Iklan Banner Sukun
Sorotan

Airlangga Raja Nomaden

Ribut Wijoto

Raja Airlangga ini tampaknya bukan termasuk raja yang tenang. Dia seperti raja yang terpaksa galau. Kerajaannya pindah-pindah. Nomaden. Jadi raja sekitar 20 tahun, separuh lebihnya dipakai untuk perang. Kadang kalah, kadang menang. Jika pas kalah, terusir dari kerajaan. Pindah tempat. Menyusun kekuatan. Balas menyerang lagi.

Bisa dibilang, kerajaan Airlangga bermula dari perang dan berakhir dengan perang.

Usia 16 tahun, Airlangga berlayar dari Bali ke Jawa untuk menikah. Tidak tanggung-tanggung, gadis yang mau dinikahi adalah anak dari Raja Dharmawangsa Teguh. Raja Medang yang sekaligus pamannya. Tetapi yang terjadi sungguh di luar dugaan. Pernikahan dua keturunan Pu Sindok itu berubah jadi ajang pembantaian karena serangan tiba-tiba dari Raja Wurawari. Perang tak berimbang. Satu pihak siap perang, pihak lain siap pesta nikah. Maha pralaya. Pembantaian.


Prasasti Pucangan mencatat: Pralaya rin yawadwipa I rikan sakakala 939 ri pralaya haji Wurawari maso mijil sanke Lwaram, ekarnawa rupanikan sayawadwipa rilan kala. Kiamat pulau Jawa yang terjadi tahun 939 Saka karena serangan raja Wurawari yang datang menyerbu dari Lwaram. Seluruh pulau Jawa pada waktu itu tampak bagai lautan.

Raja Dharmawangsa Teguh meninggal. Dan entah siapa lagi yang meninggal. Mungkin istri Dharmawangsa, istri Airlangga, mungkin bapak Airlangga juga, yaitu Raja Udayana. Tidak ada kepastian. Maha pralaya. Perang. Bumi Jawa digambarkan berubah jadi lautan api dan darah. Beruntung Airlangga selamat. Menyingkir dari perang.

Kisaran 3 tahun menyingkir; Airlangga dinobatkan jadi raja. Yang menobatkan para tokoh agama Budha, Siwa, dan rsi. Airlangga dinobatkan untuk meneruskan tahta Dharmawangsa Teguh. Penobatan yang sekaligus pemberian amanah, Airlangga diminta melanjutkan panji-panji kejayaan Medang. Maka, perang pun dimulai lagi.

Prasasti Pucangan mencatat, Airlangga menyerang Raja Wisnuprabhawa dari Wuratan. Menaklukkan Haji Wengker. Selanjutnya menyerang sekaligus mengalahkan raja yang menghancurkan pesta pernikahannya, yaitu Haji Wurawari.

Selain prasati Pucangan, perang yang dilakukan Airlangga tercatat pula dalam prasasti Baru, Kakurugan, Terep, Kusambyan, dan prasasti Mungut. Prasasti-prasasti berisi pemberian anugerah sima (pengurangan pajak atau hak istimewa lain) kepada suatu daerah atas jasanya membantu Airlangga dalam perang. Salah satunya saat perang melawan Raja Hasin (prasasti Baru).

Oleh sebab gemar perang, yang kadang kalah kadang menang, lokasi kerajaan Airlangga pun berpindah-pindah. Nomaden.

Semula Airlangga membangun kerajaan di Wwatan Mas. Informasi itu tercatat dalam prasasti Cane. Çrĩ Mahãrãja ri maniratna singgasana makadatwan ri wwatan mas. Sri Maharaja di singgasana permata berkedaton di Wwatan Mas. Tetapi tidak lama.

Airlangga kalah perang. Kali ini musuhnya bukan pria. Tetapi seorang raja wanita. Kekalahan itu mengakibatkan Airlangga terpaksa terusir dari Wwatan Mas. Melarikan diri ke Patakan. Prasasti Terep menulis: Paraniran palaradan ri kala sri maharaja katalaya sanke wwatan mas mara i patakan. Tempat beliau berlindung pada saat Sri Maharaja terdesak dari Wwatan Mas menuju Patakan.

Airlangga pernah pula di Madander. Prasasti Kusambyan menulis: Nuni ri kala nikanaŋ śatru si cbek an tamolaḥ madwal makadatwan i madanḍĕr. Pada saat musuh si Cbek terus menerus merusak keraton di Madander.

Apa yang tercatat di prasasti Kamalagyan beda lagi. Pada prasasti yang bertempat di Sidoarjo itu, Airlangga diinformasikan berkantor di Kahuripan. Cri Maharaja makadatwan i kahuripan. Sri Maharaja berkeraton di Kahuripan. Prasasti ini dikeluarkan Airlangga setelah dia mengalahkan Raja Wijayawarman.

Kahuripan ternyata tidak membuat Airlangga betah pula. Airlangga lantas memindahkan kerajaan ke Dhaha. Informasinya tercatat di prasasti Pamwatan.

Airlangga adalah raja besar. Bisa jadi keratonnya juga besar. Tetapi tidak bisa dibayangkan keratonnya seperti bangunan bertembok seperti gedung Grahadi di Surabaya. Mungkin megahnya keraton Airlangga itu bangunan berbahan kayu jati berukir-ukiran. Oleh sebab kerap perang dan kadang kalah, mungkin saja, bangunannya  terbakar. Hangus jadi abu.

Jangankan kerajaan, peninggalan Airlangga berbentuk prasasti batu pun banyak yang pecah. Memang tampaknya sengaja ada yang merusak. Misalnya prasasti Silet, prasasti Pandan, prasasti Katemas. Mungkin yang merusak tidak ingin melihat tanda-tanda kebesaran Airlangga.

Di usia 42 tahun, sebenarnya belum terlalu tua, Airlangga turun tahta. Kerajaan dibagi dua. Satu untuk Mapanji Garasakan. Satu lagi untuk Sri Samarawijaya. Rupanya dua penerus Airlangga ini mewarisi sifat gemar perang pula. Bedanya, Airlangga berperang melawan musuh-musuh di luar keluarga, Mapanji Garasakan dan Sri Samarawijaya berperang sesama saudara.

Meski raja gemar perang yang kadang kalah sehingga nomaden, Airlangga sangat memerhatikan kesejahteraan ekonomi rakyatnya. Perhatian itu termanifestasi dalam upaya memerbaiki irigasi untuk menunjang sektor pertanian. Airlangga juga mengatur tentang perdagangan.

Rakai Halu Sri Lokeswara Dharmmawangsa Airlaṅga Anantawikrama Uttunggadewa memiliki perhatian serius pula terhadap bidang sastra. Dia meminta pujangga kerajaan, Mpu Kanwa, untuk mengadaptasi kisah Mahabharata menjadi kakawin Arjunawiwaha. Bahkan, Airlangga seorang pemeluk agama yang tekun sekaligus toleran.

Atas kebijaksanaan itu, wajar saja, nama Airlangga diabadikan menjadi nama perguruan tinggi, yaitu Universitas Airlangga (Unair). Lencana resmi kerajaan Airlangga, Garudamukha, dijadikan lambang Unair. [but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar