Siapa Dia

Pemain Persebaya Curhat dalam Diskusi Online Bonek Writer Forum

Oktavianus Fernando Pemain Persebaya

Jember (beritajatim.com) – Pemain Persebaya Surabaya, Oktafianus Fernando, bergabung dalam diskusi dalam jaringan internet (online) yang digelar Bonek Writer Forum, Sabtu (9/5/2020). Ia mencurahkan isi hati dan menceritakan pengalamannya menghadapi pandemi Covid-19.

Pandemi membuat kompetisi resmi dihentikan. Vakumnya kompetisi resmi ini sebenarnya bukan pertama kali dirasakan Opan, sapaan akrabnya. Tahun 2015, kompetisi resmi PSSI dihentikan pemerintah. Saat itu, Opan masih belum bergabung dengan Persebaya.

Namun kendati tak ada kompetisi resmi, Opan masih bisa bermain dalam pertandingan tarkam (antarkampung) setelah diajak salah seorang pemain senior. “Seminggu saya main empat sampai lima kali pertandingan. Pemain Liga 1 atau Liga 2 bisa dibayar Rp 700-800 ribu sekali main,” katanya.

Ini berbeda dengan situasi saat ini. Pandemi Covid-19 praktis membuat Opan berhenti sama sekali dalam urusan sepak bola. Dia tidak bisa bermain dalam pertandingan apapun, termasuk kelas sepak bola amatir tarkam. Ini membuatnya jenuh. “Rasa jenuh dan bosan pasti, karena pemain sepak bola kan kerjanya sehari-hari ya bermain sepak bola, latihan di lapangan. Kalau seperti ini kan tidak bisa berlatih di lapangan,” katanya.

Menjaga kebugaran, Opan hanya berlatih sendiri di gim atau di rumah. Membunuh kebosanan, dia pun menghabiskan waktu untuk membantu istrinya berbisnis kuliner. “Saya bantu promosi,” katanya.

Sebagai pemain sepak bola, Opan memahami benar apa yang disebut usia emas. Dia tidak bisa selamanya bermain di lapangan hijau. “Usia produktif saya 30-35 tahun,” katanya.

Sang ayah yang juga mantan pemain sepak bola menasihati Opan agar tak mudah menghabiskan uang yang diperoleh dari keringat di lapangan. “Jangan foya-foya. Kamu tidak tahu karir sepakbolamu seperti apa. Kita harus pintar-pintar. Di situ saya belajar, bagaimana caranya, punya uang saya tabung dan investasikan,” katanya.

Kemampuan mengelola keuangan dibutuhkan untuk menghadapi situasi yang tak bisa diperkirakan, seperti pembekuan kompetisi saat ini karena epidemi virus. “Saya juga berpikir, tabungan kalau terus dipakai otomatis akan habis. Oleh sebab itu, dari istri juga ada masukan: kenapa tidak buka usaha saja. Toh aku bisa mempromosikan (produk istri). Caranya harus ada terobosan baru, dan tidak mengandalkan tabungan, karena saya bukan karyawan,” kata Opan. [wir/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar