Iklan Banner Sukun
Sorotan

Amal Jariyah Goenawan Mohamad

Catatan Pinggir Goenawan Mohamad

Dari Goenawan Mohamad saya belajar bagaimana kata-kata memiliki daya dan keindahan sekaligus.

Saya harus jujur katakan: GM adalah guru menulis saya yang paling berpengaruh. Tidak, tentu saja saya tidak (atau tepatnya belum) pernah berjumpa dengannya. Namun Catatan Pinggir yang ditulisnya setiap pekan di Majalah Tempo selama lebih dari 40 tahun adalah kitab babon bagi penulis dan jurnalis seperti saya yang tinggal di sebuah kota yang jauh dari pusat lingkaran intelektual di negeri ini.

Saya masih ingat, setelah mendapatkan hadiah sebagai salah satu pemenang lomba esai tingkat mahasiswa yang digelar Kedutaan Besar Korea (jurinya Sapardi Djoko Darmono), saya merasa cukup kaya untuk memborong empat jilid buku kumpulan Catatan Pinggir. Buku Catatan Pinggir 1-4 berisi esai-esai GM yang dimuat setiap pekan di Tempo sebelum majalah itu diberangus oleh Orde Baru.

GM tidak memberikan petunjuk praktis cara menulis dalam Catatan Pinggir. Ini bukan buku resep panduan memasak. Belakangan saya baru tahu kalau petunjuk cara menulis features ala Majalah Tempo bisa dibaca di buku Andai Aku Wartawan Tempo. GM banyak memberikan pengaruh terhadap ragam tulisan jurnalisme Tempo. Namun jika ingin belajar dari Catatan Pinggir, maka kau harus memperlakukannya sebagai sebentuk kenikmatan, seperti menyeruput segelas kopi di pagi hari. Pelan-pelan.

Membaca Catatan Pinggir berarti mencoba menakar dan memperkirakan kemungkinan-kemungkinan tentang bagaimana sebuah kata dipilih ketimbang kata lain yang bermakna sama. Lalu seperti secangkir kopi yang meninggalkan ‘aftertaste’ di lidahmu, esai GM meninggalkan jejak pada ingatanmu, yang membuatmu paham bahwa menulis adalah soal rasa, dan bukan hanya soal teknis.

Uu Suhardi, mantan redaktur bahasa Majalah Tempo, dengan jernih menulis dalam buku ’80 Tahun Burung-Burung’ tentang bagaimana GM juga selalu mengingatkan pembentukan kata-kata lain yang keliru dalam bahasa Indonesia, misalnya “cerpenis”, “merubah”, dan “Paman Sam”. Namun saya kira, hanya GM yang berani menabrak ejaan yang disempurnakan (EYD) yang disucikan oleh entitas formal akademis di negeri ini.

Uu mengatakan, dalam semua tulisan di Tempo, termasuk Catatan Pinggir, beberapa fonem “p” di awal kata dasar tak luluh ketika mendapat awalan ‘meng-‘, seperti ‘mempesona’ dan ‘mempengaruhi’. “Tapi hanya dalam Catatan Pinggir konsonan ganda ‘th’ dipertahankan,” katanya.

GM menampik ‘mitos’, tapi ‘mithos’. Dia memilih ‘ethos’ dan ‘ethika’, bukan ‘etos’ dan ‘etika’. Dia bersikukuh menggunakan ‘thema’ dan ‘theologi’, dan bukannya ‘tema’ dan ‘teologi’. “Bagi Goenawan, fonem “th” itu salah satu kekayaan bunyi dalam bahasa Indonesia yang mesti dipertahankan,” tulis Uu.

Siapa berani membantah dan berdebat dengan GM soal itu? “Awalnya, kami, para redaktur bahasa, sempat menganggap Catatan Pinggir sebagai ‘kitab suci’, jadi tak bisa dan tak perlu diedit,” kata Uu, memberikan pembelaan bahwa Catatan Pinggir bukan sekadar esai., tapi ‘esai setengah puisi’ yang diyakininya ingin mempertahankan bunyi dalam bahasa Indonesia.

Kesakralan Catatan Pinggir di mata para editor bahasa Tempo naik kelas menjadi epos dan mitos, setelah majalah itu dibreidel pada 1 Juni 1994. Goenawan melibatkan diri dalam aksi gerakan pro demokrasi dengan menyumbangkan Catatan Pinggir untuk dimuat di Majalah Independen, sebuah majalah yang diterbitkan Aliansi Jurnalis Independen. “Dukungan itu membuat kredibilitas Independen makin diakui publik,” kata ‘Stanley’ Yosep Adi Preasetyo, salah satu deklarator Sirnagalih dan pendiri Aliansi Jurnalis Independen, dalam buku 80 Tahun Burung-Burung.

Dalam pengantar buku Catatan Pinggir 4, Goenawan menyebut Catatan Pinggir cenderung diperlakukan sebagai sebuah momento, tentang sebuah majalah dan tentang sebuah masa, dan juga sebuah bagian dari ‘ikon’. “Bagi saya itu juga suatu indikasi, bahwa orang akhirnya memang harus melawan represi atas kebebasan bersuara, walaupun dengan cara minimum…menunjukkan, bahwa Catatan Pinggir masih tetap ditulis, mungkin dibaca, dan yang perlu adalah hadir, tampak,” katanya.

Saya membayangkan apa yang dilakukan Goenawan seperti yang dilakukan Tirto Adhi Soerjo saat menulis laporan (yang lebih mirip esai propagandis) di surat kabar Medan Prijaji pada masa penjajahan Belanda. Di sebuah negeri yang rakyatnya tak banyak membaca dan hanya menerima informasi (doktrinasi) satu arah dari penguasa, melawan dengan tulisan memang terasa muskil. Namun ketika diktator membakar buku, mengeksekusi para penulis, membreidel surat kabar, kita tahu, Napoleon ada benarnya: ada waktunya tulisan lebih menakutkan. Orang bisa membedil para pemberontak. Tapi pikiran subversif yang sudah tersebar bebas menginspirasi tumbuhnya perlawanan tak putus-putus.

“Hidup di bawah kekuasaan yang kehilangan daya pesona dan persuasi ide-ide, seperti halnya kekuasaan yang sekarang ini, sebuah buku dengan beberapa jumput isi pikiran selalu dipertaruhkan untuk menjadi sejenis pekik ”merdeka”, sebuah statemen bahwa kami masih hidup, kami masih menyaksikan, kami masih dibaca.

Catatan Pinggir pertamanya di Independen berjudul Simulacra, langsung menohok Orde Baru. Ia membukanya dengan adegan seorang nasionalis tua yang terkena encok yang bangga terhadap Soeharto. Lalu menutupnya dengan kesadaran: dunia telah diciptakan menjadi, dari sebuah televisi. Kekuasaan Orde Baru diciptakan dengan ilusi media (televisi) dan hanya bisa dihentikan dengan pers yang merdeka, sesuatu yang diperjuangkan Goenawan.

Saya tidak tahu bagaimana Goenawan menemukan ide-idenya. Ia pernah menyatakan bahwa pekerjaan menulis adalah ‘sebuah pekerjaan yang resah’. “Proses pemikiran hanyalah satu tahap. Proses lainnya menyangkut sekian jam duduk di depan mesin tik atau monitor komputer, membesut, mengoreksi, menatah, menguji kata dan kalimat. Tiap kali saya menulis, rasanya tiap kali saya belajar lagi,” katanya.

Dari Amarzan Loebis, mantan wartawan Tempo, kita tahu bahwa gagasan untuk Catatan Pinggir bisa muncul pada saat kepepet tenggat dan tidak pernah ditapalbatas dengan peristiwa terkini.

Perjalanan ke Maluku, mengunjungi Pulau Buru, justru menghasilkan esai berjudul Bergman yang bercerita soal sutradara Ingmar Bergman. Di lain waktu (bukan ‘pada lain waktu’ sebagaimana kaidah bahasa Indonesia, Goenawan lebih suka menggunakan ‘di’ untuk menunjukkan keterangan waktu sebagaimana keterangan tempat), Catatan Pinggir bercerita soal novel Gudberger Bergsson, The Swan, saat Goenawan berada dalam perjalanan dari Jakarta ke Bantul, Jogjakarta, yang diselingi diskusi pembicaraan tentang buku, makanan, politik, dan kegemaran.

“Caping tak bisa ditebak. Kecuali dalam beberapa kasus, ‘Caping’ seperti tak punya urusan dengan newspeg, dengan aktualitas. Lebih dari itu, ‘Caping’ tak bisa di-‘intervensi’,” kata Amarzan.

Mungkinkah Goenawan dan Remy Sylado punya teknik yang sama dalam menemukan gagasan? Di hadapan para peserta kursus jurnalisme sastrawi Pantau pada 2007, Remy pernah mengatakan punya semacam fail-fail gagasan dalam ingatannya dan tinggal memanggilnya saat dibutuhkan. Mungkin Goenawan demikian pula. Namun memanggil kembali gagasan dalam ingatan tentu tak semudah Harry Potter melafalkan mantra memanggil barang-barang.

Tumpukan fail gagasan dalam kepala hanya bisa dibentuk oleh kebiasaan membaca. Bukan lagi habitus, tapi kultur. Dan Goenawan selalu jujur terhadap sumber bacaan yang menjadi referensi Catatan Pinggir. Dalam pengantar untuk buku Catatang Pinggir 1, Th. Sumartana menyebut keluasan literatur memberikan kemampuan referensial terhadap proses pendalaman perenungan Goenawan.

Goenawan menginspirasi saya untuk membangun perpustakaan. Sejak kuliah hingga sudah berkeluarga, saya menyisihkan sebagian uang di kantong untuk membeli buku-buku berbahasa Indonesia dan Inggris. Saya tidak membatasi diri dan memilih beragam tema, kendati lebih meminati sepak bola, jurnalisme, dan sosial politik. Tidak semua tema menarik perhatian saya. Namun saya berusaha mengunyahnya, setidaknya untuk mengetahui hal-hal baru. Buku adalah sebentuk petualangan.

