Iklan Banner Sukun
Sorotan

Balai Pemuda Surabaya

Kegiatan kesenian di Balai Pemuda Surabaya ketika belum terjadi pandemi Covid-19. (Foto: Ribut Wijoto)

Surabaya (beritajatim.com) – Gatot Supranada hanya bisa memandangi luas halaman Balai Pemuda Surabaya. Kembang bermekaran penuh warna tak menghilangkan rasa gundah hati. Kering. Segalanya terasa kering.

Hampir 2 tahun Pemerintah Kota Surabaya melarang kegiatan seni dan sastra digelar di halaman dan selasar Balai Pemuda. Alasan yang cukup jelas dan masuk akal. Kegiatan seni dan sastra berpotensi memunculkan kerumunan. Dan kerumunan berpotensi persebaran virus Covid-19.

Gatot tidak menyangkal alasan kebijakan Pemkot. Tetapi, melihat Balai Pemuda Surabaya tanpa kegiatan seni dan sastra tetaplah menimbulkan rasa pedih.

Dulu sebelum pandemi Covid, selama bertahun-tahun, Gatot biasa mengikuti kegiatan seni dan sastra di Balai Pemuda. Dia memang tergabung dalam komunitas Bengkel Muda Surabaya (BMS) yang bersekretariat di Balai Pemuda.
Jika bulan sedang purnama, hampir selalu, Gatot dan teman-teman menggelar tikar. Kadang di halaman kadang di selasar Balai Pemuda. Seperangkat sound system sederhana dipajang. Maka roda prosesi kesenian pun bergerak.

Ada pembacaan puisi, teatrikal, musikalisasi puisi, orasi kebudayaan, maupun sekadar nyanyi-nyanyi bersama. Komunal. Situasi kebersamaan membuncah kental. Seni, pemikiran, keterasingan, dan senda gurau berkelindan seperti adonan rujak cingur.

Tidak sekali dua kali Gatot meminta izin menggelar kegiatan seni. Pengajuan yang disertai dengan janji penerapan protokol kesehatan. Memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak aman agar masing-masing peserta terhindar dari penularan virus Corona. Seperti tubuh ringkih menabrak tembok, seluruh permohonan izin mental sudah.

Satu setengah tahun terakhir, bukan berarti kegiatan seni BMS hilang sama sekali. Beberapa kali digelar kegiatan virtual. Pembacaan puisi, diskusi, drama monolog, kelas-kelas pelatihan sastra, maupun musik dilakukan secara online. Tetapi sungguh, Gatot tidak puas. Gatot kangen pertemuan intim. Pertemuan tatap muka.

Jika malam telah larut, kadang kala, Gatot masih bertahan di Balai Pemuda. Dia membayangkan seseorang memainkan gitar dan seseorang lain menggesek senar-senar biola, khusyuk mengiringi pembacaan puisi.

Hari-hari terakhir ini, bayang-bayang itu datang semakin deras. Gatot tahu, Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Surabaya telah turun ke level terbaik, yaitu level 1.

Gatot membaca berita, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH) Surabaya resmi membuka Taman Kota dengan penerapan protokol kesehatan (prokes) ketat. Dari total 39 taman yang ada di Kota Surabaya, sebanyak delapan Taman Kota resmi dibuka pada Jumat (22/10/2021).

Delapan taman kota yang dibuka menggunakan prokes ketat adalah Taman Flora, Taman Sejarah, Taman Cahaya, Taman Harmoni, Taman Pelangi, Taman Kebun Bibit, Taman Prestasi, dan Taman Ekspresi. Nantinya para pengunjung yang akan masuk ke dalam taman, juga diharuskan melakukan scan QR code barcode melalui aplikasi PeduliLindungi.

Kepala Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH) Surabaya, Anna Fajriatin mengatakan, bahwa anak-anak diperbolehkan masuk ke dalam taman kota dengan harus didampingi oleh orang tua masing-masing. Para pengunjung juga akan dipantau oleh tim yang bertugas terhadap penerapan prokes selama berada di area taman.

“Pembukaan taman tersebut juga telah mendapat asesmen dari Tim Satgas Covid-19 Kota Surabaya. Kami memperbolehkan anak di bawah usia 12 tahun untuk masuk ke taman bersama orang tua dengan menunjukkan QR code barcode aplikasi PeduliLindungi, yang artinya orang tua tersebut sudah melakukan vaksinasi,” kata Anna, Jumat (22/10/2021).

Selain itu, Anna menjelaskan, pembukaan delapan taman kota tersebut, dibuka dengan dua sesi. Untuk sesi pertama dimulai pada pukul 06.00 WIB sampai pukul 11.00 WIB. Kemudian untuk sesi kedua, dibuka pada pukul 13.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB. Selain itu, para pengunjung yang masuk ke dalam taman juga dilakukan secara bertahap.

“Kapasitas pengunjung berdasarkan luas taman masing-masing karena luas setiap taman berbeda-beda. Kita lakukan uji coba ini selama tiga hari pada waktu akhir pekan, yakni hari Jumat, Sabtu, dan Minggu agar bisa menghitung kapasitas baik akhir pekan dan hari kerja,” ujar dia.

Anna berharap, meskipun PPKM di Kota Surabaya sudah berada di Level 1, warga diminta untuk tidak abai dalam penerapan prokes. Karenanya, ia juga meminta warga tetap bisa menjaga jarak antar pengunjung yang lainnya, agar tidak menimbulkan kerumunan. Serta tetap mencuci tangan dan menggunakan masker.

“Warga diharapkan tidak terlalu euforia meski sudah PPKM Level 1, harus tetap mencuci tangan, menggunakan masker, dan menjauhi kerumunan atau menjaga jarak saat taman kota sudah resmi dibuka nanti. Ayo saling menjaga, agar tidak memicu penularan Covid-19 di Kota Surabaya,” terang dia.

Gatot berulang-ulang membaca berita tentang pembukaan taman-taman di kota Surabaya. Dia khawatir ada satu atau dua kata yang terlewatkan. Namun begitu, Gatot semakin kecewa. Nama Balai Pemuda Surabaya tetap saja tidak ditemui.

Malam ini, Gatot memilih tidak buru-buru pulang. Dia duduk bersandar di tembol luar gedung utama Balai Pemuda. Dia pejamkan mata. Justru jika mungkin, dia ingin tertidur. Dan di dalam tidur, Gatot ingin bermimpi. Mimpi tentang kebisingan orang-orang berkesenian. [but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar