Iklan Banner Sukun
Siapa Dia

Reformasi 1998, Nostalgia yang Jangan Terulang

Moch. Eksan

Jember (beritajatim.com) – Moch. Eksan sudah memasuki semester akhir sebagai mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA) pada Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Jember, Jawa Timur, saat gelombang aksi Reformasi Mei 1998 terjadi.

Eksan ingat benar, aktivis mahasiswa intra dan ekstra kampus dari Universitas Jember, STAIN, Universitas Muhamadiyah Jember, Universitas Mochammad Sroedji, IKIP PGRI, STIE Mandala, STIPER Jember, STIA Pembangunan, dan beberapa akademi lainnya turun ke jalan. “Kami berdemonstrasi menentang rezim Soeharto yang baru terpilih kembali periode ketujuh dalam sidang umum MPR pada 10 Maret 1998,” katanya, Kamis (20/5/2021).

Eksan mencatat, Kabupaten Jember tak bisa diremehkan dalam peta gerakan mahasiswa selama masa Orde Baru. Sejumlah ketua organisasi mahasiswa tingkat pusat berasal dari Jember. Sebut saja Kristiya Kartika, Ketua Presidium Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (1986-1992), Ali Masykur Musa, Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (1991-1994), Taufik Hidayat, Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (1995-1997).

“Posisi puncak aktivis mahasiswa ekstra kampus tersebut harus dibaca sebagai mata rantai gerakan reformasi mahasiswa. Keberadaan Bung Kristiya, Cak Ali dan Bang Taufik di panggung nasional bisa dibaca sebagai representasi mahasiswa Jember yang berperan serta sebagai “mentor” gerakan reformasi mahasiswa,” kata Eksan yang sekarang menjadi pengurus Partai Nasdem Jawa Timur.

Mahasiswa angkatan 1998 di berbagai daerah turun ke jalan menuntut agenda reformasi, antara lain: mengadili Soeharto dan kroni-kroninya, melaksanakan amandemen UUD 1945, menghapus dwifungsi ABRI, melaksanakan otonomi daerah seluas-luasnya, menegakkan supremasi hukum, dan menciptakan pemerintahan yang bersih dari korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).

“Saya dan mahasiswa 1998 bukan sekadar saksi peristiwa, tapi saksi pelaku dari sejarah reformasi Indonesia. Jember dapat menikmati otonomi daerah, tentu dengan kelebihan dan kekurangannya, ada investasi moral force mahasiswa,” kata Eksan.

Eksan menegaskan, semua harus menyadari, Era Reformasi ini dibayar dengan darah mahasiswa sebagai inti kekuatan pemuda. “Sejarah kelam tak ubahnya dengan peristiwa transisi dari Orde Lama ke Orde Baru. Cukup sudah peristiwa 1966 dan 1998 menjadi sejarah kelam. Proses perubahan besar tak boleh lagi mengulangi hal yang sama. Darah anak bangsa jangan sampai menjadi martir perubahan,” katanya.

Nostalgia Reformasi 1998 jangan terulang. “Jalan demokrasi menjamin sirkulasi elite penguasa tanpa kekerasan. Ini modal besar dari democratic civility yang akan mengantarkan Indonesia raya pada cita-cita proklamasi,” kata Eksan. [wir/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar