Iklan Banner Sukun
Siapa Dia

Sastrawan Tiarap, Sastra Perlawanan Digantikan Sastra Bonsai

Yoseph Yapi Taum, dosen Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

Jember (beritajatim.com) – Sastrawan Indonesia tidak berani menunjukkan keprihatinannya terhadap korban tragedi 1965 pada masa awal Orde Baru. Tidak muncul sastra perlawanan pada dekade 1970 dan 1980-an.

“Sastrawan kita semuanya tiarap,” kata Yoseph Yapi Taum, dosen Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, dalam acara webinar NGONTRAS#2 (Ngobrol Nasional Metasastra) bertema ‘Politik dalam Sastra’ yang digelar oleh Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI) Komisariat Jember, di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu (18/9/2021).

Padahal, menurut Yapi, Tragedi 1965 adalah fase historis yang paling mengerikan dalam sejarah Indonesia dan memantik keprihatinan masyarakat internasional. Namun ternyata saat itu, para sastrawan belum merdeka. Hanya Ahmad Tohari yang menunjukkan keberpihakan terhadap para korbanm melalui novel Ronggeng Dukuh Paruk.

“Luka-luka di masa lalu harus kita bahas secara jujur, kita nilai secara terbuka, dan kita tentukan sikap kita, sehingga kita bisa maju menjadi bangsa yang benar-benar merdeka. Bukan menjadi bangsa yang kerdil dan selalu ketakutan,” kata Yapi.

Namun yang terjadi justru era 1970-1980 ditandai dengan munculnya karya-karya yang mencerminkan tindakan submisif dan pasrah atau menyerah, seperti Sri Sumarah. Yapi menyebut sastrawan Indonesia menjadi intelektual tradisional yakni mengikuti kemauan penguasa karena merasa diimpit oleh kekuasaan, bukan intelektual organik. Padahal tujuan sastra adalah emansipasi untuk mencapai kesetaraan, baik kesetaraan gender, kesetaraan berpendapat, maupun kesetaraan politik.

“Sastra Indonesia adalah sastra bonsai, karena pengarang banyak mengalami ketakutan-ketakutan ketika hendak mengisahkan persoalan kebangsaan kita, termasuk persoalan politik pada masa Orde Baru,” kata Yapi. Mitos-mitos yang menakutkan menyebabkan karya-karya mereka menjadi sastra bonsai alias sastra yang mengkerdilkan dirinya sendiri.

Padahal, lanjut Yapi, sastra merupakan jalan keempat menuju kebenaran, selain agama, filsafat, dan sains. Itulah kenapa seharusnya sastra dan kritik sastra berpihak. “Berpihak pada kaum marginal, kaum tersubordinasi, dan kaum yang tidak mampu bersuara atau menyampaikan aspirasinya,” katanya. [wir/kun]


Apa Reaksi Anda?

Komentar