Iklan Banner Sukun
Siapa Dia

Prof Viskasari Jadi Gubes Neuroanatomi dan Neurosains Perempuan Pertama di Indonesia

Dosen FK UNAIR, Prof. Viskasari Pintoko Kalanjati, dr., M.Kes., PA(K), Ph.D

Surabaya (beritajatim.com) – Neuroanatomi dan Neurosains merupakan bidang di dunia kedokteran yang jarang diambil di Indonesia. Namun, Dosen FK UNAIR, Prof. Viskasari Pintoko Kalanjati, dr., M.Kes., PA(K), Ph.D berhasil jadi guru besar neuro anatomy dan neurosains perempuan pertama di Indonesia.

Profesor viskasari menjadi satu diantara 30 guru besar neuro anatomy dan neurosains aktif di Indonesia. Luar biasanya, hanya dia yang perempuan.

Hal ini diakui oleh dr. Ahmad Aulia Jusuf, Ph.D, dari Perhimpunan Ahli Anatomi dan Histologi Indonesia (PAAI).

“Di Indonesia ahli anatomi hanya sekitar 300 an. Dan guru besar yang aktif hanya 25 an, termasuk salah satunya Prof Viska,” terangnya.

Prof Viska di matanya adalah seorang dokter yang aktif dan energik. Ia menjembatani kerjasama Prodi Anatomi, Histologi dan Farmakologi FK UNAIR dengan PAAI sehingga lahir Majalah Biomorfologi di mana dia sebagai kepala editor.

“Harapan saya, Prof Viska bisa membumikan anatomi yang sampai sekarang masih dikenal menakutkan dan sulit. Membuat anatomi semakin dikenal secara luas,” tukas Ketua Departemen Histologi FK UI ini.

Menggemari Ilmu Anatomi

Seperti yang disebut diatas, bagi sebagian besar dokter, ilmu anatomi dikenal sebagai ilmu yang menakutkan. Namun sebaliknya, di mata Prof Viska anatomi adalah subjek yang menyenangkan.

“Ilmu anatomi ini seakan kita ditantang untuk melihat secara 3D. Antara struktur tubuh, unsur dari sekitar dan sangat terkait fungsi tubuh. Bagaimana kita mempelajari abnormalitas pada struktur tertentu, bagi saya, ini kajian yang sangat menarik,” terangnya.

Dorongan mendalami ilmu anatomi ini, bermula pada Tahun 2005 lalu, di mana saat itu FK UNAIR hanya memiliki satu dosen di bidang anatomi, yakni Almarhum Dokter Abdul Khamid.

Motivasinya semakin kuat karena saat itu publikasi mengenai ilmu dasar dan biomolekuler nyaris belum ada. Kebanyakan masih berfokus pada peneliitian klinis.

Karenanya, ibu dua anak ini mengambil studi Ph.D di The University of Queensland, Australia. Di sana ia mengambil studi tentang neuroanatomi.

Penyemangat Sembuh untuk Orang Tua

Profesor yang Maret nanti genap berusia 46 tahun ini tak pernah menyangka akan menjadi guru besar. Yang ia sadari, ia adalah seorang yang sejak kecil suka mengajar.

“Tapi untuk sampai ke titik ini, saya tidak pernah membayangkan. Dan saya hanya bisa mengatakan bahwa ini adalah kuasa Allah dan doa orang tua,” terang istri dari A. Raihan, S.Pt, S.H., M.H.

Posisinya saat ini, lanjut Dokter Viska juga tak lepas dari dorongan Dekan FK UNAIR, Prof. Dr. Budi Santoso, dr., Sp.OG(K).

“Saya mempersiapkan ini sejak Tahun 2020 dengan segala macam tantangannya. Di mana setiap beberapa bulan berganti-ganti persyaratannya,” terangnya.

Namun proses panjang tersebut tak mematahkan langkah Prof Viska untuk maju mencapai puncak tertinggi sebagai profesi guru. Ini tak lepas dari orang tuanya.

“Kebetulan orang tua saya sakit. Maka saya fight bagaimana bisa mencapai ke gelar ini sehingga orang tua saya juga berjuang untuk sembuh untuk menyaksikan saya dikukuhkan,,” kisahnya.

Ada kisah lucu di sini, Guru besar yang dilantik bersama Prof Viska hari ini, Prof. Dr. Ugroseno adalah dokter dari ibunda Prof Viska.

“Jadi ibu saya tahu kalau saya mau dilantik jadi profesor itu malah dikabari Prof Ugro. Orang tua saya kaget dan tidak menyangka gelar ini bisa saya dapatkan secepat ini,” ceritanya seraya tertawa. (ted)


Apa Reaksi Anda?

Komentar