Siapa Dia

Yermianti Tyas Pradani, Mahasiswa Asal Mojokerto Relawan Pemakaman Covid-19

Yermianti Tyas Pradani yang terlibat aktif dalam pemakaman korban Covid-19.

Mojokerto (beritajatim.com) – Pandemi Covid-19 membuat Yermianti Tyas Pradani terpanggil menjadi relawan pemakaman Covid-19. Bahkan, mahasisiwi Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata (IIK Bhakti Wiyata) Kediri warga Desa Jogo Dayoh, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto ini juga tak jarang tidur di kuburan.

“Kalau sekarang sudah tidak takut lagi,” celetuk perempuan kelahiran 10 Maret 1999 mengawali perbincangan, Sabtu (7/11/2020).

Tyas (sapaan akrab, red) mengaku, sudah tak cangung lagi dalam menangani pemakaman korban Covid-19. Warga Jogodayoh, Desa Jabon, Kacamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto ini, yang merupakan anak pertama dari pasangan Didik Soedarsono dan Mia Pamungkas ini tercatat sudah puluhan kali terlibat dalam pemakaman pasien Covid-19 di Kabupaten Mojokerto.

Tyas mengaku, awalnya tak terpikir ikut terlibat dalam salah satu tim percepatan penangan Covid-19. Apalagi tim pemulasaran hingga pemakaman. Selain identik dilakukan kaum Adam, Tyas juga berpikir keberadaannya tidak akan bisa membantu banyak. Kedua orang tuanya juga merupakan pegawai UPT PMI Kabupaten Mojokerto.

Namun, berangkat dari panggilan hati dan menjadi relawan Palang Merah Indonesia (PMI) membulatkan tekadnya terjun dan terlibat dalam misi kemanusian tersebut. Ia bertugas ikut menyiapkan barang-barang sebagai kebutuhan pemakaman hingga membawakan alat sprayer, disinfektan, dan mengambil bambu di bawah peti.

“Ternyata banyak yang harus dibantu. Awal ikut, saya hanya bertugas memakaikan APD ke tim pemakaman tapi kemudian terlibat langsung. Idealnya kan delapan orang, tapi waktu itu hanya ada enam personel. Waktu pemakamannya juga tengah malam. Jadi tidak ada orang lagi. Akhirnya saya bawa spraying. Itu awalnya,” paparnya.

Sejak bulan Mei lalu, hari-harinya berkutat dengan peti jenazah. Tanah kuburan dan baju hazmat. Ia hampir tak pernah absen membantu keluarga pasien Covid-19 maupun Pasien Dalam Pengawasan (PDP). Terutama dalam melakukan penghormatan terakhir kepada jasad pasien. Jenazah pasien Covid-19 memang tidak bisa diperlakukan layaknya jenazah non-Covid.

“Perlu perlakukan khusus untuk menghindari penularan virus yang ada di jasad. Kami ikhlas karena prinsipnya relawan kan panggilan jiwa. Perkuliahan masih dilakukan secara daring, sehingga bagaimana caranya bisa bermanfaat terhadap sesama,” tegasnya.

Dalam menjalankan tugasnya, ia tak pernah menuntut upah. Meski belakangan pemerintah diketahui juga menganggarkan sebagai uang lelah bagi tim relawan pemakaman. Semangat dan kondisi sehat cukup membuatnya bersyukur. Seiring pertambahan jumlah pasien Covid-19, semakin banyak permintaan bantuan pemakaman jenazah.

“Bahkan, tingginya angka kematian membuatnya sering menginap di kuburan bersama tim. Tidak sekali dua kali, sering banget tidur di pemakaman. Yang paling capek, pernah dua hari tidak pulang harus tidur di makam,” jelas mahasiswa semester tujuh Jurusan Teknik Laboratorium Medis ini.

Ia juga pernah harus bertahan lebih lama di dalam baju hazmat dengan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap. Tyas menceritakan, saat itu pemakaman 10 kali yang memiliki jeda sedikit dari pemakaman satu ke pemakaman berikutnya. Berangkat Kamis malam, pulangnya Sabtu sore sehingga dalam dua malam, ia harus tidur di ambulance.

“Belum lagi masyarakat belum bisa menerima, perlawanan dan makian masyarakat juga kerap dialami. Pas terakhir mendapati situasi di pemakaman agak tidak kondusif, jadi saat itu warga maki-maki tim saya, langsung saya nangis, karena sudah capek di maki-maki warga. Harus sabar memang,” pungkasnya. [tin/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar