Iklan Banner Sukun
Siapa Dia

Kisah Rebutan Bantal antara Bupati dan Kepala Kemenag Lumajang

Thoriqul Haq (kiri) dan Muhammas Muslim. [foto: dokumentasi Facebook Muslim]

Ponsel Muhammad Muslim berdering. Dari Bupati Lumajang Thoriqul Haq. “Kira-kira kamu di mana? Ini saya mau kirim karangan bunga. Pokok kamu di Lumajang,” kata Thoriqul.

Pagi itu, 2 Agustus 2021, Muslim memang tengah bersiap dilantik di Surabaya secara daring menjadi Kepala Kantor Kementerian Agama. Dia belum bisa memastikan akan ditempatkan di mana. Selentingan beredar: Lumajang akan menjadi tempat tugasnya yang baru, setelah sekian lama bertugas di kota tetangga, Kabupaten Jember, Jawa Timur.

“Belum. Pak Sekjen yang akan melantik di Jakarta masih bersama Wakil Presiden,” kata Muslim. Pelantikan molor dua jam dari jadwal.

Pukul dua belas, pelantikan berjalan. “Alhamdulillah saya di Lumajang,” Muslim mengirimkan pesan WhatsApp ke Thoriqul.

Pemerintah Kabupaten Lumajang menjadi instansi pertama yang mengirimkan karangan bunga ke kantor Kemenag Lumajang atas nama bupati dan wakil bupati. Tak cukup karangan bunga. Tanggal 5 Agustus, Thoriqul bersama beberapa kepala organisasi perangkat daerah mengunjungi ruang kerja Muslim.

“Ini apa yang bisa dibantu? Saya sudah bersama Kepala OPD,” kata Thoriqul.

“Wah, kebetulan. Air PDAM di sini kurang lancar,” kata Muslim. Besok petugas PDAM datang dan langsung membenahi persoalan saluran air di sana.

Pekan berikutnya, Ketua DPRD Lumajang Anang Achmad Syaifuddin berkunjung ke kantor Muslim. Pegawai Kantor Kemenag Lumajang heran dengan kedatangan dua orang nomor satu eksekutif dan legislatif itu. “Baru sekarang Bupati dan Ketua DPRD datang ke ruang kerja Kepala Kantor Kementerian Agama,” katanya.

Pegawai itu tidak tahu, Muslim punya sejarah panjang dengan dua tokoh tersebut. Sebelum menjadi Ketua DPRD Lumajang dan saat masih menjadi aktivis Gerakan Pemuda Ansor, Anang sering diajak Thoriqul bertemu dan berdiskusi dengan Muslim.

Thoriqul dan Muslim bersahabat karib sejak kuliah di Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Thoriqul adalah mahasiswa Fakultas Adab, Muslim adalah mahasiswa Fakultas Syariah, dan sama-sama angkatan 1995. Mereka aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia.

Medio 1999, Thoriqul terplih menjadi Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa IAIN Surabaya dan Muslim menjadi sekondannya. “Thoriq semula tidak mau. Dia akhirnya mau setelah mengajukan persyaratan semua teman mendukung dan posisi personalia ditentukannya. Jika ada yang mundur setelah ditunjuk, maka semua mundur dari jabatan,” kata Muslim.

Thoriqul mulus terpilih menjadi Presiden BEM. Ia sempat menampik salah satu orang yang disarankan Muslim menjadi sekretaris. Alasannya sepele: badan orang itu terlalu tinggi melebihi Thoriqul. “Tidak enak kalau berjalan sama saya,” katanya.

Muslim dan Thoriqul menjalani hari-hari khas aktivis mahasiswa. Tidur satu ruangan di sekretariat BEM dan berebut bantal. Ini hanya bantal yang sudah Kumal dan penuh dengan peta tetesan air liur. “Entah bantal itu sudah berapa lama ada di ruangan BEM,” kata Muslim.

Namun bantal itu menjanjikan tidur lelap. “Kalau Thoriq tidur, terus kepalanya sudah berpindah dari bantal, giliran saya ambil bantalnya. Begitu juga sebaliknya,” kata Muslim tertawa.

Kipas angin adalah objek perebutan berikutnya, karena hanya itu yang bisa menyelamatkan dari gigitan nyamuk. “Nyamuk Surabaya ini banyak sekali. Angkatan darat semua, bukan angkatan udara. Kipas angin ini kan tidak bisa berotasi arah. Hanya stagnan satu arah. Kalau pas kipas angin menghadap arah dia, enak Thoriq tidur tanpa kena gigitan nyamuk,” kata Muslim.

Muslim ingin tidur nyenyak juga. Maka kipas kemudian dipindahkan agar angin berembus ke aeahnya. Namun ini tidak bertahan lama. Jika Thoriqul bangun, arah kipas bisa berpindah kembali sesuai dengan yang menghendaki.

Mudah menerka keduanya sedang krisis isi dompet untuk makan. “Kalau tidur sampai siang itu berarti tidak punya uang,” kata Muslim.

Jika sudah begitu, Thoriqul selalu punya akal Abunawas. “Ayo rapat BEM saja. Panggil bendahara,” katanya.

“Lho kok rapat?” tanya Muslim saat itu.

“Lah kalau rapat kan kita bisa beli konsumsi,” kata Thoriqul.

Mereka beruntung, mahasiswi yang menjadi bendahara BEM ini adalah aktivis dermawan dan kaya-raya. “Dia sering tekor. Anggaran rapat kadang sudah habis, tapi dia tetap membiayai rapat-rapat dan mengeluarkan konsumsi,” kata Muslim.

Setelah lulus, dua sahabat itu berpisah jalan. Muslim menjadi wartawan dan Thoriqul aktif di Partai Kebangkitan Bangsa. Pindah dari Madura ke Jember, Muslim kemudian menjadi aparatur sipil negara di Kantor Kemenag Jember.

Pemilihan kepala daerah 2018 membawa Thoriqul menjadi bupati termuda di Lumajang. Usianya baru 41 tahun saat terpilih. Takdir mempertemukan kembali dua sahabat itu di kota kelahiran Thoriqul. [wir/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar