis, dengan harapan saya memperoleh data yang sangat saya butuhkan untuk bahan penulisan tesis saya.

Gus Sholah pribadinya tenang dan rendah hati. Semua umat Islam di Indonesia, khususnya warga NU, mengetahui dan memahami bahwa Pondok Tebuireng Jombang yang dipimpinnya, adalah poros penting bagi mereka.

Pondok Tebuireng itu poros pendidikan teologis, sosial, budaya, dan politik bersifat strategis bagi warga NU. Sebab, KH Hasyim Asy’ari, pendiri Pondok Tebuireng dan kakek Gus Sholah dari garis ayah, adalah pendiri ormas Islam NU bersama KH Abdul Wahab Chasbullah (Pondok Bahrul Ulum Tambakberas Jombang) dan KH Bisri Syansuri (Pondok Mambaul Ma’arif Denanyar Jombang).

Pondok Tebuireng menjadi kutub penting sebagai institusi pendidikan keagamaan bagi kepemimpinan NU di masa depan, selain Pondok Lirboyo Kediri, Pondok Al Falah Ploso Kediri, Pondok Sidogiri Pasuruan, Pondok Langitan Tuban, Pondok Salafiyah Syafi’iyah Asembagus Situbondo, Pondok Tambakberas Jombang, Pondok Denanyar Jombang, Pondok Darul Ulum Jombang, dan pondok lainnya. “Jaringan dan alumni Pondok Tebuireng paling kuat dan sebarannya paling luas,” kata Choirul Anam.

Walaupun memimpin pondok besar dan pengaruhnya luas serta kuat di kalangan warga NU, pribadi Gus Sholah tetap layaknya sebagai seorang kiai dan guru. Dia mengayomi dan melayani. Dia memberikan ilmu pengetahuan, mengajarkan pendidikan budi pekerti, dan keteladanan yang merefleksikan akhlakul karimah di kalangan santri dan masyarakatnya. Tak ada kesombongan. Tak ada perkataan dan perilaku takabur. Tetap sederhana dan sabar memimpin pondok besar warisan dari kakeknya: KH Hasyim Asy’ari.

Di akhir saya wawancara dengan Gus Solah, adik Gus Dur ini sempat menyampaikan pesan bahwa tak terasa dia telah lebih 10 tahun memimpin Pondok Tebuireng. Gus Solah mengutarakan, mungkin tak lama lagi dia menyerahkan kepemimpinan Pondok Tebuireng kepada kerabatnya. Sebenarnya amanah itu ingin serahkan kepada kerabatnya tersebut, tapi yang bersangkutan mengutarakan kepada Gus Sholah belum siap. Karena itu, Gus Sholah tetap memangku Pondok Tebuireng hingga kahir hayatnya.

Di hari Ahad (2/2/2020), sekitar pukul 20:55 WIB, Gus Sholah, cucu KH Hasyim Asy’ari dan KH Bisri Syansuri, menghembuskan nafas terakhirnya di RS Harapan Kita Jakarta. Innalillahi Wainna Ilaihi Rojiun. Insya Allah Gus Sholah husnul khotimah. Amiin Ya Robbal Aalamin. [air]

Apa Reaksi Anda?

Komentar