Siapa Dia

Studi Internalisasi Nilai Pendidikan Islam Antarkan 2 Sosok Ini Sandang Status Doktor

Pamekasan (beritajatim.com) – Hasil penelitian Studi Internalisasi Nilai Pendidikan Islam mengantarkan Ach Sayyi dan Mufiqur Rahman secara resmi menyandang status sebagai doktor Pandididikan Agama Islam di Universitas Islam Malang (Unisma).

Dosen Fakultas Tarbiyah di Institut Agama Islam (IAI) Al-Khairat Pamekasan, berhasil menyelesaikan studi program doktoral melalui prorgam beasiswa 5 ribu doktor yang digagas Direktorat Jenderal (Dirjen) Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI).

Keduanya kompak melakukan penelitian dengan grand judul Internalisasi Nilai Pendidikan Islam, sekalipun lokasi penelitian dilakukan di dua lokasi berbeda. Ach sayyi mengangkat judul Pendidikan Islam Moderat (Studi Internalisasi Pendidikan Islam Moderat), sedangkan Mufiqur Rahman mengangkat judul Internalisasi Nilai Kesetaraan dalam Pendidikan Pesantren.

Sekaligus secara resmi mempresentasikan hasil penelitian mereka melalui Ujian Terbuka Promosi Doktor Pendidikan Agama Islam di UNISMA, Selasa (8/9/2020) lalu. “Berdasar kesimpulan desertasi, kami menemukan model pendidikan Islam moderat berbasis spiriual holistik dan inklusif integratif,” kata Ach Sayyi, Sabtu (12/9/2020).

“Model spiritual holistik adalah proses internalisasi dalam menanamkan dan menyatukan nilai-nilai Islam moderat yang bermuara dari nilai spiritual menuju jiwa peserta didik. Sedangkan model inklusif integratif merupkan proses internalisasi nilai melalui proses pembelajaran yang mengintegrasikan segala aspek nilai, mulai dari nilai nasionalisme hingga relugius berbasis kearifan lokal,” ungkapnya.

Hal senada juga disampaikan Mufiqur Rahman yang menilai kesetaraan pendidikan tidak hanya menjadi diskursus nasional, tetapi juga menjadi tranding topic dunia pendidikan internasional. “Kesetaraan bermakna keadilan dan kesamaan yang secara praktis dilakukan oleh lembaga pendidikan Islam, khususnya pesantren,” kata Mufiqur Rahman.

“Dari hasil penelitian ini, kami menyimpulkan tiga nilai kesetaraan dalam pendidikan Islam, yaitu nilai spiritual, nilai integritas keislaman dan keindonesiaan, serta nilai sosial berdasar kearifan lokal,” sambung dosen muda yang akrab disapa Mufiq.

Dari tiga nilai tersebut, juga tertera nilai kesetaraan dalam budaya pengabdian, demokrasi, kaderisasi, kasih sayang, nilai andhep asor atau ta’dib, nilai kesetaraan dalam konteks gander hingga nilai kesetaraan dalam proses pembelajaran di dalam kelas.

“Model internalisasi nilai dan budaya kesetaraan dalam pendidikan di lembaga pendidikan pesantren, menganut paradigma spiritual humanisme teosentris, yaitu integrasi nilai ketuhanan dan kemanusiaan dalam proses pendidikan pesantren,” tagasnya. [pin/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar