Sorotan

Banyak Jalan Menuju Ro(e)Ma(h)

Ini tahun kedua saya dan keluarga tidak mudik ke kampung halaman. Pandemi Covid-19 yang belum reda membuat kampung halaman terasa jauh di mata dekat di angan. Pemerintah tak hanya mengeluarkan imbauan, namun juga menegakkan hukum.

Takbir keliling dilarang. Aparatur sipil negara dilarang pulang kampung. Pos-pos penyekatan dibangun di kota-kota. Pelabuhan dijaga. Tempat-tempat karantina dibangun untuk mereka yang sudah tiba dari luar negeri di tanah kelahiran.

Mudik bukan lagi perjalanan mudah. Pemudik pejuang. Pejuang pemudik. Pejuang mudik. Para pemudik harus melewati barikade petugas di setiap kota yang dilewati. Sebagian disuruh putar balik. Gagal melenggang. Sebagian lainnya melakukan pembangkangan, nekat menorobos penjagaan petugas kepolisian.

Pemerintah berkali-kali menyerukan kepada warga untuk menahan diri. Sabar. Pandemi belum usai. Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Infeksi Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Erlina Burhan mengingatkan, telah terjadi peningkatan kasus positif dan yang dirawat, terutama sejak minggu keempat April 2021.

“Faktor utamanya adalah kelalaian protokol kesehatan di tempat umum dan munculnya kluster baru. Dikhawatirkan situasi semakin memburuk setelah Lebaran,” katanya. Data resmi terakhir pada Rabu, 12 Mei 2021, tercatat ada 1.408.204 kasus positif, 1.286.539 kasus sembuh, dan 38.523 kasus meninggal.

Kekhawatiran ini beralasan. Laman covid19.go.id menyebutkan alasan larangan mudik tahun ini, karena ada tren lonjakan kasus baru setelah libur panjang yang angkanya bervariasi, dari mulai 37 persen hingga 119 persen Setiap lonjakan kasus juga diikuti peningkatan angka kematian. Kasus harian melonjak hingga 93 persen dengan angka kematian mingguan naik hingga 66 persen pasca libur Idulfitri 2020.

Adanya peningkatan kasus dan potensi varian virus baru di India, Argentina, Turki, dan beberapa negara Eropa juga menjadi pertimbangan, mengingat pemudik juga berasal dari luar negeri.

Sementara itu di kampung halaman, warga lanjut usia yang menjadi alasan kerinduan memiliki risiko terpapar Covid-19 dan risiko kematian berkali lipat lebih tinggi daripada warga berusia lebih muda. Laman itu mengingatkan, pemudik berstatus orang tanpa gejala punya risiko tinggi menularkan pada orang yang lebih tua.

Namun mengapa banyak orang mengabaikan dan memilih pulang kampung? Kawan saya dengan penuh rasa syukur di laman Facebook pribadinya mengabarkan keberhasilannya mudik dari Jember ke Trenggalek setelah menempuh enam jam perjalanan. Mobilitas antarkota yang bertetangga di Eks Karesidenan Besuki juga berlangsung.

Kerinduan adalah bahan bakar luar biasa bagi mereka, terutama setelah setahun lamanya di tanah perantauan mencari nafkah untuk dikirimkan ke rumah di desa. Mudik adalah ritual untuk mengingatkan bahwa mereka punya rumah di desa bukan hanya imajinasi dan nostalgia.

Ketidakpercayaan dan ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah yang inkonsisten dan minim keteladanan membuat keinginan untuk mudik ini kemudian berubah menjadi pembangkangan sosial.

Warga jenuh dan menafsirkan pandemi sebagai mitos yang direproduksi untuk menakut-nakuti warga dan memetik keuntungan dari rasa cemas itu. Adanya orang-orang yang memalsukan tes antigen dan adanya tes antigen dengan alat bekas di Kualanamu mengukuhkan kecurigaan orang bahwa ini urusan fulus dan cuan.

Dua tahun pandemi, dua tahun lebaran, pada akhirnya memberikan pelajaran pada banyak pihak. Pemerintah harus kembali mempertimbangkan dan menata kembali kebijakan penanganan Covid, terutama menunjukkan keteladanan dam konsistensi. Tanpa keteladanan dan konsistensi, kebijakan apapun hanya menepuk angin: tak akan banyak berarti bagi warga yang meyakini bahwa banyak jalan menuju ro(e)ma(h) ketika lebaran tiba.

Selamat Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin. [wir/ted]  



Apa Reaksi Anda?

Komentar