Sorotan

Bagaimana Masa Depan Sepak Bola Indonesia?

Pertandingan Persebaya Vs Madura United di Piala Gubuernur. Foto: beritajatim

Bagaimana Masa Depan Sepak Bola Indonesia? Pertanyaan ini mengapung tanpa mendapatkan kepastian jawaban. Saat negara-negara lain di Asia sudah menjadwalkan kembali kompetisi liga profesional, otoritas sepak bola di Indonesia masih sibuk meyakinkan pemerintah.

Klub-klub terancam gulung tikar tanpa perolehan finansial. Pemain menganggur.

Belum ada opsi penyelenggaraan pertandingan yang bisa meyakinkan dengan mempertimbangkan ancaman Covid-19. Bahkan itu pertandingan tanpa penonton sekali pun sebagaimana di Eropa. Sulit bagi sebuah pertandingan sepak bola untuk tidak menyedot minat suporter.

Potensi pelanggaran larangan oleh suporter untuk berkerumun di sekitar stadion sangat besar, jika mengacu beberapa pertandingan tanpa penonton musim sebelumnya. Belum lagi konsistensi pelaksanaan prosedur tetap penanganan kesehatan berkala untuk semua tim. Kita tidak tahu kemampuan masing-masing klub. Tentu saja PSSI harus bertanggung jawab dalam hal ini.

Ketidakjelasan masa depan ini juga merambah level amatir yang lebih banyak bicara soal pembinaan. Pertandingan antar klub amatir tingkat kabupaten hingga kompetisi sekolah sepak bola tidak terselenggara. Ketatnya petugas kepolisian menerapkan pembatasan kerumunan membuat pertandingan tingkat desa pun sulit terselenggara, karena selalu menyedot penonton.

Jika ini terus-menerus dibiarkan, maka bisa dipastikan sepak bola benar-benar akan mati. Solusi harus segera ditemukan. Sebenarnya, untuk liga profesional, siaran televisi menjadi solusi tak terelakkan. Pertandingan tanpa penonton dengan disiarkan langsung dan tunda oleh televisi akan menjaga keajegan kompetisi sepak bola negeri ini. Selain itu, pembagian royalti hak siar akan menjaga klub tetap hidup sebagaimana di Inggris.

Sejumlah negara di Asia tidak memiliki penonton sepak bola segila Indonesia. Stadion mereka tidak pernah penuh setiap kali pertandingan liga. Namun klub-klub tetap bisa dikelola profesional. Kuncinya ada pada hak siar televisi. Masa depan sepak bola justru ada pada televisi, terutama di era pandemi.

Tahun 2013, krisis finansial yang melanda PT Persebaya Indonesia sedikit reda, setelah tercapai kesepakatan dengan Kompas TV untuk siaran langsung delapan pertandingan Persebaya dalam Liga Prima Indonesia. Gaji pemain bisa terbayarkan dengan kompensasi hak siar tersebut.

Namun, di sisi lain, pembagian royalti hak siar televisi di Indonesia umumnya selalu menyisakan persoalan dari tahun ke tahun. Tahun 2017, Persebaya dan klub-klub Liga 2 memprotes pembagian hak siar televisi sebagai kompensasi berkurangnya jumlah penonton yang datang ke stadion akibat siaran langsung. Televisi justru menjadi musuh klub-klub di Indonesia.

Tak ada yang tahu kapan pandemi akan berakhir. Bisa satu dua tahun. Bisa bertahun-tahun lagi. Tidak ada yang lebih menakutkan selain ketidakpastian. Satu-satunya yang bisa menyelesaikan adalah keberanian.

Kompetisi sepak bola profesional sebaiknya tetap digelar. Tak perlu semua kasta. Cukup Liga 1 sebagai percontohan lebih dulu. Pertandingan tanpa penonton, dan sebaiknya digelar di lokasi terbatas.

Tidak perlu ada kandang dan tandang. Pertandingan dilaksanakan di sejumlah lokasi tertentu dan dengan jadwal beruntun, untuk menghemat pengeluaran klub. Lokasi ini bisa dirahasiakan, walau agak janggal. Tapi ini penting untuk menghindari datangnya suporter. Lebih baik jika diselenggarakan di luar Jawa.

Tentu saja, televisi menjadi ujung tombak untuk menjaga kultur tontonan ini. Namun, PSSI dan otoritas penyelenggara kompetisi harus bersepakat soal hak siar dengan klub terlebih dulu. Hak dan kewajiban harus dibicarakan dan dijalankan. Ini penting untuk menjaga klub tetap hidup dan sepak bola Indonesia tak mati. [wir/ted]



Apa Reaksi Anda?

Komentar