Iklan Banner Sukun
Sorotan

Belajar dari Kisah Gelap Kekerasan Seksual di Boston

Dari poster Film Spotlight

Kisah itu semula diabaikan, sampai Martin Baron datang pada 2001. Dia seorang wartawan senior yang mendapat tugas memimpin Boston Globe di Boston, Amerika Serikat, setelah koran itu diakuisisi Los Angeles Times. Sebuah artikel kolom yang ditulis wartawati Eileen McNamara tentang pencabulan terhadap anak-anak di enam paroki berbeda selama tiga dekade terakhir menarik perhatiannya.

Pertanyaan besarnya: apakah Uskup Kardinal Bernard F. Law yang selama belasan tahun menjabat di Keuskupan Agung Boston sama sekali tidak tahu soal ini semua atau justru melindungi pendeta pelaku pelecehan seks itu? Salah satu terduga pelaku pelecehan itu adalah pendeta John J. Geoghan yang justru mendapat tugas menjadi vikaris paroki, tepat dua bulan setelah dugaan pencabulan tujuh bocah laki-laki beredar.

Dalam buku Betrayal – The Crisis in The Catholic Church yang mengisahkan investigasi reporter Boston Globe itu disebutkan, Geoghan melakukan pencabulan saat korbannya berdoa. “Saya mencoba menahan air mata dan tetap memanjatkan doa dengan mata tertutup,” kata Sang Korban.


Tak ada yang terlalu memperhatikan artikel yang ditulis McNamara. Pengacara anak-anak itu yang menjadi narasumber artikel McNamara, Mitchell Garabedian, dianggap sinting dan eksentrik. Tak ada yang terlalu menanggapi ocehannya. Gereja melaporkannya ke dewan pengawas profesi pengacara dan meminta agar izin praktiknya dicabut. Reputasi Garabedian dipertaruhkan.

Selain itu, ada banyak hal yang dianggap lebih penting di Boston. Politik kota. Klub bisbol Boston Red Sox yang tengah berjuang membalik kutukan Bambino agar bisa juara lagi. Spotlight, tim investigasi khusus Globe, sedang menyelidiki kisah lancung di kepolisian setempat.

Namun tidak dengan Martin Baron. “Ini berita penting untuk koran lokal,” katanya dalam rapat redaksi. Dia meminta Spotlight menyelidiki kasus itu dan melacak dokumen-dokumen penting yang menunjukkan, bahwa gereja Katolik selama puluhan tahun mengabaikan kasus-kasus pelecehan seks terhadap anak-anak tersebut.

Pelecehan seks terhadap anak-anak atau bocah altar merupakan isu krusial di gereja Katolik. Isu ini bahkan menjadi bahan ledekan hingga lapangan sepak bola. Fans klub sepak bola Glasgow Rangers yang berlatar belakang Protestan menggunakan isu itu untuk mengejek fans Glasgow Celtic, klub sepak bola berbasis gereja Katolik. Mungkin hanya di Skotlandia, fans dua klub sepak bola saling benci karena urusan agama.

Problem pertama dihadapi Boston Globe: mencari dokumen-dokumen kasus Geoghan. Dokumen-dokumen ini tergolong rahasia, dan hanya pengadilan yang berhak memerintahkan agar dokumen-dokumen itu dibuka untuk kepentingan publik. Dengan kata lain, Globe harus mengajukan tuntutan resmi ke pengadilan.

Di tengah masyarakat Katolik yang taat, jelas investigasi itu bukan langkah populer. Sekitar dua juta dari 3,8 juta penduduk Boston beragama Katolik, dan separuh pembaca Globe adalah jemaat gereja yang taat itu. Tak terbongkarnya kasus-kasus pencabulan oleh pendeta Katolik selama ini juga tak lepas dari kultur masyarakat Boston yang ‘memakluminya’. Tak ada kasus yang berlanjut ke meja hukum. Semua selesai dengan jalan damai dan kekeluargaan.

Gereja berjanji memutasi pendeta-pendeta yang melakukan pencabulan. Itu saja. Tak ada hukuman lain. Namun cerita selalu berulang. Pendeta-pendetar yang dimutasi ke gereja lain karena laporan pencabulan mengulangi perbuatan mereka. Jangan tanyakan soal sanksi. Mereka dimutasi dengan alasan formal yang sama seperti cuti sakit dan dibebastugaskan. Tak ada yang menyinggung sama sekali soal perbuatan amoral.

Menang di pengadilan juga bukan hal mudah bagi Boston Globe. Mayoritas hakim di pengadilan Boston adalah jemaat gereja yang taat. Penghormatan mereka terhadap pastur begitu besar. Boston Globe harus bisa meyakinkan hakim bahwa mosi untuk membuka dokumen itu dilakukan demi kepentingan publik, dan bukan untuk menyerang institusi gereja.

Latar belakang Martin Baron berpotensi jadi persoalan yang merugikan Globe. Sebagai Yahudi, dia dicurigai punya motif terselubung. Mengapa tiba-tiba dia mengutik-utik institusi Gereja Katolik? Tak gampang mengenyahkan teori konspirasi dari isi kepala yang selalu dikuasai syak wasangka.

Semua reporter Spotlight Boston Globe secara emosional sebagai warga kota memiliki kedekatan dengan gereja. Walter Robinson, editor Spotlight, mengenal baik orang-orang yang membantu gereja. Berkali-kali teman-temannya meminta agar investigasi itu dihentikan. “Mereka orang-orang baik dan gereja sudah banyak berbuat untuk kota ini,” kata salah satu kawan.

Ini kasus sulit. Ben Bradlee Junior, redaktur pelaksana Boston Globe, meminta para reporter agar mencari fakta yang benar-benar solid sebelum menulis. Gereja bersikap defensif dan memiliki reputasi sangat kuat. Menyerang salah satu dari anggota gereja bisa dianggap sebagai serangan terhadap institusi gereja secara keseluruhan. Pemberitaan yang lemah bisa berakhir dengan kekalahan di meja hijau.

Masalahnya, tak mudah untuk meminta para korban berbicara dan menceritakan pengalaman pahit masing-masing. Tanpa pengakuan mereka, tidak ada kisah yang bisa ditulis. Sebenarnya ada 80 orang korban yang menggugat gereja karena membiarkan pelecehan seksual itu. Namun tidak ada satu pun yang berakhir dengan masuknya pelaku ke penjara.

Masa berlaku gugatan hanya tiga tahun, dan anak-anak itu dirundung trauma dan rasa malu, sehingga tak ada yang tuntas di meja pengadilan. Sekalipun menang, regulasi membatasi ganti rugi terhadap korban pada angka 20 ribu dolar Amerika atau sekitar Rp 300 juta. Angka yang terhitung rendah di Amerika Serikat.

Sebagian besar penyelesaian dengan korban kasus itu dilakukan diam-diam dan rahasia. Kasus-kasus itu tak pernah tercatat di pengadilan, karena dituntaskan langsung oleh pengacara korban dan gereja. Surat gugatan dicabut dan diserahkan kepada keuskupan. Para korban menandatangani perjanjian tutup mulut. Uang kompensasi diberikan seadanya. Sementara dokumen kasus yang diselesaikan di pengadilan tidak terbuka untuk publik.

Organisasi bernama Survivors Network of those Abused by Priests (SNAP) atau Jaringan Penyintas Pelecehan oleh Pendeta yang dibentuk Phil Saviano, salah satu korban, hanya diikuti sepuluh orang anggota. Dari dia kita tahu, pelecehan seksual bukan hanya sekadar hasrat berahi, tapi juga kekuasaan. Anak-anak yang menjadi korbannya tak berdaya karena merasa berhadapan dengan sosok yang memiliki legitimasi agama yang kuat.

Oknum-oknum pendeta cabul itu memilih mendekati anak-anak, laki-laki dan perempuan, yang tengah bermasalah atau berasal dari keluarga miskin dengan kehidupan yang koyak. Mereka membuat anak-anak malang itu merasa terlindungi, dan pada akhirnya tak berdaya saat pelecehan dilakukan.

Itulah kenapa Saviano menyebut pencabulan tersebut tak hanya melukai raga, tapi juga menghancurkan sisi spiritual para korban. “Mereka, para pendeta itu, merampas keimanan,” katanya.

Para korban melarikan diri dari rasa trauma dengan meninggalkan gereja, meninggalkan Tuhan, dan menjadi pecandu narkoba maupun alkohol. Sebagian memilih mengakhiri hidup dengan tragis. Mereka yang masih hidup menjalani hari-hari dan tumbuh dewasa dengan dipenuhi rasa cemas tentang kemungkinan terbongkarnya masa lalu kelam itu.

Penelusuran dilakukan pelan-pelan. Tak tergesa-gesa. Tak diburu waktu. Satu demi satu penyintas pencabulan itu akhirnya bersedia bicara dan menangis di hadapan reporter Boston Globe.

Informasi dari Saviano juga menjadi awal terbongkarnya pengabaian pelecehan seksual terhadap anak-anak jemaat gereja oleh pendeta. Ada 13 orang pendeta pelaku pencabulan yang masih melakukan pelayanan keagamaan di Boston.

Richard Sipe, seorang psikoterapis dan mantan pendeta yang meneliti masalah ini selama 30 tahun, meyakinkan Globe bahwa ini bukan hanya persoalan satu dua butir apel busuk di antara deretan apel yang bagus dalam keranjang. Ini sudah fenomena gunung es di gereja Katolik Roma. Dia memperkirakan enam persen dari populasi pendeta di Boston melakukan pencabulan pedofilia.

Investigasi Boston Globe menemukan ada 87 pendeta terduga pencabulan anak-anak yang melayani masyarakat di Boston. Garebedian membuat perumpamaan menarik: ‘jika dibutuhkan satu desa untuk membesarkan anak-anak, dibutuhkan satu desa juga untuk mencabulinya’.

“At the end of the day, this problem is more than a few rotten apples. This is very big. I don’t think this is a time for Catholics to become defensive. You can love the institution, and at the same time understand the need to get this out,” kata William Donohue, Presiden Catholic League for Religious and Civil Rights.

Richard Sipe percaya apa yang terjadi pada gereja tak akan menggoyahkan keimanannya. “Gereja adalah sebuah institusi buatan manusia. Fana. Iman saya abadi. Saya mencoba memisahkan dua hal itu,” katanya kepada Mike Razendes, wartawan Globe.

Martin Baron melihat ini bukan sebuah kebetulan. Dia meminta para reporter untuk tak lagi berfokus pada personal, namun sistem di gereja: kebijakan dan tindakan. “Bagaimana gereja memanipulasi sistem agar para pendeta itu tidak digugat secara hukum. Tunjukkan bahwa ini sistemik. Kita kejar sistemnya,” katanya.

Tentu saja itu tak mudah. Reporter Boston Globe mendapat penolakan dari sebagian keluarga korban. Setiap ketukan di pintu dijawab dengan teriakan mengusir dan tatapan sinis. Namun sebagian lainnya seperti menemukan tempat untuk bicara. Putusan tak terduga Hakim Constance Sweeney yang mengabulkan gugatan Boston Globe untuk membuka dokumen kasus pelecehan seks itu membuka jalan bagi upaya untuk mengejar sistem sebagaimana yang dimaksud Baron.

Minggu, 6 Januari 2002. Boston Globe memasang kepala berita: Church Allowed by Priests For years.

Lalu telepon di ruang kerja Spotlight Boston Globe tak berhenti berdering pagi itu. Para penyintas pelecehan seksual oleh pendeta menelepon dan ingin menceritakan kisah mereka. Sebanyak 249 pendeta dan biarawan di Keuskupan Boston didakwa melakukan pencabulan. Lebih dari seribu orang warga melaporkan diri sebagai penyintas.

Kardinal Bernard F. Law mengundurkan diri dari Keuskupan Boston dan pindah ke Basilika Santa Maria Maggiore di Roma, Italia. Namun kasus pencabulan tak hanya terjadi di Boston. Penelitian Richard Sipe terbukti. Skandal seks itu merentang di berbagai kota di Amerika Serikat dan sejumlah kota negara-negara di dunia, mulai dari Manila Filipina, Franca Brasil, London Inggris, Venezuela, Kenya, sampai Tanzania.

Laporan investigatif Boston Globe ini diganjar penghargaan jurnalisme prestisius Pulitzer pada 2003. Dua belas tahun kemudian kisah itu difilmkan dengan judul Spotlight, dan menyabet enam penghargaan Academy Awards pada 2016. Salah satunya sebagai film terbaik.

Apa yang bisa diambil dari skandal pelecehan seksual di gereja Katolik tersebut? Pertama, kultur masyarakat yang menempatkan tokoh agama dalam posisi yang sakral membuat pelecehan seksual mudah terjadi dalam lembaga keagamaan.

Kedua, penyelesaian kasus kekerasan seksual secara kekeluargaan, alih-alih jalur hukum, membuat pelaku merasa terlindungi dan tak segan mengulangi perbuatannya. Penyelesaian secara kekeluargaan hanya merugikan korban, terutama yang mengalami trauma seumur hidup. Maka tak ada jalan lain, kecuali jalur hukum yang harus digunakan untuk menyelesaikannya.

Ketiga, tak ada kata solidaritas atas nama agama dan keimanan untuk kesalahan yang diperbuat pelaku. Empati dan simpati seharusnya ditunjukkan untuk korban kekerasan seksual.

Keempat, dibutuhkan institusi pers yang kuat untuk mengontrol lembaga-lembaga pemerintah dan lembaga-lembaga sosial yang hidup di masyarakat, termasuk lembaga berbasis keagamaan. Agama abadi dan suci, tapi manusia fana dan profan. Keimanan tak pernah tetap, karena kehidupan sesekali membuat manusia tergelincir. [wir/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar

beritajatim TV

Shin Tae Yong Puji Rumput Lapangan Thor Surabaya

Menjajal Mobil Listrik Wuling Air ev