Iklan Banner Sukun
Sorotan

Baca Buku Ini, Orang Naik Haji Akan Merasa Belum Berhaji

Ribut Wijoto

Baca buku ini, orang naik haji akan merasa belum berhaji. Kalimat itu dilontarkan teman saya ketika melihat buku tulisan Ali Syariati. Saya tidak menolak atau mengiyakan. Saya memang belum membaca buku tersebut.

Tetapi diam-diam saya penasaran dengan buku tulisan Ali Syariti. Ingin tahu tentang isinya. Penasaran dengan klaim bahwa orang yang sudah naik haji bakal merasa belum naik haji ketika membaca buku itu.

Maka saya simak lembar demi lembar buku Ali Syariati berjudul ‘Makna Haji’ (terjemahan Burhan Wirasubrata, terbitan Zahra, tahun 2001). Ternyata klaim yang dilontarkan teman saya itu sangatlah logis.

Ali Syariati memaparkan prosesi ibadah haji secara detail. Dan yang utama adalah paparan pengalaman batin ketika menjalani tiap tahap ritual haji. Pengalaman batin yang menggetarkan sekaligus tafsir yang mendalam.

Ketika seseorang dalam keadaan ihram, menurut Ali Syariati, orang harus melupakan bisnis, jabatan, kelas sosial, ras, atau apapun yang berbau duniawi.

Jangankan tentang bisnis, Ali Syariati menyarankan orang pergi haji untuk tidak berdiri di depan cermin. “Jangan bercermin agar engkau tidak melihat gambaranmu. Karena itu, lupakanlah dirimu untuk sementara”.

Sebelum memulai ibadah haji, orang mustilah berganti baju, memakai ihram. Tanpa penutup kepala, tanpa penutup wajah, tanpa sepatu atau kaus kaki, tanpa perhiasan. Hanya lembaran kain putih. Seperti penutup tubuh ketika manusia mati.

“Ya Allah! Sekarang aku berdiri di hadapan-Mu sebagaimana Ibrahim, bukan sebagai penindas (serigala), penipu (rubah), atau penimbun (tikus). Tidak! Aku menghadap-Mu sebagai manusia yang mengenakan pakaian ihram yang sama dengan yang akan aku kenakan saat aku menjumpaimu di akhirat,” tulis intelektual Muslim kelahiran Iran yang memperoleh gelar doktor dari Universitas Sorbonne, Perancis itu.

Labbaika, Allahumma Labbaika. Ketika prosesi haji telah dimulai, orang diminta untuk semangat dan bergegas menuju Allah. “Tuhan telah memanggilmu. Engkau berada di sini untuk memenuhi undangan-Nya dan taatilah Dia sepenuhnya”.

Begitu posisi telah dekat dengan Kabah, gairah semakin membuncah. Ali Syariati mengibaratkan sebagaimana hewan liar yang berusaha melepaskan diri dari sangkarnya. Hati yang meronta menghentak-hentak dinding dada. “Karena seluruh atmosfir penuh dengan roh Allah maka engkau tidak dapat mengendalikan air mata,” tulis intelektual yang sempat 2 kali dipenjara itu.

Di dekat Kabah, orang merasakan keagungan Allah di dalam hati, di bawah kulit, di dalam pikiran, perasaan. Keagungan Allah mengejawantah dalam setiap batu dan butir pasir, di dalam lembah, di padang pasir, di cakrawala yang samar-samar.

Yang disaksikan orang hanyalah Allah, tiada yang lain. Allah adalah satu-satunya yang ada. Allah satu-satunya kebenaran, selain Dia semuanya tidak nyata. “Ketika menunaikan berbagai macam aspek ibadah haji, engkau merasakan semakin menyimpang jauh dari dirimu sendiri dan semakin mendekati Allah”.

Di dekat Kabah, keheningan merasuk di mana-mana. Semua orang membisu tapi hati masing-masing terbakar api cinta. Setiap langkah memperbesar cinta dan takut kepada Allah. Kehadiran Allah semakin terasa bertambah dekat, dan pandangan mata semakin luas sekaligus terfokus ke kiblat.

Kabah. Wujud Kabah hanyalah sebuah bangunan berbentuk kubus yang kosong. Tidak ada apa-apa. Tidak ada apapun untuk dilihat. Kabah tidak merefleksikan kepiawaian arsitektural, keindahan, seni, prasasti, tidak juga kualitas, dan tidak ada kuburannya.

Tapi di dekat Kabah, orang bisa tergetar dan terhenyak. Tiada Tuhan selain Allah. “Engkau tidak diizinkan memasuki rumah suci ini jika engkau masih memikirkan dirimu sendiri”.

Ali Syariati memberi penafsiran tentang bentuk Kabah yang hanya kubus itu. Menurutnya, Kabah bakal menyadarkan manusia bahwa Allah Yang Maha Kuasa tidak memiliki ‘bentuk’, tidak berwarna dan tidak ada yang menyerupai-Nya. “Tidak ada pola atau visualisasi Allah yang dapat diimajinasikan oleh manusia. Karena Allah adalah mutlak”.

Pada bagian-bagian selanjutnya, Ali Syariati memaparkan pengalaman dan makna tiap-tiap prosesi haji. Perihal makna tawaf, kiblat, alasan makam Hajar (seorang budak berkulit hitam) yang berada di dekat Kabah, tentang sai, wukuf, lempar jamarah, dan lain sebagainya.

Meski detail dan menyeluruh, Ali Syariati menolak menyebut tulisannya sebagai panduan menjalankan ibadah haji. Dia lebih suka menyebut tulisan-tulisannya sebagai rangkaian komentar dan tafsiran yang bisa dipakai untuk rangsangan berpikir. Sebuah catatan hasil dari menjalankan tiga kali ibadah haji. Plus pengalaman berkeliling kota Mekah.

Walau sekadar rangkaian komentar dan catatan pengalaman pribadi, tulisan-tulisan Ali Syariati ternyata sanggup memberi inspirasi banyak orang. Dawam Rahardjo dalam sebuah tulisan sempat mengungkapkan bahwa Amien Rais usai membaca buku Ali Syariati menjadi merasa belum melaksanakan ibadah haji secara benar. Amien Rais merasa belum berhaji.

“Buku ini hanyalah komentar dan tafsiran tentang berbagai ritus haji oleh seorang hamba Allah yang hina,” begitu Ali Syariati menempatkan dirinya.

Melalui tulisannya, Ali Syariati yang mati terbunuh di Inggris itu, berharap orang pergi haji tergerak untuk mempelajari tujuan haji, makna kenabian, pentingnya kesatuan dan nasib Muslim. Sehingga nantinya, orang yang selesai pergi haji, mereka dapat terus menjadi teladan dalam kegelapan masyarakat, bagaikan sinar kemilau dalam kegelapan. Aamiin. [but]

*) Catatan: Seluruh kutipan berasal dari buku Ali Syariati yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul ‘Makna Haji’ (terbitan Zahra, tahun 2001).

 


Apa Reaksi Anda?

Komentar