Sorotan

Pekan 1 Liga 1 2019

Awal yang Tak Mengesankan Persebaya di I Wayan Dipta

Performa Persebaya Surabaya saat bertandang ke kandang Bali United, Stadion Kapten I Wayan Dipta, Kamis (16/5/2019) malam, jauh dari mengesankan. Anak-anak asuhan Djajang Nurjaman memang memberikan perlawanan. Namun dibandingkan penampilan musim lalu, pertandingan perdana Liga 1 2019 ini jelas tak sepadan.

Persebaya kali ini memilih memainkan formasi tiga bek tengah, 3-4-3. Ini bukan formasi yang biasa dipakai Persebaya musim lalu. Formasi ini yang dipakai Antonio Conte saat membawa Chelsea menjadi juara Liga Inggris. Sistem tiga bek biasa digunakan di Italia.

Salah satu alasan Djajang memasang formasi tiga bek adalah untuk menyiasati absennya sejumlah pemain karena cedera. Otavio Dutra dan Nelson Alom belum pulih. Begitu pula Misbakus Solikin. Sementara Amido Balde belum bisa bermain karena alasan administratif.

Djajang agaknya paham, tanpa ujung tombak eksplosif seperti David da Silva, sulit berharap kemenangan tebal 5-2 sebagaimana musim sebelumnya. Persebaya sedang melawan badai cedera. Sementara, Bali United tengah solid dengan makin solidnya Stefano Lilipaly dan playmaker Paulo Sergio. Pelatih mereka juga baru, Stefano Cugurra, bukan lagi Widodo C. Putro. Cugurra adalah pelatih yang sukses membawa Persija Jakarta juara Liga 1 2018.

Kali ini, Djajang menurunkan Hansamu Yama Pranata, Rachmat Irianto, dan Mokhamad Syaifuddin berbarengan, dan mendorong Ruben Sanadi dan Abu Rizal Maulana lebih ofensif sebagai bek sayap kiri dan kanan.

Djajang menurunkan dua gelandang petarung untuk memenangkan pertarungan di lini tengah, Muhammad Hidayat dan Muhammad Alwi Slamat. Sementara di lini depan Osvaldo Haay menjadi penyerang tengah dengan disokong dua pemain di belakangnya, Damian Lizio dan Irfan Jaya. Formasi 3-4-3 menjadi lebih mirip formasi 3-4-2-1.

Dengan dua bek sayap yang agresif, serangan Persebaya memang terlihat garang. Namun skema umpan-umpan silang dari sayap tak sepenuhnya berjalan, karena Osvaldo Haay bukan striker yang sigap berduel di udara sebagaimana Amido Balde. Sementara Irfan Jaya dan Damian Lizio yang diharapkan melakukan aksi individu dengan kecepatan manuver harus berhadapan dengan Willian Silva Costa Pacheco dan Leonard Tupamahu yang disiplin.

Di tengah, Hidayat bertarung dengan Paulo Sergio. Beberapa kali ia berhasil menghadang Sergio sehingga kesulitan mengirimkan umpan terobosan ke depan Lilipaly, Yabes Roni, maupun Ilija Spasojevic. Namun beberapa kali pula Paulo Sergio dengan cerdik meninggalkan Hidayat.

Dengan tiga bek sejajar, Persebaya lebih mengandalkan jebakan offside untuk mencegah serangan Bali United. Hasilnya: Bali United sembilan kali terjebak. Namun jebakan offside ini bukannya tanpa risiko. Tanpa dihadang full back, dua pemain sayap Bali, Yabes Roni dan Lilipaly bisa bergerak bebas menerima umpan terobosan dari tengah. Saat tiga bek Persebaya kehilangan konsentrasi, maka jebakan offside pun ambyar. Tercatat oleh Statoskop-Jawa Pos, Bali United melakukan 27 umpan silang berbanding 12 umpan silang Persebaya.

Gol pertama Bali United oleh Spasojevic pada menit 15 menunjukkan lemahnya formasi tiga bek Persebaya. Tak ada yang mengawal Lilipaly, yang berlari kencang di sektor kanan Persebaya dan mengirim bola datar ke Spasojevic. Miswar Saputra gagal mengantisipasi. Begitu pula Hansamu dan Syaifuddin.

Performa Miswar di bawah mistar gawang masih angin-anginan. Satu waktu, ia bisa melakukan penyelamatan pada menit ke-7, saat menepis bola tendangan Spaso dari luar kotak penalti. Namun di lain waktu, Miswar bikin jantung ribuan Bonek yang hadir di stadion berdebar kencang seperti saat pada menit 23, gagal menepis bola umpan dari Lilipaly dan membiarkan gawang kosong. Beruntung Alwi Slamat melakukan penyelamatan dengan menyapu bersih bola. Menurut catatan Statoskop-Jawa Pos, Miswar melakukan empat kali penyelamatan dari 11 tembakan yang mengarah ke gawangnya.

Sementara itu, lini depan Persebaya harus berterima kasih kepada Syaifuddin. Setelah berkali-kali gagal melakukan penetrasi berbahaya, aksi individu Damian Lizio dalam kotak penalti memunculkan situasi ‘pin-ball’ yang membuat Syaifuddin bisa menceploskan bola pada menit 30. Gol pertama Persebaya musim ini dari seorang pemain bertahan. Luar biasa.

Gol ini berawal dari situasi tendangan pojok yang dilakukan Alwi Slamat. Skema bola mati dari tendangan pojok ini agaknya harus terus diasah untuk memunculkan alternatif saat skema serangan open play (terbuka) buntu.

Namun, kehilangan konsentrasi pada menit 49, membuat Persebaya harus kebobolan. Kali ini dari skema serangan tiktak Lilipaly dan Yabes Roni di sisi kiri pertahanan Persebaya. Ada tujuh pemain Persebaya di kotak penalti dan terbetot pergerakan Lilipaly dan membiarkan Paulo Sergio tak terkawal. Bola hasil tendangan kerasnya mengena tubuh Alwi Slamat dan berubah arah ke sudut kanan gawang Miswar.

Djajang merespons dengan memasukkan Manuchehr Jalilov menggantikan Abu Rizal Maulana dan Rendi Irwan Saputra menggantikan Alwi Slamat. Masuknya Jalilov membuat Syaifuddin ditarik menjadi bek kanan. Persebaya kembali bermain dengan empat bek. Hasilnya, serangan Bali United dari sayap lebih bisa dijinakkan. Apalagi masuknya Rendi membuat lini tengah Persebaya lebih ofensif dengan menyisakan Hidayat sebagai gelandang bertahan tunggal.

“Soal skema, saya tadi tampilkan dua skema berbeda, dan hasilnya saya pikir tidak terlalu buruk dan bisa dijalankan dengan baik,” kata Djajang usai pertandingan. Ia menyebut bahwa Persebaya kalah karena pemain kehilangan konsentrasi.

Dengan kekalahan ini, maka Persebaya gagal mempertahankan rekor bagus melawan Bali United. Sebelumnya musim lalu, Persebaya menang 1-0 dan 5-2 atas Laskar Sameton. Namun ini baru awal musim. Belum saatnya mengibarkan bendera putih. [wir/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar