Siapa Dia

Suka Duka Porter Stasiun Gubeng Surabaya: Pernah Temukan Tas Isi Uang dan Emas

Slamet, Porter Stasiun Gubeng

Surabaya (beritajatim.com) – Selamet Hariyanto membawa barang berat dari depan stasiun hingga dalam kereta api, di Stasiun Gubeng, Surabaya, Selasa (20/4/2021) siang.

Puasa tak menghambatnya mengais rejeki selama 24 jam di stasiun terbesar nomor dua di Kota Pahlawan ini. Padahal kakek dua cucu dan empat anak ini bersama 59 Porter di stasiun tak dapat gaji dari PT Kereta Api Indonesia. Lantas bagaimana ia mendapatkan uang dan bertahan hidup?

beritajatim.com mencoba untuk menggali kisah suka dan duka para Porter di Stasiun Gubeng ini. Pak Selamet pun kita undang untuk duduk sejenak berbincang karena ia sudah 31 tahun hidup bekerja di Stasiun Gubeng ini. Bahkan pengalaman dia jadi porter juga sudah 21 tahun sejak tahun 2000.

Tak berharap banyak atau bahkan lebih dari yang Ia berikan. Baginya berapapun uang yang diperoleh harus dksyukuri karena ia percaya Allah tak akan membuat anak istrinya kelaparan. Bahkan, dari hanya membawa uang Rp 50 ribu kurang ia sykuri karena itu rejeki dari Nya.

“Penumpang yang sering pakai porter tahu berapa harga jasa kita. Dari hanya seribu rupiah sampai sekarang Rp 15 ribu kami syukuri. Kebanyakan sekarang penumpang memberi minimal Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu,” katanya kepada¬†beritajatim.com.

Sembari membetulkan masker Selamet juga tak pernah berharap jasanya dipakai lebih dari sekali. Sebab, kebanyakan satu kereta hanya sekali jasanya terpakai. Itu juga kalau ia dapat pelanggan jasa porter. Tak jarang juga penumpang tak memakai jasanya.

Slamet Porter Stasiun Gubeng

Namun kondisi itu baginya adalah anugerah karena jika dirinya sepi, maka rekannya ramai dan itu rejeki mereka.

Butuh kesabaran, tenaga ekstra, hati-hati dan kejujuran yang tinggi. Bagaimana tidak, sebagai pekerja jasa Porter ia terkadang harus mengangkat lebih dari tiga tas, kardus atau bahkan karung.

Namun baginya semakin banyak jasa yang terpakai maka rejeki mengalir dengan nikmat. Bahkan meski berat ia mengaku insyaallah 100 persen puasa penuh. Karena jika sakit atau badan kurang fit maka ia tidak bisa bekerja.

“Iya tentu kita harus sehat dan kuat. Karena barang penumpang tak kita ketahui berat, ringan atau besar kecilnya. Yang pasti bersyukur dan terus berusaha memberikan pelayanan terbaik, insyaallah rejeki mengalir,” lanjutnya.

Menanti bonus lebih, menjadikan para porter bisa bertahan untuk menabung penghasilan mereka. Meski gak selalu dapat bonus atau fee dari pengguna jasa. Para Porter ini mengaku jika bonus itu seperti anugerah yang tak bisa dibendungnya tuk mengucapkan syukur. Namun karena harus mengejar waku supaya tak kebawa atau ketinggalan kereta, mereka tak akan tampak girang di depan penyewa jasanya.

“Seneng kalau dapat bonus atau fee. Plong banget gak tahu mau ngomong apa. Yang pasti bersyukur sembari keluar kereta dan meletakkan tangan di dada sembari berjalan itu yang saya lakukan. Karena kelamaan di kereta bisa kebawa atau ketinggalan kereta nanti,” ucapnya sembari mengaku lega jika mengelus dada.

Bonus ia kumpulkan untuk sisa kebutuhan hari berikutnya. Bagaimana tidak, karena tak ada gaji pokok dan hanya mengandalkan penumpang. Mereka harus bekerja hampir 24 jam penuh. Hari berikutnya mereka libur dan diisi oleh Porter lainnya.

“Ada yang kasih lebih Rp 5000 ada yang Rp 50 ribu. Tapi gak setiap hari dapat bonus atau fee itu. Yang penting bersyukur saja dan pandainya kita mengatur menejemen keuangan keluarga,” tegas Selamet yang ubannya mulai tampak di kepala.

Jatuh dari kereta, berdesak-desakan dan menjadi korban kambing hitam. Menurut Selamet porter harus siap menghadapi itu semua.

Jika pada tahun 2000 hingga 2012 kenangan terburuk harus jatuh bangun saat naik turun KA karena menejemen penumpang dan jadwal KA belum teratur. Namun sejak 2013 tertatanya KA ekonomi dan larangan penjual asongan, membuat para porter bekerja lebih baik lagi.

Sehingga porter jatuh saat naik turun kereta dan berdesak-desakan dengan penjual asongan sudah tak ada lagi. Namun, pengalaman suka duka usai itu juga terasa karena tak sedikit penumpang yang mepet jadwal berangkat.

Sehingga harus cepat bawa barang supaya gak ketinggalan kereta.

“Banyak suka dukanya. Jatuh saat naik atau turun KA itu dulu. Sekarang gak ada lagi,” lanjutnya.

Tak hanya itu, menjadikan dirinya pahlawan buat para penumpang juga ia rasakan. Karena tak sedikit penumpang yang ketinggalan tas, kardus atau barang bawaan mereka. Jika melihat barang itu, Porter wajib menyerahkan barang ke petugas KA yang mengumumkan barang tertinggal atau keberangkatan dan kedatangan KA.

“Pernah nemu tas milik seorang dokter. Saya gak buka sedikit pun dan langsung saya serahkan ke petugas PT KAI untuk diumumkan. Ternyata saat dibuka pemilik tas sendiri, isinya uang yang masih ada gelang bank dan jumlahnya buanyak sekali. Saya paling senang dan lega kalau mengingat kejadian itu, karena pemilik sendiri juga senang dan bersyukur uangnya kembali utuh,” ujar Selamet sembari membenarkan masker 3 ply.

Kini ia hanya berharap para Porter mendapatkan jaminan ketenagakerjaan. Namun pihaknya menyerahkan ke PT KAI untuk membentuk struktur dan menejemennya. Sebab, dengan adanya Jamjnan Ketenagakerjaan, minimal Porter bisa memiliki tabungan hari tua. “Kalau BPJS saya pribadi bersama keluarga sudah mendaftar sendiri. Tapi BPJS Ketenagaakerjaan jika perlu saya berharap kedepan bisa ada stretegi menejemen ini,” pungkasnya.(man/ted)


Apa Reaksi Anda?

Komentar