Sorotan

Antara Korupsi dan Prostitusi

Dhimam Abror Djuraid

Korupsi dan prostitusi adalah dua hal yang sudah terjadi sepanjang peradaban manusia. Ada yang menyebut prostitusi adalah profesi tertua dalam peradaban manusia, seolah-olah prostitusi adalah profesi yang sama terhormat dengan profesi-profesi lainnnya.

Banyak juga yang menyebut “budaya korupsi”, seolah-olah korupsi adalah hasil budidaya olah akal manusia yang sama terhormatnya dengan produk-produk budaya lainnya.

Dulu kita mengenal WTS sebagai singkatan dari wanita tuna susila. Tapi sekarang istilah itu sudah tidak pernah terdengar lagi, sudah diganti dengan istilah yang rada-rada aneh, yaitu Pekerja Seks Komersial (PSK).

Karena sekarang PSK juga sudah pada canggih dan bisa beroperasi melalui online maka muncul kategori baru yaitu PSK Online atau PSK Daring.

Itulah salah satu hasil dari gerakan liberal feminisme di Indonesia yang sudah mulai dikenal sejak 1970-an tapi semakin kuat setelah Reformasi 1998 dengan lahirnya UU Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), 2004.

Sebutan pelacur tidak ada lagi. Wanita tuna susila menjadi istilah yang tidak dikenal oleh generasi sekarang. Kalau diperdengarkan lagu Titik Puspa “Kupu-Kupu Malam” generasi now akan mengernyitkan dahi. Mereka tak kenal Titik Puspa, tapi tahu puspa alias “putuskan saja pacarmu”.

Sebutan PSK dianggap lebih menghormati harkat keperempuanan. Bahkan di media massa PSK Online yang tertangkap basah terlihat lebih terhormat ketimbang kepala daerah yang terkena OTT, operasi tangkap tangan.

PSK Online akan ditutupi wajahnya dan namanya disebutkan inisialnya saja. Kepala daerah yang kena kasus korupsi diborgol tangannya, diberi rompi orange, dan dipamerkan kepada publik, dan namanya disebutkan terbuka sejak awal.

Pekan lalu, seorang artis perempuan yang tertangkap basah di Medan karena terlibat pelacuran daring (13/7), hanya disebutkan inisialnya saja HH, dan wajahnya disembunyikan untuk menghindari jepretan kamera media.

Pekan-pekan ini bupati Sidoarjo non-aktif Saiful Ilah diadili di pengadilan tipikor Waru, Sidoarjo. Ia mengenakan rompi orange dan tangannya diborgol. “Aku dikecrek koyok maling ayam–Saya diborgol kayak maling ayam,” keluhnya kepada media.

Pelaku korupsi diberlakukan seperti itu supaya merasakan efek jera. Kalau vonisnya lebih dari lima tahun mereka bisa kena hukuman tambahan hak politiknya dicabut. Tapi, masih banyak juga yang tetap nekat korupsi.

Perilaku korupsi sudah ada sejak generasi pertama manusia ada di bumi. Dalam Kitab Suci disebutkan bahwa ketika Allah memerintahkan anak-anak Nabi Adam untuk memberikan persembahan kurban.

Qabil melakukan korupsi dengan mengurangi kualitas persembahan kurbannya. Sementara Habil memberikan persembahan kurban dengan kualitas terbaik. Persembahan Qabil ditolak dan Habil diterima. Qabil yang marah kemudian membunuh Habil. Itulah cikal bakal kejahatan besar di dunia, korupsi dan pembunuhan.

Prostitusi pertama terjadi pada peradaban Sumeria kuno atau Mesopotamia di sepanjang Sungai Tigris dan Efrat di Irak Selatan kira-kira 2500 SM. Ketika itu para petani diminta mengumpulkan sisa hasil pertaniannya di lumbung kuil dan sebagai imbalannya mereka mendapatkan layanan seks.

Dalam perkembangan modern perlakuan terhadap dua hal itu menjadi berbeda. Di Indonesia para koruptor dipapar ke media tapi pelaku prostitusi malah disembunyikan. Hukuman terhadap diperberat supaya memberi efek jera, lalu hak politiknya dicabut pula.

Pelaku prostitusi high profile rata-rata mendapat hukuman lebih ringan, dan dalam banyak kasus malah lebih populer setelah menjalani hukuman. Masyarakat pun lebih reseptif dan permisif, sehingga hukuman sosial nyaris tidak ada.

Tentu agak susah mengharapkan efek jera bagi mereka. Malah sebaliknya banyak yang lebih terkenal setelah tertangkap. Bahkan ada selebritas pelaku prostitusi daring yang hari-hari ini diberitakan luas oleh media infotainment karena melahirkan bayi pertama. Media memberitakannya gegap gempita. Tidak ada, misalnya, yang iseng mempertanyakan siapa bapak si bayi.

Media infotainment tentu tak bisa diharap banyak. Malah sering menjadi bagian show itu sendiri. Seorang selebritas yang mulai kendor popularitasnya biasanya membuat sensasi berita settingan, seolah-olah berkonflik dengan orang lain. Kasusnya macam-macam, mulai dari rebutan suami orang sampai utang-piutang. Kalau tidak ada lawan orang lain dicari lawan dari kerabatnya sendiri, bila perlu orangtuanya sendiri, lalu media infotainment memberitakannya besar-besaran.

Karena itu wajar kalau banyak yang menganggap pekerja infotainment itu bukan jurnalis atau wartawan karena pekerjaan mereka tidak ada hubungannya dengan kepentingan publik.

Menyebut inisial pelaku prostitusi daring malah membuat publik penasaran. Akun Instagramnya malah diserbu banyak orang yang penasaran. Sudah menjadi kodrat manusia, ketika dilarang malah penasaran. Tulisan “Dilarang Masuk” di pintu malah mengundang orang untuk mengintip.

Terhadap korban tindak asusila media mainstream juga melakukan pencemaran keindahan dan kecantikan. Narasi terhadap korban tindak asusila selalu berbunyi “sebut saja Bunga” atau “sebut saja Mawar”.

Bunga dan mawar yang seharusnya indah jadi tercemar karena labelling media. Karena itu ibu-ibu enggan menamai anaknya Bunga (BCL sudah telanjur ngetop), atau Mawar. Mereka lebih suka menamai anak perempuannya “Dita Leni Rafia” yang sekarang viral.

* * * *

Kompleks prostitusi sudah banyak yang ditutup. Tapi prostitusi tetap menjadi masalah yang sulit dipecahkan. Ketika kompleks ditutup mereka beremigrasi ke kompleks prostitusi daring yang menjadi marketplace yang sulit untuk dilacak.

Sebagaimana perdagangan online yang tidak butuh pasar fisik, prostitusi online juga tidak membutuhkan kompleks prostitusi fisik seperti di masa lalu. Hampir sama dengan produk-produk entertainment, prostitusi adalah sebuah industri besar dengan pasar yang sangat besar juga.

Amerika punya Hollywood. India punya Bollywood. Surabaya (pernah) punya Dollywood. (*)





Apa Reaksi Anda?

Komentar