Sorotan

Amien Rais, Partai Ummat, dan Kultur Rivalitas Pilpres

Ribut Wijoto.

Partai Ummat akhirnya deklarasi juga. Seperti yang diduga banyak pihak, Amien Rais tampil sebagai leader. Tokoh Reformasi ini menduduki posisi Ketua Majelis Syuro. Klaim keras Amien Rais langsung mencuat.

“Kami Partai Ummat bersama anak bangsa lainnya insya Allah akan bekerja, berjuang, dan berkorban apa saja untuk melawan kezaliman dan menegakkan keadilan,” kata Amien Rais dengan mantap.

Jargon ‘melawan kezaliman’ dan ‘menegakkan keadilan’ menjadi spirit perjuangan. Jargon ini juga mengindikasikan bahwa Partai Ummat berada pada barisan oposisi terhadap kekuasaan saat sekarang, yakni Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Tidak mengagetkan, memang. Dalam kurun beberapa tahun terakhir, Amien Rais getol menyuarakan kritik tajam terhadap Pemerintahan Jokowi. Bahkan ketika Amien Rais masih dalam struktur kepengurusan Partai Amanat Nasional (PAN) yang nota bene berada pada barisan pendukung pemerintahan. Dia seperti membikin arus sendiri, di luar kebijakan politik PAN.

Kali ini, Amien Rais memegang kendali partai. Secara otomatis, sikap kritis Amien Rais adalah juga sekaligus sebagai arah kebijakan politik Partai Ummat.

Bagaimana respon publik? Apakah Partai Ummat bakal mendulang suara besar dalam Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2024 mendatang? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari kita simak situasi kultur psikologis politik kita.

Dalam beberapa tahun terakhir, psikologi politik Indonesia senantiasa berkait erat dengan rivalitas Pilpres 2014 dan Pilpres 2019. Kebetulan calon presidennya sama, yaitu Jokowi dan Prabowo Subianto. Rivalitas keduanya merebak luas ke hampir seluruh rakyat yang melek politik. Suara partisipasi rakyat seperti terbelah dalam 2 pilihan utama, antara pendukung Jokowi dan pendukung Prabowo.

Rivalitas opini publik awet hingga saat sekarang. Walau pada faktanya, Prabowo sudah masuk dalam pemerintahan, yaitu sebagai Menteri Pertahanan. Ia bermetamorfosis menjadi opini rakyat yang mendukung pemerintahan dan opini rakyat yang selalu kritis pada pemerintahan (oposisi).

Pada situasi psikologis politik seperti itu, Partai Ummat berpeluang mendapat dukungan dari rakyat yang tidak pro pemerintahan. Peluang ini terbuka lebar didapat karena citra Amien Rais sebagai tokoh yang konsisten mengkritisi kebijakan Presiden Jokowi.

Tetapi tentu tidak ada yang mudah. Partai Ummat tidaklah sendirian dalam memerebutkan kue partisipasi rakyat di barisan oposisi. Masih ada 3 partai lain yang bersaing di ceruk yang sama. Ketiganya adalah Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Gerindra, dan Partai Demokrat.

Bersaing dengan ketiganya, Partai Ummat jelas kalah dalam hal mesin partai. PKS, Gerindra, Demokrat sudah berpengalaman bertarung dalam beberapa kali Pemilu. Mereka memiliki struktur kepengurusan hingga tingkat bawah.

Jika sebatas mengandalkan ketokohan Amien Rais, langkah Partai Ummat dalam mendulang dukungan rakyat tentu berat. PAN pun ketika masih ada Amien Rais, perolehan suaranya juga tidak terlalu besar.

Artinya, rentang waktu sekitar 3 tahun menjelang Pemilu ini, Partai Ummat wajib berusaha keras menata dan memaksimalkan mesin partai hingga tingkat bawah. Berjuang menarik simpati rakyat sembari membangun basis massa.

Dan tentu, upaya ini membutuhkan dana besar. Tetapi tetap harus dilakukan. Sebab jika sebatas mengandalkan sikap kritis dari pernyataan-pernyataan Amien Rais, Partai Ummat bakal hanya besar di media. Tetapi lemah di akar rumput.

Peluang lain yang bisa dimaksimalkan oleh Partai Ummat adalah ormas Muhammadiyah. Amien Rais masih sangat disegani oleh warga Muhammadiyah. Jika Partai Ummat bisa meyakinkan kader-kader Muhammadiyah untuk turut membesarkan Partai Ummat, hasilnya bakal mudah kelihatan.

Satu peluang lagi adalah Front Pembela Islam (FPI). Walau terus didera masalah, eksistensi FPI tidak pernah surut. Suara para pemimpin FPI tetap didengar dan mampu menggerakkan aksi-aksi massa. Jika bisa merangkul kepentingan FPI, sangat mungkin, Partai Ummat mendapat dampak suara yang sangat signifikan.

Segala hal masih mungkin untuk diraih. Partai Ummat masih baru saja deklarasi. Jalan panjang masih harus ditempuh. Dan tentu saja, semuanya tidak ada yang mudah. Semuanya butuh diperjuangkan. [but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar