Sorotan

15 Tahun Menyapa Indonesia Bukanlah Hal Mudah

Foto bersama pimpinan dan karyawan beritajatim.com

Lima belas tahun menyapa Indonesia bukanlah hal mudah bagi Beritajatim.com. Ini bukan sekadar kegenitan dalam berkata-kata. Atau keinginan untuk sedikit gagah. Bukan. Pada kenyataannya memang menyapa Indonesia tidaklah sesederhana yang dibayangkan sejak mula kantor berita dalam jaringan ini lahir. Bahkan dalam usia yang sudah menginjak remaja jika disetarakan usia manusia pada 1 April 2021.

Menyapa Indonesia pada dasarnya kami harus siap dengan sejumlah kejutan dan kemungkinan-kemungkinan, karena Indonesia tak pernah hadir tunggal. Indonesia adalah semesta manusia dengan latar belakang sosial budaya, preferensi ideologi politik, pengalaman hidup, dan kebutuhan yang beragam. Dalam teori ekonomi, masyarakat Indonesia adalah pasar. Namun menganggap jutaan orang yang memiliki kehendak dan cita-cita masing hanya dalam satu dimensi bukanlah hal bijak.

Pasar selalu digerakkan oleh keinginan dan kepentingan. Dan bisnis jurnalisme bukan bisnis biasa. Kami bergerak di antara tikungan kemungkinan tentang kebenaran atau kekeliruan, karena bisnis media massa dibentuk oleh rasa percaya. Jadi kami harus senantiasa memahami keinginan dan kepentingan pasar, tanpa harus melupakan tugas kami menyajikan informasi seakurat mungkin. Kami senang orang mempercayai kami, hasil pekerjaan kami, dan niat baik kami untuk selalu berpegang teguh pada kaidah-kaidah dan etika jurnalistik dalam mengabarkan fakta dan merekonstruksi peristiwa agar dipahami publik. Dan itu tak mudah. Karena tak cukup niat baik untuk menyapa Indonesia.

Lima belas tahun menyapa Indonesia berarti menjaga Indonesia. Merawatnya dari gempuran disinformasi, misinformasi, dan kebohongan-kebohongan yang diolah menjadi kebenaran semu. Ada keakraban dalam setiap tegur sapa. Dan itulah yang kami coba lakukan selama lima belas tahun ini: bertegur sapa dengan pembaca dan tidak memandang mereka hanya sebagai pasar dalam nalar instrumental, tapi sebagai sahabat lama yang tak pernah bersua. Atau kawan yang bertemu jalan-jalan di pagi hari. Juga teman yang makan malam bersama.

Beritajatim.com tak pernah lahir dari ruang hampa. Dia adalah bagian dari kepingan-kepingan puzzle pengalaman para awaknya, mulai dari pemilik modal, direktur, pemimpin redaksi, redaktur, reporter, kerani kantor, hingga tukang bersih-bersih kantor. Pengalaman sebagai manusia bebas yang menyadari bahwa kemerdekaan harus dirawat dengan menyajikan informasi yang benar dan mengedukasi hak-hak publik.

Kami sepakat dengan Robert Caro, seorang jurnalis dan sejarawan Amerika.

“There is no truth, we all know that. No one truth. No objective truth. No single truth. No simple truth or no one simple truth either. But there are facts. Hard facts. Objective facts. Verifiable facts. And the more facts you come up with, the closer you come to whatever truth there is.”

Robert Caro menampik sinisme terhadap proses pencarian kebenaran oleh para jurnalis. Adakah kebenaran dalam jurnalisme? Apa yang dianggap benar? Pertanyaan itu selalu diulang-ulang oleh mereka yang mempertanyakan netralitas media massa dan jurnalis dengan sinis.

Kami harus mengaku. Konsep netralitas tidak ada dalam jurnalisme. Itu konsep abstrak yang tak bisa ditakar. Sama seperti konsep tentang ketampanan dan kecantikan untuk menentukan mana yang buruk rupa dan mana yang tidak. Tak ada parameter, karena pada dasarnya ‘netralitas’ selalu dinilai subjektif dan tak akan pernah bisa objektif, tergantung pada kesukaan, ketidaksukaan, dan kepentingan orang per orang dalam melihat sebuah peristiwa yang diberitakan.

Jurnalisme lebih mengenal konsep imparsialitas. Alih-alih terjebak dalam kubangan perdebatan klaim netralitas, para wartawan dan media massa bekerja sekuat mungkin untuk tidak sepotong-sepotong dalam menyajikan berita. Ada ikhtiar untuk komprehensif dalam memburu dan menghadirkan fakta.

Dan di sinilah kemudian, para jurnalis Beritajatim.com sebagaimana jurnalis lainnya diikat oleh prosedur dan kaidah jurnalistik (dalam reportase dan penulisan) untuk bisa bersikap imparsial. Itulah yang kami berusaha lakukan selama 15 tahun: menyapa Indonesia dengan bekerja keras menggali fakta. Lapis demi lapis. Karena sebagaimana kata Caro, semakin banyak fakta dalam genggaman, semakin dekatlah kita dengan apa yang disebut kebenaran. Hanya dengan fakta, kebenaran bisa dikonstruksi.

Dan sekali lagi, itu tak mudah. Sesekali kami silap. Sesekali khilaf. Sesekali ada kesalahpahaman. Juga mungkin ketidakmengertian. Itulah kenapa kami merasa tak cukup 15 tahun untuk menyapa Indonesia. Kami ingin hidup lebih lama sebagai bagian dari Indonesia, seperti kata Chairil Anwar. Dan sekali lagi hari ini kami memperbaiki niat, menyegarkan semangat, untuk memulai perjalanan kembali. Hingga seribu tahun lagi. [wir]



Apa Reaksi Anda?

Komentar