Siapa Dia

Rafi, Pendaki Cilik Bernyali Besar

Fadil Burhan Rafi, saat berada di puncak Gunung Pundak yang berketinggian 1.585 mdpl

Namanya Fadil Burhan Rafi, umurnya tujuh tahun. Saat bocah seusianya sibuk bermain gadget, Rafi justru melakukan hobi yang cukup menantang, yakni mendaki gunung. Pendakian terakhir dilakukannya pada Jumat (25/9/2020) bersama kedua orangtuanya di Gunung Pundak yang memiliki ketinggian 1.585 mdpl (meter di atas permukaan laut).

Rafi sukses menaklukkan gunung yang berada di Pacet, Mojokerto itu setelah melakukan perjalanan kurang lebih 2,5 jam. Tak ada gambaran capek di wajahnya. Nafasnya juga masih teratur. Namun setelah sampai di puncak bocah kelahiran 22 Januari 2013 ini langsung tertidur di tenda. “Sudah empat kali naik ke Gunung Pundak,” kata Rafi sembari mengangkat empat jari.

Hobi naik gunung bocah kelas 2 MI Miftahul Huda, Desa/Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto ini dimulai sejak umur lima tahun. Semua itu tidak datang secara tiba-tiba. Namun mewarisi hobi dari kedua orangtuanya. Ibarat peribahasa ‘buah jatuh tak jauh dari pohonnya’.

Selain Gunung Pundak, ada sejumlah gunung di kawasan Mojokerto yang sudah ditaklukkan oleh Rafi. Ketinggiannya antara 1000 hingga 1.500 mdpl. Layaknya seorang pendaki, saat naik gunung, anak kedua dari pasangan Ahmad Basuni dan Siti Ghoniyatul Marchumah ini juga membawa peralatan.

Baju motif kotak-kotak membalut tubuhnya. Kemudian di punggungnya bertengger tas ransel berukuran mini. Sedangkan di kakinya terpasang sandal gunung lengkap dengan kaus kaki. Untuk penopang saat perjalanan, Rafi juga membawa tongkat pendaki berbahan aluminium.

Rafi bersama kedua orangtuanya saat berada di Puncak Gunung Pundak, Sabtu (26/9/2020). [Foto/Yusuf Wibisono]
Sabtu (26/9/2020) sekitar pukul 08.00 WIB, Rafi bersama kedua orangtunya turun dari Gunung Pundak. Ketika menuruni jalanan setapak yang cukup curam, Rafi justru berada di barisan depan. Tidak jarang, dia turun dengan cara prusutan layaknya anak TK yang sedang bermain. Duduk di atas tanah dengan kemiringan 45 derajat, kemudian meluncur deras ke bawah.

Orangtua Rafi, Ahmad Basuni mengatakan bahwa kegemaraan anaknya naik gunung itu datang dengan sendirinya. Artinya, baik Basuni maupun istrinya tidak pernah memaksa Rafi untuk ikut naik gunung. “Malah kalau saya berangkat (naik gunung) sendiri, dia ngeyel (memaksa) untuk ikut. Sebagai orangtua, kita selalu mendukung hobi positif anak,” kata warga Desa/Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto ini. [suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar