Iklan Banner Sukun
Sorotan

Aplikasi Teknologi Nano untuk Koyo

Foto: ilustrasi media sosial

PPKM yang terus berlangsung akibat melonjaknya angka covid di bulan Juli 2021 lalu membuat banyak pekerja berlama-lama duduk di depan komputer atau laptop untuk rekreasi, bekerja ataupun virtual meeting. Kondisi ini sangat mempengaruhi kerja tubuh manusia, termasuk otot, tulang dan sendi.

Akhirnya, banyak yang mengalami keluhan nyeri punggung atau nyeri leher dan perlu mengonsumsi berbagai jenis obat juga termasuk menggunakan koyo (transdermal patch) untuk mengurangi nyeri yang dialaminya.

Teknologi nano yang terus berkembang juga dimanfaatkan untuk penyediaan obat dalam bentuk patch pereda nyeri tersebut. Teknologi nano sangat diperlukan dalam bidang obat karena bisa mendukung kecepata obat memasuki aliran darah untuk menuju bagian tubuh tertentu. Semakin cepat bahan obat mencapai tujuan, makin cepat pula orang merasakan manfaat perbaikannya.

Dengan teknologi nano, bahan obat yang dibuat berukuran sepersepuluh juta sentimeter. Dengan ukuran sekecil itu maka diharapkan bahan obat dapat lebih mudah larut, mudah terserap, dan mudah menembus kulit.

 

Pemberian sediaan obat melalui kulit sebenarnya juga mengalami berbagai problem. Problem utama obat lewat kulit adalah lapisan kulit yang paling atas atau disebut stratum korneum merupakan lapisan yang sukar ditembus.

Hal ini disebabkan sifat bahan obat yang sulit larut di air, hidrofobisitas yang tidak sama antara bahan obat dan kulit, dan berat molekul obat. Untuk itu maka dibuat ukuran nano dengan teknik tertentu. Salah satu bentukan nano yang bisa digunakan untuk sediaan lewat kulit atau yang dikenal dengan transdermal Nanostructure Lipid Carrier (NLC).

Dra Esti Hendradi, Apt, MSc, Phd *

Sistem ini bisa membuat ukuran dalam kisaran nano. Bentuk sediaan NLC adalah setengah padat atau seperti krim. Sehingga dosis/takaran yang digunakan pasien tidak seragam jumlahnya yaitu tergantung pengolesan yang diberikan pasien.

Sedangkan ketepatan dosis yang diberikan sangat menentukan kesembuhan penyakit. Selain itu karena bentuknya yang setengah padat maka stabilitas dari sistem ini terbatas. Untuk meningkatkan keseragaman dosis peningkatan obat yang terserap dan stabilitas selama penyimpanan pada pemberian transdermal sistem NLC dibuat dalam sediaan patch.atau plester.

Mengkonsumsi obat nyeri dalam jangka waktu lama untuk meredakan nyeri kronis bisa berakibat melukai banyak organ tubuh. Banyak penderita nyeri yang akhirnya keluhan bertambah, mulai dari mual, nyeri lambung, tenggorokan terasa panas hingga muntah.

Keluhan ini bisa saja disebabkan adanya iritasi atau luka lambung akibat konsumsi obat nyeri yang terus menerus dalam waktu lama. Terutama untuk orang yang mengalami gangguan di lambung maka hal ini akan menimbulkan masalah.

Selain itu obat ini bila digunakan peroral (diminum) maka akan mengalami peristiwa yang disebut first pass metabolism di hati. Sehingga obat tersebut yang mencapai peredaran darah untuk dibawa ketempat yang sakit menjadi berkurang. Hal inilah yang menjadi alasan kenapa dialihkan penggunaannya lewat kulit. Obat pereda nyeri yang termasuk sering dikonsumsi adalah meloxicam.

Nah, saat ini, meloxicam sedang dikembangkan dalam sediaan plester. Meloxicam adalah termasuk golongan Non Steroid Anti Inflamasi Drugs (NSAID) yang digunakan untuk meredakan gejala penyakit radang sendi atau arthritis, seperti pembengkakan dan nyeri sendi.

Sediaan patch atau plester atau koyo ini merupakan bentuk sediaan yang bertujuan untuk menghantarkan obat melewati kulit ke dalam sirkulasi darah. Selama 2 dekade terakhir, transdermal patch telah menjadi teknologi yang terbukti memberikan berbagai macam manfaat klinis yang signifikan dibandingkan dengan sistem penghantaran topikal lainnya karena tiap plester jumlah obatnya sama. Keuntungan pengobatan dalam bentuk plester ini adalah bisa menguragi penggunaan obat pil yang bisa saja berefek pada lambung.

Teknologi nano untuk pengembangan transdermal patch ini sangat menawarkan alternative sediaan obat yang akan lebih bersahabat bagi masyarakat. Tentunya, agar pengembangan ilmu teknologi nano di bidang pengobatan sangat dibutuhkan kolaborasi yang apik Antara peneliti dan industry farmasi. Banyak studi yang bisa direalisasikan menjadi produk untuk bisa dinikmati masyarakat. Tak hanya berakhir dalam bentuk publikasi jurnal ilmiah.

Penelitian yang telah dilakukan untuk pengembangan plester sebagai media penghantar obat telah menunjukkan hasil yang sangat positif, selanjutnya adalah fase penelitian di dalam skala industri yang kemudian dilanjutkan dengan komersialisasi. Tentu saja hal ini akan membutuhkan waktu dan proses yang kesemuanya dilakukan berdasar kaidah ilmiah, tapi pada akhirnya kita semua sebagai bangsa yang akan diuntungkan. Pasien akan mendapatkan model pengobatan yang lebih baik dan efektif.

 

Dra Esti Hendradi, Apt, MSc, Phd 
*)Penulis adalah Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Airlangga


Apa Reaksi Anda?

Komentar