Iklan Banner Sukun
Sorotan

Arah Dukungan Eks FPI di Pilpres 2024

Ribut Wijoto.

Front Pembela Islam (FPI) memang telah dibubarkan. Pembubaran yang termaktub dalam surat keputusan bersama (SKB) sejumlah menteri tanggal 30 Desember 2020. Meski secara formal bubar, eksistensi eks FPI tetaplah kuat. Menarik untuk dicermati arah dukungannya dalam perhelatan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.

Di permukaan, keberadaan eks FPI terlihat dari aksi unjuk rasa. Misalnya aksi di kantor Kedubes India, Jumat (17/6/2022) lalu. Demo terkait pernyataan politikus partai Bharatiya Janata (BJP) yang mengomentari kehidupan pribadi Nabi Muhammad SAW dengan Sayyidah Aisyah.

Lebih mendalam lagi, keberadaan eks FPI mengejawantah melalui aktivitas pengajian yang terus digelar. Para habib dan ulama eks FPI sangat rajin merawat umat dan bersemangat menyerukan perjuangan menegakkan syariat Islam.


Sejak berdiri pada 17 Agustus 1998, FPI memang mengaku berjuang untuk ‘penerapan syariah Islam dan penegakan khilafah melalui jalan dakwah, hisbah dan jihad sesuai dengan manhaj nubuwwah’. FPI bermaksud menegakkan amar ma´ruf nahi munkar secara káffah di segenap sektor kehidupan, dengan tujuan menciptakan umat sholihat yang hidup dalam baldah thoyyibah dengan limpahan keberkahan dan keridhoan Allah ´Azza wa Jalla.

Dan sebagai organisasi yang secara eksplisit memproklamirkan dirinya berdiri menegakkan syariat Islam, FPI memiliki jejak panjang dalam sejarah Indonesia. Begitu organisasi FPI dibubarkan, spirit menegakkan syariat Islam tidak serta merta luntur dalam dada para pimpinan dan simpatisannya.

Spirit itu secara otomatis tersalurkan melalui organisasi lain yang masih terkait secara ideologis. Pada organisasi-organisasi eks FPI. Saat ini setidak-tidaknya terwadahi melalui Front Persudaraan Islam (FPI), Persaudaraan Alumni (PA) 212, Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama.

Nah, terkait Pilpres 2014, sebelum membahas yang berpotensi didukung eks FPI, satu hal lain juga perlu diketengahkan. Yakni, capres yang hampir pasti tidak didukung oleh eks FPI. Siapakah?

Melihat dinamika politik, setidaknya, dalam 10 tahun terakhir, calon presiden yang diusung PDI Perjuangan hampir pasti tidak didukung oleh eks FPI. Hubungan antara PDI Perjuangan dengan eks FPI sangat jauh dari harmonis. Begitu pula dengan Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang nota bene kader PDIP.

Bahkan, di masa Presiden Jokowilah, FPI dibubarkan, dilarang beraktivitas dan atribut-atributnya tak boleh dipakai. Bahkan saat ini, meski berbeda kasus, pendiri FPI Habib Rizieq Shihab beserta mantan Sekretaris Umum FPI Munarman dijebloskan penjara.

Di pihak lain, anggota maupun pimpinan eks FPI rajin melontarkan kritik tajam kepada Pemerintahan Jokowi. Setajam kritik kepada kebijakan politik PDI Perjuangan. Ibaratnya, jika PDIP ke kanan, eks FPI bakal otomatis ke kiri. Tidak seiring jalan.

Siapapun calon presiden yang diusung PDIP dalam Pilpres 2024 nanti, sudah hampir pasti, tidak mendapat dukungan dari eks FPI.

Prabowo Subianto, jika nanti maju Pilpres 2024, mungkin juga sulit untuk mendulang dukungan dari eks FPI. Tampaknya eks FPI kecewa terhadap langkah politik Prabowo.

Setelah bersama berjibaku dalam Pilpres 2019, Prabowo Subianto tiba-tiba belok arah masuk dalam gerbong koalisi pendukung Pemerintahan Presiden Jokowi. Menjadi Menteri Pertahanan. Sedangkan eks FPI tetap di barisan oposisi. Kebijakan Prabowo ini mendapat kritik pedas dari simpatisan eks FPI.

Dalam kampanye Pilpres 2019 lalu, Prabowo Subianto juga sempat berjanji untuk mengupayakan pemulangan Habib Rizieq dari luar negeri. Tetapi begitu menjabat Menteri Pertahanan, janji tersebut gagal dipenuhi.

Namun peluang rujuk antara eks FPI dengan Prabowo tetap terbuka. Sebab satu tangan Prabowo masih menjalin hubungan dengan eks FPI. Yakni melalui Fadli Zon. Wakil Ketua Umum Gerindra itu aktif menyuarakan dukungan terhadap eks FPI. Beberapa waktu lalu, Fadli Zon datang ke pengadilan menjadi saksi meringankan untuk Habib Bahar bin Smith. Fadli Zon juga bersuara keras atas kasus tewasnya 6 laskar eks FPI.

Lantas siapa calon presiden yang paling berpeluang mendapat dukungan dari eks FPI?

Anies Baswedan sepertinya sangat berpeluang. Eks FPI all out mendukung Anies Baswedan dalam Pilgub DKI Jakarta tahun 2017 lalu. Setelah berhasil menjadi Gubernur DKI Jakarta, langkah politik Anies Baswedan kerap berseberangan dengan Pemerintahan Presiden Jokowi. Langkah Anies tersebut tentu menyenangkan eks FPI.

Persoalannya adalah Anies Baswedan belum tentu bisa maju ke Pilpres 2024. Elektabilitas dan popularitas Anies Baswedan memang selalu bersaing dengan Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto, tetapi hingga saat sekarang, belum ada partai politik atau koalisi partai politik yang memastikan bakal mengusungnya.

Hanya Partai Nasdem yang telah memasukkan nama Anies Baswedan dalam kandidat tokoh yang bakal diusung ke Pilpres 2024. Itu pun nama Anies masih harus bersaing dengan Ganjar Pranowo dan Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa. Sedangkan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) belum menyebutkan nama kandidat capres.

Selain Anies Baswedan, tokoh dengan latar belakang militer juga berpotensi mendapat dukungan dari eks FPI. Hal itu terbukti dalam 2 kali pilpres. Pada Pilpres 2014 dan Pilpres 2019, eks FPI senantiasa mendukung Capres Prabowo Subianto yang nota bene berlatarbelakang militer.

Pilihan itu tentu bukan sebuah kebetulan. Eks FPI mungkin merasa nyaman bersinergi dengan pemimpin berlatarbelakang militer. Utamanya ketika eks FPI turun ke lapangan melakukan penindakan untuk menegakkan syariat Islam. Misalnya melakukan pelarangan atas penjualan minuman keras, penutupan tempat prostitusi, atau aktivitas lain untuk menghentikan yang dinilai menistakan nilai-nilai agama Islam. Sesuai namanya bahwa FPI adalah Front Pembela Islam, bertekad ada di barisan terdepan dalam membela Islam.

Selebihnya, jika Pilpres 2024 hanya diikuti oleh 2 calon presiden, siapapun lawan dari PDIP berpeluang mendapat dukungan dari eks FPI. Asal bukan capres dari PDIP.

Tidak tertutup kemungkinan, eks FPI absen dari hal ihwal dukung mendukung calon presiden. Itu bisa terjadi bila nanti ternyata seluruh calon presiden tidak ada yang dinilai sehaluan dengan kepentingan eks FPI. Atau tidak ada calon presiden yang bersedia menjanjikan untuk mendukung perjuangan dari eks FPI.

Kunci arah politik eks FPI tetap pada Habib Rizieq Shihab. Hingga saat ini pun, sikap politik Habib Rizieq masih dinamis. Masih melihat-lihat perkembangan situasi politik.

Tanggal 22 Juni 2022, pengacara Habib Rizieq, yakni Aziz Yanuar ke media massa menyatakan bahwa dibanding memperjuangkan pilihan politik, pihaknya pilih fokus berjuang dalam penegakan hukum yang berkeadilan. “(Soal Pemilu 2024) HRS fokus pada pendidikan dan dakwah. Dan enggan ikut ikutan dalam carut marut politik,” kata Aziz.

Sehari berikutnya, 23 Juni 2022, Aziz Yanuar memastikan eks FPI bakal mendukung apapun komando dan sikap Habib Rizieq Shihab. Pernyataan tersebut dipertegas dalam media sosial Twitter milik Front Persaudaraan Islam (FPI). Di situ dicantumkan bahwa Habib Rizieq belum menentukan sikap.

“Karenanya, jika ada spanduk atau ajakan atau sekelompok orang mengaku FPI, PA 212 atau GNPF Ulama ikut dukung-mendukung Capres tertentu, maka itu HOAX,” tulis akun @DPP_LIP.

Habib Rizieq belum menjatuhkan pilihan. Segala kemungkinan masih terbuka lebar. Menarik untuk ditunggu perkembangan selanjutnya. Sebab jika eks FPI sudah bergerak, manuver politiknya kerap kali mengejutkan. Seperti manuver politik ketika dulu eks FPI berjuang memenangkan Anies Baswedan dalam Pilgub DKI 2017. [but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar