Siapa Dia

Zoya: Negara Terbiasa Bikin UU Berdasarkan Ketakutan, Bukan Cinta

Zoya Amirin koleksi pribadi FB

Jember (beritajatim.com) – Zoya Amirin, seorang psikolog seks menilai Rancangan Undang-Undang Ketahanan Keluarga berawal dari ketakutan negara yang berujung pada intervensi ruang privat warga.

“Negara ini sudah terbiasa membuat undang-undang berdasar ketakutan, bukan berdasarkan cinta. Kalau mau membuat undang-undang berdasarkan cinta maka undang-undang itu punya tujuan akhir untuk melindungi hak dan kepentingan warga negara bukan untuk menyusahkan. Undang-undang harusnya dibuat untuk melindungi dan membuat nyaman warga negara,” kata Zoya kepada┬áberitajatim.com, Rabu (26/2/2020).

“Negara sering membuat RUU ke ranah privat seperti orang tua yang ketakutan anaknya akan macam-macam. Begini, kalau kita pernah nakal, biasanya kita akan overprotektif kepada anak kita. Atau kita yang terlalu kaku, tidak punya wawasan luas, ketidakmengertian kita terhadap dunia, kita limpahkan ke anak. Demikian juga dengan negara,” tambah perempuan kelahiran Jakarta, 7 September 1975 ini.

Zoya juga mengkritik anggota DPR RI yang mengusulkan RUU Ketahanan Keluarga tanpa memahami isinya. “Anda harus memahami sesuatu yang Anda usulkan,” katanya.

Salah satu alasan pembuatan RUU Ketahanan Keluarga ini terkait anak-anak yang terpapar pornografi dan narkoba. “Apakah pornografi bisa serta-merta dihalangi dengan cara melarang (perilaku seks) BDSM? Tidak ada hubungannya antara narkoba, pornografi, dan BDSM. Oh my God,” keluh Zoya.

“Ranah privat tidak boleh diganggu gugat. Semua orang harus dipercaya sebagai orang dewasa yang mampu membina keluarganya,” kata penggemar klub sepak bola Liverpool ini.

Zoya mengusulkan agar negara lebih baik membuat Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual. Kekerasan seksual memunculkan trauma terhadap korban, sehingga membutuhkan kehadiran negara. “Sekarang banyak begal payudara, begal bokong, pelemparan sperma. Itu seharusnya jadi prioritas untuk melindungi rakyatnya, kalau dibuat berdasarkan cinta,” kata Zoya.

Zoya menyarankan agar warga membuat petisi jika tidak setuju dengan RUU tersebut. Namun dia juga menyarankan agar masyarakat banyak membaca dan menyerap informasi sebelum menyatakan ketidaksetujuan.

“Saatnya kita tidak ikut-ikutan orang yang terlihat ngetop atau pintar, atau pasrah saja terhadap pemerintah, karena ini hak hidup kita. Ketika mereka masuk ke ranah privat, saya sebagai warga negara kan merasa seperti mau diintervensi dengan cara tidak sewajarnya. Seolah-olah masyarakat bodoh, mengatasnamakan kebaikan dan kesejahteraan, tapi sebenarnya mengekang kehidupan kita,” katanya. [wir/ted]





Apa Reaksi Anda?

Komentar