Sorotan

Bagaimana Cara Membunuh Persebaya?

Pendukung memasang Baliho HUT Persebaya ke-94

Saudara-Saudara, bagaimanakah cara membunuh Persebaya, sebuah klub sepak bola yang usianya lebih tua daripada usia republik ini? Bagaimana melenyapkannya dari sejarah sebuah bangsa dan nostalgia warga sebuah kota?

Syahdan, klub ini didirikan oleh sekumpulan klub-klub bumi putra di Surabaya yang menentang dominasi Soerabaiasche Voetbal Bond (SVB) yang beranggotakan klub-klub dengan pemain Belanda. Hizbul Wathan, Tjahaja Laoet, REGO dan beberapa klub pribumi lainnya ingin merayakan sepak bola sekaligus meneguhkan identitas kebangsaan. Maka mereka membubuhkan ‘Indonesia’ dalam bond yang didirikan pada 18 Juni 1927: Soerabaiasche Indonesische Voetbal Bond (SIVB).

Lupakanlah soal perdebatan kaum sejarawan soal benar tidaknya bond ini berdiri pada 18 Juni. Saya hakkul yakin Pamudji, Sanoesi, Sidik, Radjiman Nasution, Askaboel tak pernah berimajinasi, kelak ada ribuan orang yang bentrok dengan polisi hanya untuk merayakan hari jadi bond yang mereka dirikan pada Jumat tengah malam, 18 Juni 2021. Jadi lupakanlah soal perdebatan tahun dan tanggal lahir, karena tak akan pernah bisa menjawab pertanyaan awal kita: bagaimanakah cara membunuh klub ini.

Jangan berharap perang akan membunuh Persebaya. Di bawah pendudukan Belanda, klub ini malah menjadi ujung tombak nasionalisme di lapangan hijau dengan ikut mendirikan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Perang kota 10 November 1945 tidak membuatnya lumpuh. Begitu juga agresi militer pasca kemerdekaan.

Saudara-Saudara, tahu Borussia Dortmund? Iya, betul, Borussia Dortmund yang pernah dilatih Jurgen Klopp, pelatih jenius dan humanis itu. Perang Dunia I memaksa para pemain klub sepak bola Jerman itu mengganti sepatu bola dengan sepatu lars dan jersey klub dengan seragam militer.

Saat para para pemain dikirim ke garis depan, para pengelola klub berkorespondensi rutin dengan mereka, menjenguk istri dan anak-anak mereka, menjaga semua keluarga itu agar tak merasa sendiri. Perang justru menguatkan ikatan di antara mereka.

Perang usai, semua anggota klub patungan untuk mendirikan stadion yang baru, karena stadion lama terlampau kecil untuk menampung penonton. Mereka yang tak punya uang, menyumbangkan tenaga atau apapun yang mereka bisa. Kita jadi ingat para pemuda desa di Indonesia yang bekerja bakti dan warga lainnya menyajikan minuman dan makanan ala kadarnya.

Solidaritas. Itulah kekuatan klub sepak bola seperti Dortmund, yang didirikan bukan dengan motif bisnis dan profit, namun untuk melayani komunitasnya, masyarakatnya. Solidaritas pula yang membuat mereka tak patah saat Nazi memecat direktur klub karena menolak bergabung. Dan ketika stadion mereka diambil paksa tanpa kompensasi, Dortmund tetap bertahan.

Dari Dortmund, kita belajar, bahwa ada tiga kekuatan klub sepak bola: publik atau komunitas, suporter, dan identitas historis. Perang gagal menghancurkan klub sepak bola. Maka, tak ada jalan lain-lain, untuk membunuh Persebaya semua cara harus dilakukan untuk melemahkan salah satu atau semua elemen kekuatan yang dimiliki itu.

Saya semula mengira demikian. Dan ternyata saya keliru. Tak semudah itu melemahkan mereka.

Tahun 2011, federasi membentuk klub tandingan dengan nama dan identitas yang sama, sekaligus tidak mengakui klub Persebaya satunya yang ikut serta dalam kompetisi breakaway. Berikutnya, Persebaya di bawah PT Persebaya Indonesia malah dilarang berkompetisi sejak 2013.

Nalar normal mengatakan, Bonek, pendukung Persebaya, akan memilih klub yang diakui PSSI dan bisa berkompetisi. Namun nalar normal rupanya tak berbanding lurus dengan fanatisme. Mereka memilih mengosongkan stadion daripada harus datang dan bahkan tanpa dipungut ongkos tiket masuk sekalipun. Benar-benar tak masuk akal.

Sebelumnya, klub itu juga tak hancur karena salah kelola. Bertahun-tahun Persebaya dimanfaatkan untuk kepentingan politik praktis. Para politisi, anggota parlemen, kepala daerah berseliweran menjadi pengelola. Di tangan mereka, Persebaya pernah menjadi juara, dan kemudian terpuruk karena kekurangan finansial. Ini seperti siklus yang berulang layaknya perempuan datang bulan.

Bonek pula yang menjadi kekuatan terbesar yang menyelamatkan Persebaya dari jangkauan tangan-tangan politik. Mereka menjaga agar klub ini tetap di jalurnya.

Jalan lain untuk membunuh Persebaya adalah menghapuskan jejak identitas mereka. Sudah banyak klub sepak bola di Indonesia yang terbunuh dengan jalan ini: diperjualbelikan, berubah nama, dan kemudian berpindah kota. Menjadi klub dengan wajah yang benar-benar baru dan sejarah baru. Tidak perlu saya sebutkan klub-klub ini, Saudara-Saudara.

Namun, upaya ini gagal juga. Adanya saham untuk klub-klub anggota PSSI Surabaya yang memiliki ikatan kesejarahan dengan klub dalam PT Persebaya Indonesia membuat Persebaya masih memiliki jejak sejarah sejernih aliran sungai dari mata airnya. Persebaya tetap menjadi milik Surabaya. Apalagi jika kemudian seluruh klub internal melakukan rekonsiliasi dan berangkulan.

Jalan lain yang sempat menerbitkan harapan untuk membunuh klub ini adalah saat kebijakan politik pemerintah kota tak berpihak kepada mereka. Jika nama Persebaya tergusur dari Wisma Karanggayam, maka satu tetenger historis telah hilang. Saat Persebaya tak bisa memakai Gelora 10 Nopember dan kesulitan menyewa Gelora Bung Tomo, maka kematian sudah di depan mata. Apa kata dunia jika Liverpool berkandang di Manchester? Apa kata orang jika Manchester United bermarkas di Newcastle? Sejarah sepak bola adalah sejarah masyarakat kota. Maka menyingkirkannya dari kota kelahiran adalah jalan tercepat menuju kematian.

Tapi lagi-lagi saya keliru. Persebaya tak bisa dibunuh begitu saja, ketika banyak orang yang mencintainya bersedia duduk bersama, berbicara satu sama lain untuk mencari jalan keluar. Dan kemudian kita tahu, Wali Kota Eri Cahyadi tak hanya memberikan ruang besar bagi Persebaya, namun juga meneguhkan klub ini sebagai ikon kota. Pada hari ulang tahun Persebaya, spanduk-spanduk besar berisi kalimat dukungan yang dibuat Bonek dibiarkan bertebaran di sudut-sudut kawasan protokol. Lagu-lagu yang biasa dinyanyikan suporter di stadion diputar di sepuluh titik di Surabaya.

Namun seperti kata orang-orang yang beriman, saya percaya tak ada yang bisa melawan kehendak Tuhan. Persebaya hanya bisa dimatikan dengan kehendak Tuhan. Hanya Tuhan yang bisa menghentikan mereka. Namun ternyata Tuhan juga mendengar doa-doa hamba-Nya yang berbuat baik. Saat para Bonek itu datang memberikan bantuan di lokasi bencana gempa bumi, warga berterima kasih dan berdoa semoga Persebaya baik-baik saja.

Saat para Bonek mendirikan rumah panti asuhan dengan ikhtiar sendiri seperti para anggota Borussia Dortmund yang bergotong-royong mendirikan stadion, doa tulus tak pernah berhenti mengalir dari sana. Ketika para Bonek membagikan Alquran di masjid-masjid dan musala-musala kecil, mereka menitipkan doa untuk Persebaya, berharap langit akan mendengar dan mengaminkannya.

Jadi bagaimana cara membunuh Persebaya? Maaf, tidak bisa. Klub ini mungkin pernah terpuruk pada titik terendah. Berada pada tubir jurang, dan terpeleset dalam kegagalan dan kekonyolan silih berganti. Namun Persebaya tak pernah benar-benar mati, selama senantiasa ada orang-orang yang melekatkan kenangan dan harapan kepada klub ini.

Ini memang sekadar klub sepak bola, dan hanya Tuhan yang bisa menentukan takdir sejarahnya. Namun mungkin itulah kenapa usianya mencapai 94 tahun hari ini.

Terima kasih. [wir]



Apa Reaksi Anda?

Komentar