Ada kritik keras dari generasi saat ini yang menyebut kutipan-kutipan buku dalam Catatan Pinggir tak lebih dari kegenitan belaka. Saya pernah membaca di internet, salah satu kritik menilai Goenawan keliru meletakkan konteks kutipan dalam salah satu esainya. Dan ada semacam semangat ‘decentering Goenawan’ yang mencoba mendesakralisasi posisi Goenawan sebagai salah satu begawan kebudayaan dan Catatan Pinggir sebagai salah satu kanon intelektual di Indonesia.

Tentu saja itu absah adanya. Intelektualisme memberikan ruang bagi perdebatan dan argumentasi, sesuatu yang tentu dipahami Goenawan. Saya sendiri melihat ada pergeseran model dan struktur Catatan Pinggiran dari naratif seperti sahabat lama yang bercerita di kedai kopi dengan penuh semangat, menjadi seorang tua yang tengah merenung dan menggumamkan hal-hal yang kadang tak dimengerti pembacanya. Sesekali terdengar seperti mengeluh.

Kita bisa merasakan semangat naratif itu pada Catatan Pinggir sebelum masa breidel (yang dirangkum dalam buku Catatan Pinggir 1-4). Goenawan bukan Jimmy Breslin, wartawan legendaris itu. Namun saya melihat, sebagaimana Breslin, ia memperlakukan Catatan Pinggir seperti hasil reportase jurnalistik: mempertautkannya dengan realitas sosial dan kemudian merefleksikannya, seringkali dengan referensi kepustakaan yang kuat.

Dalam Death of Sukardal, Goenawan bercerita tentang seorang tukang becak di Bandung yang gantung diri setelah becaknya disita oleh petugas ketertiban umum pada 2 Juli 1986.

Tukang becak tua ini kehilangan becaknya, pada tanggal 2 Juli 1986 malam, di sebuah perempatan Kota Bandung. Para petugas Tibum, sesuai dengan peraturan dan perintah atasan, menyita becak itu.”

Satu setengah meter dari pohon tempat Sukardal mati, ada tembok. Di sana tertulis (kemudian dihapus oleh petugas kepolisian): “Saya gantung diri karena becak saya dibawa anjing Tibum”.

Goenawan bercerita dengan liris tentang Sukardal yang menulis sepucuk surat wasiat sebelum mati untuk anak sulungnya.

“Yani, adikmu kirimkan ke Jawa, Bapak sudah tidak sanggup hidup. Mayatku supaya dikuburkan di sisi emakmu.” Dan Yani, 22 tahun, yang bersama tiga adiknya yang kecil-kecil tinggal di sebuah bilik 4 x 4 m (yang disewa), tak sanggup. Wasiat itu terlalu berat. Mengirimkan jenazah ke Majalengka dari Bandung, bagi mereka, bukan perkara kecil.

Ada kalanya, Goenawan bercerita tentang tokoh-tokoh fiktif dalam novel dan mereka yang dari masa lampau. Tentang Chairil Anwar. Tentang Amir Hamzah. Tentang Hatta. Atau tentang seorang kaya yang hidup pada abad 16 bernama Jakob Fugger.

Saya menduga struktur narasi reflektif Catatan Pinggir pada masa-masa sebelum Tempo dibreidel tak lepas dari semangat New Journalism atau jurnalisme naratif, istilah yang diperkenalkan Tom Wolfe pada 1970-an. Tempo mengadaptasinya menjadi struktur feature berita. Dan itu sebenarnya kekuatan Catatan Pinggir: mengajak orang untuk membaca sebuah peristiwa dari sisi lain yang lebih reflektif.

Model naratif itu sebenarnya tak hilang sama sekali dalam Catatan Pinggir yang diterbitkan Majalah Tempo hari-hari ini. Namun Goenawan kini lebih banyak bicara soal pemikiran, walau tak sedang berkhotbah. Bagaimana dalam ‘Sumbang’, dia membuka esainya dengan kalimat: Iblis, menurut Rumi, memberikan sebuah petuah—dan agaknya penting bagi percakapan manusia. ”Orang yangberpikiran buruk tak akan dengarkan kebenaran meskipun dihadapkan pada seratus tanda-tanda.”

Beberapa buku kecil yang diterbitkan Goenawan baru-baru ini juga menunjukkan kecenderungan itu, seperti Si Majenun dan Sayid Hamid yang bicara soal persentuhan Islam dan Eropa dalam buku Don Quixote karya Cervantes, dan Estetika Hitam: Adorno, Seni, Emansipasi yang mengulas salah satu pemikiran tokoh Mazhab Frankfut Theodor Adorno. Buku yang membuat dahi pembaca awam bisa berkerut.

Tapi, tidak apa-apa. Mungkin itu amal jariyah Goenawan Mohamad. Dan dari pencerahan terhadap mereka yang membaca Catatan Pinggir dan esai-esai yang bergumam itu, pahala untuk seorang penulis mengalir. [wir/ted]


Apa Reaksi Anda?

Komentar