Siapa Dia

Kisah Achmat Atem

Niat Ingin Menolong Korban, Tenaga Harian Lepas DLH Kabupaten Mojokerto Ini Jadi Ketagihan

THL DLH Kabupaten Mojokerto, Achmat Atem saat melakukan aktivitas menyiram taman di Jalan RA Basoeni Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.

Mojokerto (beritajatim.com) – Meski saat itu hanya mengendarai sepeda angin, Achmat Atem (25) ingin segera sampai lokasi kejadian dan menolong korban. Warga Desa Sambiroto, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto ini merupakan salah satu relawan di Kabupaten Mojokerto. Ia selalu terlihat di setiap kejadian di wilayah Mojokerto.

Ia bergabung dengan Tim Pemakaman Pasien Covid-19 Kabupaten Mojokerto. Kurang lebih 70 pemakaman sudah ia lakoni sejak pandemi Covid-19 melanda, bulan Maret lalu. Sementara pekerjaannya yakni menjadi Tenaga Harian Lepas (THL) di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Mojokerto.

Setiap hari, ia bersama rekan-rekannya bertugas merawat taman yang ada di Jalan RA Basoeni Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. Meski begitu, ia sudah mendapatkan izin dari mandor yang mengawasi pekerjaannya saat ada kejadian seperti kecelakaan, penemuan mayat atau pemakaman jenazah Covid-19.

“Awalnya saya relawan sekitar tahun 2017. Berawal saat ada kecelakaan di desa saya sendiri, sekitar pukul 01.00 WIB. Saat itu puasa, saya dapat kabar dari teman kalau ada kecelakaan, saat itu masih pakai sepeda angin. Saya mengayun sepeda sekitar 1 KM lebih,” kenangnya, Kamis (19/11/2020).

Saat itu, lanjut Aden (panggilan akrab, red), niat ingin menolong. Meski sampai di lokasi kejadian sudah ada petugas, namun ia tetap ikut menolong korban. Meski belum kenal petugas, namun petugas menyambut baik dan menyarankan agar memakai sarung tangan saat membantu evakuasi korban.

“Saya ikut bantu sampai ke rumah sakit. Saat itu, korban tidak bawa identitas kemudian saya posting di media sosial dan alhamdulillah ketemu keluarganya. Korban orang Mojoagung. Setelah itu pingin ikut terus, tiap ada kejadian seperti kecelakaan, penemuan mayat. Pokok yang ada korbannya,” katanya.

Hingga akhirnya bisa membantu evakuasi korban, lanjut Aden, ia dibantu relawan Achmad Jainuri (Jaenal) dan Kepala Seksi Penanggulangan Bencana Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Mojokerto, Didik Soedarsono. Ia mengaku paling tidak tega saat korbannya seorang anak kecil.

“Paling tidak tega kalau anak kecil jadi korban tapi tetap ikut evakuasi. Kalau ada penemuan mayat tidak ada identitasnya, saya selalu ingat terus sehingga jika ada penemuan mayat tanpa identitas saya selalu posting di medsos dengan harapan bisa ketemu keluarganya. Dulu tidak ikut organisasi relawan manapun, mandiri,” ujarnya.

Namun karena tidak ada kendaraan, ia hanya punya sepeda angin sehingga saat ikut evakuasi korban ia selalu bareng salah satu relawan. Apalagi jika harus evakuasi korban di luar kota dengan jarak yang lumayan jauh. Hingga akhirnya ia mendapatkan hadian undian di salah satu stasiun televisi berupa sepeda motor pada 2019 lalu.

“Mandiri, kalau ada kabar atau tahu ikut evakuasi dengan Pak Zaenal karena harus goncengan jika TKP luar kota. Tapi kalau dalam kota, pakai sepeda angin tetap berangkat biar pun biarpun telat. Pernah saya memberhentikan kendaraan dan minta didorong agar cepat sampai lokasi,” tuturnya.

Aden menceritakan, ia ingat saat ada kejadian pembunuhan istri Kepala Desa (Kades) di Gresik dengan lokasi penemuan jenazahnya di Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto. Saat itu, ia masih punya sepeda angin. Untuk menuju ke lokasi, ia bareng salah satu wartawan di Mojokerto.

“Saya bareng Mas Hasyim, sepeda saya titipkan di rumah orang di sebelah rel kereta api. Saya malah di foto, karena tidak percaya. Yang saya ingat lagi, pas ada kecelakaan di Mirip, Kecamatan Jetis. Saat itu sakit gigi, sudah tidak tahu bagaimana rasanya harus mengayun sepeda angin dengan gigi sakit,” urainya.

Jantungnya selalu berdetak keras saat mengetahui atau mendengar kabar ada korban, namun saat ia sudah sampai lokasi, detak jantungnya stabil. Dari pengalamannya tersebut, akhirnya ia mendirikan Relawan Punokawan Mojopahit atau lebih tepatnya saat ia sudah memiliki sepeda motor.

“Relawan banyak di Mojokerto tapi kalau ada kejadian kecelakaan hanya itu-itu saja baru kalau banjir banyak yang datang. Sehingga saya membentuk Relawan Punokawan Mojopahit dengan harapan agar bisa memberikan wadah relawan di Mojokerto,” ceritanya.

Terkait keterlibatannya dalam Tim Pemakaman Pasien Covid-19 Kabupaten Mojokerto, Aden menceritakan, jika sebelumnya ia ingin bergabung dengan tim Kota Mojokerto. Pasalnya, saat pandemi Covid-19 melanda Maret lalu, Kota Mojokerto yang membentuk tim.

“Awalnya pingin ikut Kota (Kota Mojokerto, red) karena awal adanya si Kota Mojokerto. Tapi tidak bisa karena harus KTP Kota, akhirnya di grup Relawan Punokawan dan menggandeng PMI Kabupaten Mojokerto berharap ada tim pemakaman di Kabupaten Mojokerto. Takut ya takut karena virus tidak terlihat tapi semua karena hati,” urainya.

Menurutnya, keluarga mengingatkan agar tidak ikut langsung dalam penanganan pasien agar tidak membawa virus saat pulang usai evakuasi. Ia pun terpaksa berbohong kepada keluarganya, karena ia tetap terjun dalam pemulasaran jenazah sehingga ia bersentuhan langsung dengan jenazah saat tidak ada petugas.

“Ya saya bohong, saya bilang tidak ikut pemulasaran tapi sebenarnya ikut. Apalagi saat di rumah sakit tidak ada petugas, kita harus terjun langsung mulai dari pemulasaran sampai pemakaman. Keluarga takut saya pulang bawa virus, makanya selesai sampai rumah langsung bersih-bersih” tuturnya.

Mulai dari pakaian yang digunakan, ia rendam dan mandi sebelum bertemu keluarganya. Mulai bulan Maret hingga Oktober lalu, sudah ada sekitar 70 pemakaman pasien Covid-19 yang sudah ia tanggani bersama tim Kabupaten Mojokerto. Dengan aktivitasnya di relawan, mandor, teman hingga orang sekitar di lokasinya bekerjanya pun paham.

“Izin ke mandor jika ada kejadian, bahkan orang carteran pick up (tempat ia memarkir sepeda motor, red) selalu tahu kalau ada kejadian sehingga menyiapkan kendaraan dan helm saya. Pas ramai Covid-19, sampai tujuh pemakaman dalam satu hari. Ya saya tinggal pekerjaan saya, saya izin,” tegasnya.

Semua lantaran keinginannya untuk membantu sesama. Apalagi pekerjaannya yang saat ini dilakoni setelah ia terjun menjadi relawan. Yakni menjadi THL di DLH Kabupaten Mojokerto. Setiap hari, ia bertugas merawat taman di Jalan RA Basoeni Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.

“Kerjanya setengah hari, mulai Senin sampai Sabtu. Mulai menyapu, membersihkan rumput dan menyiram. Dulu ada yang nawari, ‘Mau nggak bersih-bersih Jalan?’. Ya saya mau, karena dekat rumah karena sebelumnya saya juga sempat kerja di minimarket di daerah Rungkut, Kota Surabaya,” paparnya.

Aden pun menceritakan, saat ia mendapatkan pekerjaan di sebuah minimarket di Kecamatan Rungkut, Kota Surabaya. Tidak ada saudara atau pun teman, iapun memberanikan diri meminta bantuan orang lain untuk tinggal beberapa hari sebelum akhirnya mendapatkan tempat kos.

“Awal kerja di Surabaya itu, saya minta tolong orang menginap di tempat kosnya. Saya seach di medis sosial orang yang tinggal di sekitar tempat saya bekerja, saya bertemu orang Tulungagung. Jaman masih BBM, saya minta tolong untuk tinggal beberapa hari karena baru diterima kerja, orangnya memperbolehkan,”

Dengan masih mengendarai sepeda angin, dari rumahnya di Desa Sambiroto, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto ia ke Kecamatan Rungkut, Kota Surabaya. Selama satu minggu ia tinggal bersama orang yang memberinya tumpangan. Ia bekerja di minimarket tersebut sekitar setengah tahun sebelumnya akhirnya kembali ke Mojokerto.

“Saya kerja di sana setengah tahun terus kembali ke Mojokerto. Saya ditawari kerja di counter HP dan baru kemudian ada yang menawari saya kerja di sini sebagai Tenaga Harian Lepas di Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Mojokerto pertengahan tahun 2017 lalu hingga sekarang. Alhamdulillah, bisa kerja dan relawan juga jalan,” pungkasnya. [tin/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar