Sorotan

Esai Gerakan Mahasiswa 2019

Ayah kepada Anaknya yang Ada di Garis Depan Aksi Massa

Massa aksi mahasiswa dari Universitas Indonesia (dok foto: Afghan)

Jakarta, 24 September 2019. Pukul lima. Matahari mulai surut. Afghani Trisna Ramadhan bersama ribuan orang mahasiswa masih bertahan di depan gerbang gedung DPR RI. Tuntutan terus diteriakkan. Sebagian besar soal penolakan terhadap upaya pelemahan Komisi Pemberantasan Korupsi. Lima hari sebelumnya mereka juga sudah menggelar aksi. Namun kali ini suasana terasa lebih mencekam.

Dar!

Mendadak ledakan terdengar. Asap mengepul di depan sana. Gas air mata. Massa mulai goyah. Pimpinan-pimpinan aksi mencoba menenangkan. Namun anak-anak muda ini tidak memiliki sejarah panjang terlibat dalam aksi-aksi demonstrasi yang keras. Mereka mulai kebingungan.

Kecemasan merambati jantung Afghan. Sebagai Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, ia merasa bertanggung jawab terhadap ratusan orang kawannya yang terlibat aksi. “Kalau terlalu lama di sini kacau nih anak-anak UI,” pikirnya.

Afghan menemui beberapa kawannya sesama koordinator lapang. Mereka memutuskan untuk menarik mundur massa. “Ayo cepat balik,” katanya.

Massa mulai mundur. Namun tembakan gas air mata mengikuti dan semakin intensif. Massa mulai buyar. Mereka berlarian menyelamatkan diri masing-masing. Banyak yang terkapar. Pingsan. Mereka yang bisa bertahan membantu sesama kawan yang mulai terjatuh. Terus bergerak. Jangan berhenti. Jangan tinggalkan mereka yang tumbang. Afghan memberikan semangat kepada kawan-kawannya.

Seorang mahasiswi mendadak terjatuh dan lemas. Afghan berhenti dan segera mengangkatnya. Salah satu kawan mendekat. “Tolong bopong dia!” Afghan memberikan perintah dengan jelas, sebelum berlari kembali mencari kawan-kawannya yang tertinggal dan jatuh.

Dia tarik mereka yang tak berdaya, meneriakkan perintah untuk menyelamatkan diri. “Lari! Lari!”

Hari itu aksi mahasiswa berujung bentrokan dengan aparat hingga larut malam. Ini aksi mahasiswa terkeras dan massif yang pernah dihadapi pemerintah sepanjang satu dekade ini. Puluhan orang terluka dan dilarikan ke rumah sakit. Tuntutan mereka jelas: menolak revisi Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi dan sejumlah perundang-undangan lain seperti Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang dibahas pemerintah dan DPR RI.

Kabar aksi mahasiswa dan pecahnya bentrokan di senayan membuat Muhammad Iqbal, ayah Afghan, cemas. Dia mengirimkan pesan WhatsApp menanyakan kabar sang anak. “Tadi gimana barisan? Aman?”

“Sempet chaos, Yah. Aku kena gas air mata.”

“Terus sekarang gimana?”

“Udah aman.”

“Ada efek?”

“Perih dan sempet sesak tadi pas kena.”

“Sekarang gimana?

“Udah gak berasa apa-apa.”

“Iya gak papa, biasa. Cuma gas air mata, belum juga popor senjata. Getir pahit, dera sakit itu bumbu penyedap perjuangan reformasi ketika 1998 dulu. Tetap semangat,” kata Iqbal.

Iqbal mengatakan sudah mentransfer Rp 1,5 juta kepada Afghan. “Yang Rp 500 ribu buat Afghan,” katanya kepada sang anak. Rp 1 juta rencananya dibelikan logistik air minum dan makanan buat kawan-kawan Afghan yang ikut aksi.

Iqbal sempat menghubungi Afghan pada Selasa pagi sebelum sang anak turun ke jalan. “Doakan aku, Yah. Aku jadi pucuk komando teratas massa dari FIB soalnya. Semoga gak kenapa-kenapa.”

“Majulah maju! Kenakan jaket almamatermu! Kibarkan panji-panjimu! Lawan!” Iqbal berpesan kepada sang anak.

Iqbal sama sekali tidak menyangka Afghan bakal berani turun ke jalan, berunjuk rasa memprotes kebijakan negara. Anak pertamanya yang lahir pada 12 Januari 1998 itu tidak punya tongkrongan seorang aktivis jalanan. Apalagi Afghan kuliah di jurusan Sastra Jepang, bukan ilmu politik, dan baru masuk kuliah pada 2016. Saat masih duduk di bangku sekolah menengah, ia bagian dari komunitas penggemar kereta api dan beberapa kali bermain musik akustik dengan kawannya di panggung.

Afghan berbeda 180 derajat dengan Iqbal. Jauh sebelum menjadi dosen, Iqbal adalah aktivis Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi di Universitas Airlangga Surabaya, dan pernah menjadi salah satu penanggung jawab di divisi penerbitan koran Lontar dan Djembatan Merah. Ia termasuk yang berada di garis depan massa aksi yang ketika itu hendak “menduduki” RRI untuk menyampaikan tuntutan agenda reformasi total.

Afghan sering meminta Iqbal bercerita soal aksi-aksi unjuk rasa mahasiwa angkatan 1998, dan hanya terpana mendengar sang ayah bertutur. Iqbal tersenyum jika teringat hari-harinya bercengkerama dengan Afghan dan bercerita tentang apa yang telah lampau.

Gerakan mahasiswa 1998 adalah inspirasi dan api bagi mahasiswa seperti Afghan. Setelah aksi unjuk rasa 24 September 2019, Afghan bisa membayangkan bagaimana sulitnya ayah dan ibunya berunjuk rasa pada masa Orde Baru, pada suatu masa di mana kebebasan berpendapat benar-benar dibatasi. Itu sebuah masa di mana pola pembentukan kritisisme mahasiswa berbeda dengan zamannya saat ini.

Aksi mahasiswa 1998 memiliki pengantar panjang dan merupakan akumulasi dari serangkaian gerakan mahasiswa sepanjang Orde Baru: Malari 1974, demo normalisasi kehidupan kampus 1978, aksi penolakan asas tunggal 1980-an, dan serangkaian aksi-aksi massa mengadvokasi kasus-kasus agraria. Setelah organisasi mahasiswa seperti Himpunan Mahasiswa Islam, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia dilarang masuk kampus, para mahasiswa mendirikan kelompok-kelompok studi dan sebagian lainnya memilih beraktivitas di masjid. Buku-buku terjemahan tentang pemikiran berbagai aliran dan ideologi, Islam maupun ideologi sosialisme, membantu pembentukan kritisisme mereka.

Ini berbeda dengan gerakan mahasiswa 2019. Generasi milenial selama ini tak terlampau peduli dengan isu-isu sosial politik. “Selama ini cap karakter kurang peduli pada isu-isu sosial HAM dan politik tak sedikit disematkan pada kaum milenial,” kata Iqbal.

Afghan mengakui proses pembentukan kesadaran untuk peduli terhadap persoalan negara relatif singkat dan terjadi tahun ini. Isu pelemahan Komisi Pemberantasan Korupsi menjadi isu yang menyatukan dan membangkitkan mahasiswa. Namun dibandingkan generasi sebelumnya, generasi milenial lebih mudah terpapar informasi mengenai persoalan-persoalan negara dari internet yang menjadi bahan bakar kesadaran aksi.

Para aktivis badan eksekutif mahasiswa seperti Afghan mempercepat pembentukan kesadaran itu. BEM FIB yang dipimpin Afghan sering terlibat diskusi dan mempublikasi sebanyak-banyaknya informasi mengenai persoalan seperti pelemahan pemberantasan korupsi.

Pendeknya masa konsolidasi dan pembentukan paradigma aksi ini tentu saja berkonsekuensi pada minimnya pemahaman mahasiswa terhadap apa yang mereka suarakan. Iqbal menyadari kompleksitas yang dihadapi generasi milenial dibandingkan generasinya dulu. Generasi 1998 hanya memiliki satu spektrum isu: menurunkan Suharto. Namun generasi 2019 menghadapi banyak spektrum isu dan persoalan regulasi yang hendak dilawan. Tidak ada personifikasi musuh bersama sebagaimana masa Orde Baru.

Iqbal berkali-kali mengingatkan sang anak untuk benar-benar belajar tentang apa yang hendak disuarakan, dan mengirimkan versi lunak (PDF) Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang kontroversial itu.

“Sebelum demonstrasi, asah otak mengunyah literasi karya legislasi. Kekuatan barisan karena argumen, bukan sentimen apalagi mental cemen. Udah baca RKUHP-nya, Mas?”

“Aku bacanya yang draft 2015, yang Ayah kasih belom.”

“Nah, harus baca tuh! Agar efektif, bikin kelompok yang dibagi untuk pahami 36 bab atau 628 pasal plus penjelasan. Tiap kelompok nuntasin bacaan lalu bikin review singkat tentang apa isi utamanya atau fokus pada pasal-pasal plus penjelasan-penjelasan yang masih atau malah makin kolonialistik, mencederai hak-hak asasi dan prinsip-prinsip berdemokrasi.”

“Kan malu-maluin kalau berorasi ternyata blas gadas gak baca isi atau gak paham substansi. Jangan-jangan orasi jadi benar-benar ora ono isi,” tambah Iqbal, tertawa.

Namun terlepas dari sekian kelemahan, Iqbal menilai gerakan mahasiswa saat ini cukup otentik. “Kerisauan hingga kegusaran mereka muncul lantaran satu per satu regulasi yang tengah diproduksi itu ternyata memuat sejumlah pasal-pasal kontroversial. Umumnya mahasiswa menilai cenderung pro kekuasaan daripada pro asas keadilan dan kesejahteraan untuk rakyat,” katanya.

Serangan para pendengung (buzzer) pro pemerintah di media sosial, menurut Afghan, justru membuat gerakan mahasiswa makin solid. “Tudingan terhadap aksi mahasiswa bahwa kami ingin menggulingan Jokowi membuat kami sakit hati. Karena ini memang murni memprotes sistem yang kacau. Bukan menggulingkan Jokowi,” katanya.

Senin, 30 September 2019. Afghan dan teman-temannya kembali turun ke jalan. Ia merasa tensi aksi hari ini akan meningkat. Ancaman kekerasan membayangi.

Dan memang hanya doa yang tersisa untuk dirapalkan dalam batin dan harapan hari itu, saat tensi situasi di lapangan meningkat. Media sosial dipenuhi kabar-kabar singkat tentang pecahnya kekerasan di sana-sini. Aparat kepolisian melepaskan gas air mata dan semprotan water cannon. Sementara massa melawan. Kericuhan merembet di sejumlah titik di Jakarta. Situasi mulai reda pada pukul 12 malam. Ratusan orang ditangkap polisi, sebagian di antaranya berseragam pelajar.

Kecemasan merayapi jantung orang tua Afghan. Mereka baru bisa bernapas lega setelah Afghan memberikan kabar jelang Magrib.

“Di mana sekarang, Mas?” Tanya Iqbal.

“Udah di bus rombongan UI, Yah,” respon Afghan.

“Alhamdulillah. Hati-hati ya Nak. Tetap Semangat,” jawab Iqbal lega.

Afghan mengenang aksi itu kini. “Saya berpikir kalau misal terjadi apa-apa ya gimana. Mungkin saya tidak menemui ayah dan mama lagi. Makanya saya minta restu.”

Tuhan mengabulkan. Hari itu ia selamat. Namun hari-hari perjuangan mahasiswa masih panjang dan jauh dari selesai. [wir]

Apa Reaksi Anda?

Komentar