Siapa Dia

Suwarni Ungkap Perawatan Jenazah Covid-19 di Keputih Surabaya

Surabaya (beritajatim.com) – Perjalanannya menjadi seorang perawat jenazah memang tidak mudah bagi Suwarni, wanita berusia 68 tahun asal Surabaya. Sejak muda ia sudah mengabdikan diri sebagai perawat jenazah mulai dadi membersihkan jenazah atau memandikan hingga mengkafani jenazah wanita.

Jiwa sosialnya sudah terbentuk sejak muda. Di usianya yang senja Suwarni pun masih terus aktif menjadi perawat jenazah dari kampung ke kampung di kawasan Surabaya Timur, hingga akhirnya jiwanya terpanggil untuk menjadi seorang relawan perawat jenazah covid-19.

Ketika ditawari awal menjadi seorang relawan tanpa berpikir panjang, di dalam benaknya hanya memikirkan empaty dan ibadah untuk bisa menolong jenazah yang terdampak covid 19 di blok krematoriun Keputih, Surabaya.

Setiap ada kiriman jenazah yang datang, ia bergegas menyiapkan kebutuhan dan memandikan jenazah hingga bersih di dalam ruangan yang dibuat secara portabel selama 35 menit. Jenazah covid 19 tetap di mandikan bersih dishampo dan disabun.

“Kita tidak meminta covid itu ada, dan kita sebenarnya tidak mau ada hal seperti ini tapi ya kita harus jalani. Saya tidak berpikiran negatif atau takut tertular, yang ada dalam pikiran saya adalah rasa empaty kasihan mereka ini kalau tidak disucikan. Saya sudah tua menjalani seperti ini juga bagian dari ibadah,” ceritanya usai merawat jenazah covid 19, Sabtu (31/7/2021).

Tubuhnya yang rentan, bekerja dua shift pagi dan sore di blok pemakamam krematorium Keputih. Setiap hari ia harus menggunakan double APD, sarung tangan, dan masker untuk masuk ke ruangan jenazah perempuan bersama rekannya.

Satu jenazah covid 19 baru datang, kebetulan yang dirawat beragam Nasrani. Suwarni pun ijin untuk mensucikan jenazah yang kabarnga meninggal di rumah karena isolasi mandiri.

Ia bergegas menggunakan dua APD dalan tubuhnya, double masker dan faceshiled serta sarung tangan. Katanya tidak ada bedanya merawat jenazah biasa dengan yang terpapar covid 19. Yang beda adalah setelah disucikan harus dikafani lalu ditumpuk dengan plastik.

“Kalau untuk yang beragama Islam sama saja yang beda hanya ditambah dengan plastik, itu juga sama dengan yang Nasrani yang barusan saya rawat. Jika dibilang panas ya panas tapi kita tetap harus menjalani dan setiap hari saya harus bawa tiga baju ganti karena setiap selesai merawat saya harus cuci tangan dan kaki dan mandi ganti pakaian,” cerita Suwarni.

Ketulusan dan keikhlasan wanita paruh baya ini menjadi salah satu hal yang bisa menginspirasi bagi semua orang. Pesan yang disampaikan pun cukup dalam.

“Covid ini bukan untuk ditakuti karena apa bukan hanya Indonesia yang mendapat musibah ini tapi seluruh dunia dan ini atas kehendak Tuhan. Seharusnya dengan diberi seperti ini kita harus instropeksi diri dan lebih banyak berempati dan ibadah saling bantu dengan sesama. Karena kadang kasihan mereka yang kami rawat hingga akhir hidupnya keluarganya tidak mendampingi di sini maka kita ini yang wajib menolong,” tutupnya. [way/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar