Siapa Dia

M. Z Kajubi, Komandan Banser Pertama Asal Ponorogo

Ketua GP Ansor Syamaul Ma'arif dan Komandan Banser Ponorogo Sudarsono saat melakukan ziarah ke makam Komandan Banser pertama Muhammad Zain Kajubi. (Foto/Endra Dwiono)

Ponorogo (beritajatim.com) – Matahari mulai meninggi pagi itu, Ketua GP Ansor dan Komandan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Ponorogo menuju tempat pemakaman umum (TPU) di Kelurahan Taman Arum Kecamatan/Kabupaten Ponorogo. Di bulan Ramadan ini, mereka sengaja melakukan ziarah kubur ke salah satu makam yang ada di TPU tersebut. Mereka duduk sambil berdoa di depan makam yang ditandai dengan prasasti di utara batu nisannya itu.

“Kami sebagai kader Ansor sebagaimana tradisi di NU, berziarah dan bertawasul ke pendahulu yakni almarhum Muhammad Zein Kajubi,” kata Ketua GP Ansor Ponorogo Syamsul Ma’arif, Selasa (4/5/2021).

Syamsul menyebut Muhammad Zein Kajubi merupakan salah satu pendiri dan menjadi komandan nasional Banser pertama saat awal-awal berdiri pada masa awal-awal kemerdekaan Indonesia. Sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan dari kader muda Ansor, dilakukan pemasangan prasasti di nisan almarhum.

“Makam almarhum M. Z Kajubi ini juga sering diziarahi oleh sahabat Banser, khususnya di wilayah Jawa Timur,” katanya.

Foto Muhammad Zein Kajubi(foto/Endra Dwiono)

Sementara itu menurut Komandan Banser Ponorogo Sudarsono mengungkapkan M. Z Kajubi berasal dari Ponorogo, tepatnya lahir di Desa Pengkol Kecamatan Kauman pada tanggal 1 Januari 1926. Dulu, waktu remaja, M. Z Kajubi pernah mondok di salah satu pondok pesantren di Kabupaten Nganjuk. Setelah itu beliau bekerja di Departemen Agama (Depag) di Blitar. Dia juga ikut daftar ke dalam Barisan Hizbullah untuk melawan penjajah dan dipimpin langsung oleh Hadratusyaikh Hasyim Asy’ari.

“Teman M. Z Kajubi dari Ponorogo di Barisan Hizbullah ada yang masih hidup, yakni mbah Sukri, yang alamatnya di Desa Carangrejo Kecamatan Sampung. Beliau saat ini berusia 102 tahun,” katanya.

Krisdianto dan kawan-kawan (2021) di dalam buku yang berjudul Jejak Sejarah NU Ponorogo menulis tercetusnya Banser ini, berawal dari terjadinya aksi sepihak di Blitar oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). Aksi tersebut mendapatkan perlawanan dari GP Ansor Blitar. Anggota PKI dan anggota Ansor terlibat tawuran massal di desa-desa. Karena situasi yang semakin genting, GP Ansor Blitar mengadakan rapat yang salah satunya dihadiri oleh M. Z Kajubi. Dalam pertemuan itulah diputuskan untuk membentuk suatu kesatuan paramiliter yang dikenal sekarang dengan istilah Banser.

“Muhammad Zainuddin Kajubi (M.Z Kajubi) yang punya ide mendirikan satuan paramiliter yang dulu bernama Panser (Pasukan Ansor Serbaguna),” kata Krisdianto.

Gagasan pembentukan Banser ini, kemudian juga diikuti oleh berbagai daerah sekitar Blitar, seperti Kediri dan Malang. Gagasan itu diterima oleh pengurus besar Ansor di Jakarta. Pada 24 April 1964, dalam peringatan Harlah GP Ansor, KH. Idham Chalid, Ketua PBNU melantik Banser Blitar dalam suatu apel.

“Salah satu tokoh berpengaruh dalam berdirinya Banser adalah Muhammad Zein Kajubi yang ternyata adalah salah satu putra terbaik yang pernah dimiliki Ponorogo,” ungkap Krisdianto.

Wartawan beritajatim.com menemui istri dari almarhum M. Z Kajubi yang hingga kini masih hidup, yakni Siti Qomariyah di rumahnya di Kelurahan Kauman utara Masjid Agung RMAA Cokronegoro. Siti Qomariyah bercerita bahwa suaminya sejak muda sangat hobi berorganisasi. Sebagai komandan Banser pertama, M. Z Kajubi memiliki sikap yang keras dan tegas, namun memiliki hati yang lembut. Kepada anak dan istrinya, beliau sangat menekankan pendidikan yang baik untuk anak-anaknya.

“Soal pendidikan, beliau selalu mengarahkan anak-anaknya, dan mereka mengikuti yang yang diarahkan bapaknya,” kata Siti Qomariyah yang saat ini berusia 79 tahun.

Tak jarang, saat memerangi pemberontakan PKI, M. Z Kajubi kata Siti Qomariyah kebanyakan diluar dari pada di rumah bersama keluarganya. Hal itu dimaklumi oleh Siti Qomariyah, melihat dari dulu beliau memang suka berorganisasi sejak masa mudanya.

“Kekhawatiran itu selalalu ada, namun keluarga berusaha ikhlas, karena bapak juga berjuang untuk orang banyak dan bangsa Indonesia,” pungkas Siti Qomariyah.

Atas prestasinya merintis dan membentuk Banser, pada tahun 1967 Muhammad Zein Kajubi mendapatkan penghargaan Bintang Satya Lencana, dari Pimpinan Pusat GP Ansor. Penghargaan ini hanya dikhususkan untuk beliau, sang Jendral Banser yang telah banyak berkorban untuk bangsa dan negara, khususnya Banser itu sendiri. [end/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar